Mubadalah.id – “Mengingat sosok Nyai Shofiyah, saya teringat hadis Nabi ketika Sayyidah Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah. Aisyah menjawab, ‘Akhlak Nabi adalah Al-Qur’an.’ Begitu pula Nyai Shofiyah. Sosok yang penuh kesabaran, keikhlasan, sederhana, dan penuh cinta,” tutur Nyai Laili Badriyah, salah satu santri almarhumah Nyai Hj. Shofiyah Hamid.
Kesaksian itu menggambarkan bagaimana sosok Nyai Shofiyah Hamid hidup dalam ingatan para santrinya. Bukan hanya sebagai pengajar ilmu agama, tetapi sebagai ulama perempuan yang menghadirkan keteladanan melalui laku hidup sehari-hari. Sosoknya dikenal tenang, lembut, tetapi memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter dan spiritualitas para muridnya.
Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan
Dalam dua tahun terakhir, Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) mendeklarasikan bulan Mei sebagai Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia. Momentum ini menjadi ruang penting untuk menghadirkan kembali jejak dan kontribusi ulama perempuan yang selama ini kerap luput dari catatan sejarah publik.
Di tengah dominasi nama-nama ulama laki-laki dalam historiografi keislaman Indonesia, terdapat banyak ulama perempuan yang sesungguhnya memiliki pengaruh besar dalam pendidikan, dakwah, dan pembentukan masyarakat. Salah satunya adalah Nyai Hj. Shofiyah Hamid, pengasuh Pondok Pesantren Putri An-Nur Maron, Purworejo, Jawa Tengah.
Nyai Shofiyah dikenal sebagai ulama perempuan yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menghadirkan keteladanan hidup yang membekas dalam diri para santrinya. Jejak perjuangannya lahir dari ruang-ruang pengabdian yang sederhana, namun memberi dampak panjang bagi kehidupan banyak orang.
Lahir pada tahun 1943, Nyai Shofiyah tumbuh dalam keluarga pesantren yang kuat menjaga tradisi keilmuan Islam klasik berbasis kitab kuning. Ia merupakan putri KH Syafi’i bin Kiai Abu Ishaq, seorang ulama kharismatik yang dikenal luas di lingkungannya. Dari garis keluarga ibunya, Nyai Shofiyah juga mewarisi sanad keilmuan pesantren yang terhubung dengan sejumlah ulama besar di Jawa.
Lingkungan keluarga yang dekat dengan tradisi ilmu membentuk karakter Nyai Shofiyah sejak kecil. Ia dikenal memiliki semangat belajar yang tinggi dan kecintaan mendalam terhadap Al-Qur’an serta kitab-kitab klasik pesantren. Pada masa ketika banyak perempuan menikah di usia muda dan berhenti menempuh pendidikan, Nyai Shofiyah justru mempertahankan masa belajarnya hingga dewasa.
Baginya, ilmu bukan sekadar pelengkap hidup perempuan, melainkan fondasi penting dalam menjalani kehidupan. Ia ingin memahami Al-Qur’an secara mendalam dan memperluas pengetahuan agama sebagai bekal pengabdian kepada masyarakat.
Keluarga
Dalam perjalanan hidupnya, Nyai Shofiyah kemudian dipersunting oleh KH Hamid, seorang ulama alim yang kelak menjadi pasangan seperjuangan dalam merintis Pondok Pesantren An-Nur Maron. Pernikahan keduanya diyakini keluarga bermula dari isyarat spiritual yang mempertemukan mereka.
Pada awalnya, Nyai Shofiyah sempat menyimpan kekhawatiran bahwa pernikahan akan menghambat perjalanan intelektual dan spiritualnya. Namun kekhawatiran itu tidak terbukti. KH Hamid justru menjadi pasangan yang mendukung semangat belajar dan perjuangan istrinya.
Dari rumah tangga keduanya lahir relasi kesalingan yang kuat. Mereka membangun kehidupan keluarga yang saling menghormati, memahami, dan menopang satu sama lain. Dalam kehidupan Nyai Shofiyah, pernikahan bukan akhir dari perjalanan ilmu, melainkan ruang baru untuk memperdalam pengabdian dan perjuangan.
Setelah menikah, Nyai Shofiyah dikenal sebagai menantu yang penuh khidmah. Ia memuliakan mertua, menghormati keluarga besar, dan hadir sebagai perekat hubungan antarkeluarga. Sikapnya yang lembut dan penuh kasih membuatnya dicintai banyak orang.
