Dalam bahasa Sunda, KH. M. Nuh Addawami kerap mengingatkan, “ulah popolotot ka bojo” (jangan melotot kepada istri), “ulah pepeletet ka awewe sejen” (jangan genit kepada perempuan lain) dan “ulah sahaok kadua gaplok” (jangan memukul istri)
Mubadalah.id – Upaya menghidupkan kembali peran dan kontribusi ulama, khususnya ulama perempuan, terus dilakukan. Salah satunya melalui Diskusi Serial Biografi Ulama Perempuan Indonesia #3 yang digelar secara daring pada Senin (4/5/2026). Forum ini tidak hanya menghadirkan kisah ulama perempuan, tetapi juga sosok ulama laki-laki yang memiliki visi keadilan dan kasih sayang dalam dakwahnya.
Diskusi ini mengangkat biografi Nyai Hj. Nafisah Sahal dan KH. M. Nuh Addawami, dengan menghadirkan pemantik Nyai Hj. Tutik Nurul Jannah dan Kyai Cecep Jayakarama, serta dimoderatori oleh Nyai Lailatul Fitriyah. Dalam forum tersebut, kisah kehidupan KH. M. Nuh Addawami menjadi salah satu sorotan penting, terutama dalam hal keteladanan dakwah yang menekankan nilai kasih sayang, kesetaraan, dan anti-kekerasan dalam keluarga.
Kyai Cecep Jayakarama, dalam paparannya, membuka cerita tentang ayahandanya, KH. M. Nuh Addawami, yang hingga kini masih aktif berdakwah di usia senja. Ia menyebut bahwa kehadiran sang ayah masih sangat dibutuhkan, baik oleh keluarga, santri, maupun masyarakat luas.
KH. M. Nuh Addawami lahir di Garut, 7 Juli 1946. Ia merupakan putra dari KH. Dawami, pendiri Pondok Pesantren Nurul Huda di Kampung Cibojong, Desa Balewangi, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sejak muda, ia telah menempuh pendidikan pesantren di berbagai daerah di Jawa Barat, seperti Garut, Sumedang, dan Tasikmalaya.
Mendirikan Madrasah
Pada 1968, ia mulai menetap dan mengembangkan Pesantren Nurul Huda. Di tengah situasi saat itu, ketika banyak pesantren menolak pendidikan formal karena mereka anggap sebagai produk kolonial, KH. M. Nuh Addawami justru mengambil langkah progresif. Pada 1990, ia mendirikan Madrasah Tsanawiyah, lalu mendirikan Madrasah Aliyah tiga tahun kemudian. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam mengintegrasikan pendidikan agama dan formal di lingkungan pesantren.
Sejak usia belasan tahun, KH. M. Nuh Addawami telah aktif berdakwah dari satu majelis ke majelis lain. Pengalaman masa mudanya membentuk karakter disiplin yang kuat. Salah satu peristiwa yang membekas adalah ketika ia menyaksikan seorang mubaligh terkenal tidak datang memenuhi undangan pengajian, hingga membuat masyarakat kecewa. Dari situ, ia bertekad untuk tidak mengulangi hal serupa.
“Jika diberi amanah berdakwah, saya tidak akan mengecewakan umat,” demikian prinsip yang kemudian ia pegang. Komitmen ini menjadi kedisiplinannya dalam menghadiri setiap pengajian tepat waktu.
Lebih dari itu, yang menonjol dari sosok KH. M. Nuh Addawami adalah pendekatan dakwahnya yang menyejukkan dan berorientasi pada nilai rahmatan lil ‘alamin. Dalam berbagai pengajian, khususnya terkait kehidupan rumah tangga, ia secara konsisten menyampaikan pesan untuk jangan melakukan kekerasan.
Dalam bahasa Sunda, ia kerap mengingatkan, “ulah popolotot ka bojo” (jangan melotot kepada istri), “ulah pepeletet ka awewe sejen” (jangan genit kepada perempuan lain) dan “ulah sahaok kadua gaplok” (jangan memukul istri). Pesan ini ia perkuat dengan rujukan hadis Nabi yang melarang kekerasan terhadap perempuan.
Menjaga Komunikasi dalam Keluarga
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang baik dalam keluarga. “Jika ada kesalahan, maka saling menasihati.” Perkataan ini menjadi prinsip yang terus ia ulang dalam setiap kesempatan. Menurutnya, relasi suami-istri harus dibangun atas dasar kasih sayang.
Keteladanan ini tidak berhenti dalam ceramahnya, tetapi ia praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia terkenal dalam memperlakukan istri, anak, dan santri dengan penuh penghormatan dan kesetaraan. Baik laki-laki maupun perempuan ia berikan kesempatan yang sama untuk belajar sampai pendidikan yang paling tinggi.
Pendekatan ini membawa perubahan signifikan di masyarakat sekitar pesantren. Jika sebelumnya konflik rumah tangga kerap terjadi dengan kekerasan verbal maupun fisik, perlahan kondisi tersebut berubah. Masyarakat menjadi lebih terbuka dan relasi keluarga pun semakin harmonis.
Dalam mendidik santri, KH. M. Nuh Addawami menanamkan tiga prinsip utama: memperbaiki pribadi (sakuringeun), memperbaiki hubungan keluarga (sakurungeun) dan memperbaiki masyarakat. Baginya, perubahan sosial harus ia mulai dari pembenahan dari diri sendiri, keluarga hingga masyarakat luas.
Selain aktif di pesantren, ia juga berkiprah di organisasi Nahdlatul Ulama, dari tingkat akar rumput hingga wilayah Jawa Barat. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Barat. Namun, seluruh aktivitas tersebut, menurutnya, semata-mata ia niatkan sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah.
“Kunci kebahagiaan adalah mendapatkan rahmat Allah,” demikian ajaran yang selalu ia tekankan. Rahmat itu, menurutnya, hanya akan hadir jika manusia saling menyayangi. []











































