Kita sering mengajarkan anak-anak untuk waspada pada orang asing. Padahal, bahaya justru sering datang dari orang yang terlihat paling peduli.
Mubadalah.id – Dalam buku Broken Strings, Aurelie Moeremans membuka luka lama tentang pengalaman masa remajanya. Ini jelas tidak mudah. Ia berusia 15 tahun ketika menjalin relasi dengan seorang pria dewasa yang ia samarkan sebagai Bobby. Hubungan itu tidak ia mulai dengan kekerasan, melainkan dengan perhatian. Dan di situlah persoalan bermula.
Sebagai guru, bagian ini selalu membuat dada saya sesak. Murid-murid saya juga sedang menginjak usia remaja, usia di mana rasa ingin diterima jauh lebih besar daripada kemampuan membaca bahaya.
Mereka datang ke sekolah membawa cerita yang tidak selalu selesai di rumah. Ada yang tumbuh dengan kehadiran ayah yang hangat dan aman, tetapi tidak sedikit pula yang tumbuh dengan figur ayah yang jauh, baik secara fisik maupun emosional.
Di ruang kelas, saya sering melihat bagaimana kebutuhan akan perhatian itu bekerja. Remaja yang cepat merasa terpilih, ketika ada orang dewasa yang mendengarkan lebih lama, memuji lebih sering, atau menawarkan rasa aman yang tidak ia dapatkan di rumah. Di titik inilah kekhawatiran saya sebagai guru muncul. Karena pelaku grooming sangat paham celah ini.
Ketika Perhatian Terasa Seperti Penyelamatan
Dalam Broken Strings, tokoh Bobby tergambarkan sebagai pelaku kekerasan yang tidak pernah datang dengan wajah mengancam. Ia hadir sebagai sosok yang tampak mengerti. Memberi pujian, menyediakan waktu, dan menawarkan rasa aman.
Bagi remaja yang sedang mencari pengakuan, perhatian semacam ini terasa seperti cinta. Padahal, yang sedang berlangsung adalah child grooming. Proses manipulasi psikologis yang orang dewasa lakukan untuk menguasai anak atau remaja secara emosional.
Grooming tidak bekerja dengan paksaan. Ia bekerja dengan kedekatan, dan justru karena itu, ia sulit terkenali.
Di usia remaja, ditunggu saat syuting bisa terasa seperti disayang. Terawasi bisa dianggap terlindungi. Apalagi ketika pengawasan itu terbungkus kalimat-kalimat manis. Aku khawatir, aku cuma mau memastikan kamu aman, aku nggak percaya orang lain. Tanpa tersadari, batas antara perhatian dan kontrol menjadi kabur.
Di sinilah grooming bekerja paling efektif. Pelaku mengubah makna. Pengawasan ia sebut cinta. Kecemburuan ia sebut kepedulian. Pembatasan ia sebut perlindungan. Sedikit demi sedikit, korban belajar menerima bahwa hidupnya memang pantas diatur demi kebaikannya sendiri.
Korban tidak langsung sadar bahwa dia sedang termanipulasi, karena yang ditawarkan adalah rasa terpilih, dimengerti, dan dibutuhkan. Rasa-rasa yang sangat menggoda bagi remaja yang sedang membangun identitas dan kepercayaan diri. Terlebih ketika perhatian itu datang dari orang dewasa yang terlihat lebih mapan, lebih tahu arah hidup, dan seolah siap menjadi penopang emosional.
Mengapa Korban Sering Tidak Sadar?
Dalam banyak kasus, termasuk yang Aurelie gambarkan dalam Broken Strings, korban tidak mengalami kekerasan secara tiba-tiba. Tidak ada satu peristiwa tunggal yang langsung bisa kita beri label jahat. Yang ada adalah proses perlahan, halus, dan konsisten, hingga korban berada dalam relasi yang timpang tanpa pernah merasa terpaksa.
Secara psikologis, hal ini dapat kita jelaskan melalui teori perkembangan remaja. Remaja masih berada pada fase pencarian identitas, pengakuan, dan validasi emosional. Sementara itu, otak bagian pengambilan keputusan dan penilaian risiko, khususnya prefrontal cortex belum berkembang sepenuhnya.
Di sisi lain, pelaku grooming adalah orang dewasa yang sudah matang secara kognitif dan sosial. Ketimpangan ini membuat relasi sejak awal tidak setara, meski tampak suka sama suka.
Pelaku memanfaatkan kondisi ini dengan sadar. Mereka membaca kerentanan korban seperti kebutuhan akan perhatian, rasa ingin dimengerti, atau kekosongan relasi aman di rumah.
Dalam teori attachment (kelekatan), anak atau remaja dengan kelekatan tidak aman cenderung lebih mudah mengikatkan diri pada figur yang memberi perhatian intens, meski relasi tersebut menyakitkan. Perhatian yang datang tiba-tiba terasa seperti penyelamatan, bukan ancaman.