Bagi keluarga dan para santrinya, akhlak Nyai Shofiyah menjadi warisan paling berharga. Keteladanan itu tidak hanya dikenang pada zamannya, tetapi terus hidup dalam cerita dan ingatan orang-orang yang pernah dekat dengannya.
Kedekatan Nyai Shofiyah dengan Al-Qur’an juga menjadi salah satu hal yang paling membekas di mata para muridnya. Ia terkenal istiqamah membaca dan menghafal Al-Qur’an sepanjang hidupnya. Setiap hari ia mendawamkan tilawah, bahkan mampu khatam hingga dua kali dalam sehari.
Para santri kerap melihat tangannya bergerak seolah mengikuti tulisan ayat-ayat yang telah melekat kuat dalam ingatannya. Kebiasaan itu menjadi tanda bahwa Al-Qur’an benar-benar hidup dalam jiwa dan perilakunya.
Bertahun-tahun menjalani disiplin spiritual yang ketat, Nyai Shofiyah terkenal mampu menyetorkan hafalan 30 juz dalam waktu singkat. Namun bagi orang-orang terdekatnya, capaian itu bukan sesuatu yang instan, melainkan buah dari ketekunan panjang, kedisiplinan, dan kecintaan mendalam kepada Kalamullah.
Pesantren Putri An-Nur Maron
Dari rumahnya, Nyai Shofiyah kemudian membesarkan Pesantren Putri An-Nur Maron. Pesantren itu menjadi pusat pengabdiannya sepanjang hidup. Dari pagi hingga malam hari, ia mendidik para santri dengan penuh kesungguhan.
Metode pendidikan yang ia bangun tidak banyak mengandalkan ceramah panjang. Ia lebih banyak mendidik melalui keteladanan hidup sehari-hari. Para santri belajar tentang kebersihan, kedisiplinan, adab, kesederhanaan, dan tanggung jawab langsung dari perilaku Nyai Shofiyah.
Hampir setiap hari, ia berkeliling pondok untuk memeriksa kamar santri, halaman, dapur, jemuran, hingga sudut-sudut kecil lingkungan pesantren. Pengawasan itu bukan ia lakukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk membangun budaya hidup tertib dan bertanggung jawab di kalangan santri.
Bagi para muridnya, kehadiran Nyai Shofiyah menghadirkan rasa teduh dan aman. Nasihatnya tidak banyak, tetapi membekas dalam kehidupan mereka hingga dewasa.
Nyai Shofiyah juga terkenal memiliki perhatian besar terhadap kemandirian perempuan. Ia mengajarkan bahwa perempuan harus memiliki daya dan tidak menggantungkan seluruh hidup kepada manusia.
Menurutnya, menghormati suami tidak berarti kehilangan produktivitas dan kemandirian. Perempuan tetap harus berpikir, berkarya, berdikari, dan memberi manfaat bagi kehidupan sosial.
Ajaran itu ia tanamkan sebagai bagian dari nilai tauhid: bahwa ketergantungan manusia hanya kepada Allah Swt. Sementara relasi dengan sesama ia bangun atas dasar saling menghormati dan saling menguatkan, baik antara perempuan maupun laki-laki.
Warisan Pemikiran
Warisan pemikiran dan keteladanan Nyai Shofiyah terus hidup melalui para muridnya. Banyak alumni Pesantren An-Nur Maron yang kemudian menjadi pendidik, ulama, penggerak sosial, pedagang, hingga tokoh masyarakat di berbagai daerah.
Mereka tidak hanya membawa ilmu agama, tetapi juga nilai-nilai akhlak dan spiritualitas yang Nyai Shofiyah wariskan selama proses pendidikan di pesantren.
Meski telah wafat hampir dua dekade lalu, nama Nyai Shofiyah Hamid masih hidup dalam ingatan para santri dan keluarganya. Nasihat-nasihatnya terus sampai dari generasi ke generasi.
Sebagian guru dikenang karena keluasan ilmunya, sebagian lain dikenang karena jasanya. Namun Nyai Shofiyah Hamid dikenang karena kehadirannya yang menenangkan jiwa, akhlaknya yang memuliakan manusia, dan spiritualitasnya yang menentramkan hati banyak orang.
Melalui hidupnya, Nyai Shofiyah menunjukkan bahwa pengaruh besar tidak selalu lahir dari ruang-ruang publik yang gemerlap. Dari rumah dan pesantren sederhana, ia membangun generasi, menanamkan nilai-nilai keteguhan, dan melahirkan peradaban melalui kelembutan serta cinta. []












