Grooming Bekerja Melalui Normalisasi Bertahap
Selain itu, grooming bekerja melalui normalisasi bertahap (gradual desensitization). Batas-batas pribadi tidak terlanggar sekaligus, tetapi teruji sedikit demi sedikit. Apa yang awalnya terasa janggal, lama-kelamaan dianggap biasa. Dalam psikologi sosial, ini kita kenal sebagai efek slippery slope. Ketika satu pelanggaran kecil kita terima, pelanggaran berikutnya terasa tidak terlalu ekstrem.
Ada pula mekanisme cognitive dissonance ketegangan batin ketika seseorang mengalami dua hal yang bertentangan seperti merasa tidak nyaman, tetapi juga merasa disayangi. Untuk meredakan ketegangan ini, korban sering menafsirkan ulang pengalamannya: mungkin aku saja yang berlebihan, dia sebenarnya baik. Dengan cara ini, korban bertahan dalam hubungan tanpa harus mengakui bahwa dirinya sedang disakiti.
Dalam kondisi seperti ini, menyalahkan korban bukan hanya keliru, tetapi memperpanjang kekerasan. Karena grooming memang terancang agar korban tidak sadar. Ketidaksadaran itu bukan kelemahan moral, melainkan hasil dari manipulasi yang sistematis.
Inilah sebabnya banyak penyintas baru menyadari bahwa dirinya pernah menjadi korban bertahun-tahun kemudian, setelah memiliki jarak, bahasa, dan pengetahuan untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Kesadaran sering datang belakangan. Dan itu sah.
Pola Manipulasi yang Dipakai Pelaku
Pengalaman Aurelie memperlihatkan bahwa grooming bukan kejadian tunggal, melainkan rangkaian pola.
Pertama, love bombing. Pelaku memberi perhatian berlebihan di awal. Pujian, validasi, dan perasaan bahwa korban adalah satu-satunya yang istimewa. Ini membuat korban cepat terikat dan sulit menarik diri.
Kedua, manipulasi emosional. Korban dibuat merasa bersalah saat menolak. Kalimat seperti “Buktikan kalau kamu sayang aku” menjadi alat untuk mengontrol keputusan korban.
Ketiga, gaslighting. Saat korban merasa tidak nyaman, pelaku mengecilkan perasaan itu. Kamu lebay, kamu terlalu sensitif. Lama-kelamaan korban meragukan intuisi dan pikirannya sendiri.
Keempat, ketimpangan kuasa. Perbedaan usia, pengalaman, dan posisi sosial membuat hubungan ini tidak setara. Dalam Broken Strings, Aurelie masih remaja, sementara Bobby berusia sekitar 29 tahun. Ini bukan hubungan romantis setara, melainkan relasi kuasa.
Kelima, isolasi sosial. Korban perlahan terjauhkan dari teman dan keluarga. Pelaku ingin menjadi satu-satunya tempat bergantung, sehingga korban tidak punya ruang untuk membandingkan atau meminta tolong.
Keenam, rahasia yang dinormalisasi. Hubungan dibuat terasa istimewa dan tidak boleh diketahui orang lain. Padahal, rahasia seperti ini bukan melindungi korban, ia melindungi pelaku.
Ketika Kekerasan Masih Memihak Pelaku
Masalahnya tidak berhenti pada relasi personal. Banyak kasus kekerasan seksual terhadap anak dan remaja terus berulang karena sistem masih sering memihak pelaku.
Dalam praktiknya, korban justru kerap terbebani pembuktian. Pertanyaan yang diajukan bukan apa yang dilakukan pelaku, melainkan mengapa korban tidak menolak? Mengapa korban diam? Buktinya apa? atau mengapa baru bicara sekarang? Proses hukum yang panjang, berbelit, berbayar dan minim empati membuat banyak penyintas memilih diam.
Perlindungan anak sering kali berhenti di atas kertas. Pendampingan psikologis terbatas, aparat belum seluruhnya memiliki perspektif korban. Dalam situasi seperti ini, pelaku diuntungkan oleh sistem yang lambat, sementara korban diminta cepat pulih.
Tanggung Jawab Kita Bersama
Broken Strings bukan sekadar kisah personal. Ia adalah peringatan sosial. Bahwa edukasi tentang kekerasan seksual tidak cukup hanya mengajarkan anak untuk jangan bicara dengan orang asing. Kita perlu mengajarkan relasi sehat, batas tubuh, dan keberanian mempercayai rasa tidak nyaman.
Orang tua dan pendidik perlu terus membangun ruang di mana anak tidak takut bercerita, bahkan ketika ceritanya terasa membingungkan atau memalukan.
Karena kejahatan hari ini tidak selalu datang dengan wajah menyeramkan. Ia datang dengan kata-kata manis, perhatian berlebih, dan janji cinta. []




















































