Mubadalah.id – Di antara deretan nama ulama yang dibacakan di acara “Diskusi Serial Biografi Ulama Perempuan Indonesia” ada nama yang membuat saya tegas ingin menuliskannya, Ny. Hj. Aqidah Usymuni. Pembacaan biografi oleh putri menantunya, yaitu Nyai Rodliyah Imran pada Sabtu 2 Mei 2026. Diskusi serial biografi ulama perempuan ini merupakan bagian dari rangkaian dari Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BKUPI).
Banyak hal unik dan mengagumkan yang baru saya tahu setelah memutuskan untuk menulis biografi beliau ini. Saya tak pernah berguru padanya tapi di Sumenep beliau cukup masyhur dengan kiprahnya, baik di dalam pesantren maupun di masyarakat luar pesantren.
Kiprah pertama yang sekaligus menjadi keunikan tersendiri adalah pondok pesantren yang beliau bangun. Pondok Pesantren Nyai Aqidah Usymuni yang terletak di Tarate Sumenep, ia namakan dengan namanya sendiri. Jarang sekali (jika tak mau mengatakan tidak ada) nama pondok memakai nama Ibu Nyai, yang mainstream memakai nama kiai atau lafad-lafad doa, tapi beliau keukeuh menamai pondoknya dengan namanya sendiri. Aqidah -binti- Usymuni.
Masa Kecil Nyai Aqidah
Nyai Aqidah lahir sebelum kemerdekaan, sekitar tahun 1942 M (banyak versi di berbagai website karena nyai Aqidah sendiri tidak ingat secara pasti tahun lahirnya). Sejak kecil ia ditinggal ibundanya dan hidup besar dengan didikan abahnya KH Usymuni. Hal ini membuatnya tahu perjuangan abahnya KH Usymuni di awal-awal kemerdekaan Indonesia. Dari abahnya ia belajar tirakat untuk diri sendiri, keluarga, keturunan dan masyarakatnya.
Tirakat adalah usaha spiritual menahan hawa nafsu atau melatih diri untuk membersihkan hati, dan mencapai tujuan mulia atau hajat tertentu, dengan niat lillahi ta’ala. Tirakat atau riyadlah beliau adalah dengan menahan diri dari makan banyak. Yakni maksimal dua centong nasi setiap harinya, dan tidur tak lebih dari tiga jam setiap hari. Termasuk kebiasaan beliau dalam tirakat adalah tahannuts atau bisa kita sebut nyepi.
Karena lahir dari keluarga tokoh masyarakat, Nyai Aqidah Usymuni bisa menikmati sekolah yang Belanda dirikan saat itu. Tak ayal jika beliau mahir Bahasa Inggris dan hingga kini beliau mengajar santri-santrinya dengan bahasa internasional ini.
Mahir Berbahasa Inggris
Fakta-fakta tentang Nyai Aqidah sering antimainstream. Di saat banyak pengasuh pesantren yang bergelut dengan bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Qur’an dan kitab kuning sebagai rujukan utama agama Islam, Nyai Aqidah memilih bahasa Inggris. Pasalnya, agar santri-santrinya khususnya dan para perempuan secara umum bisa berkiprah di kancah global.
Namun demikian, keberuntungan Nyai Aqidah dalam pendidikan tak semudah kehidupan pribadinya. Diceritakan dalam pembacaan biografi bahwa beliau pernah mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dengan suami pertamanya.
Nyai Aqidah menikah di usia sangat dini tak lama setelah sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA). Sehingga pendidikannya tak sampai tamat, ia dinikahkan dengan seorang lelaki dan kemudian kandas karena KDRT. Mungkin Tuhan sedang menjauhkannya dari keburukan hingga bertemu dengan suami yang kedua dan mendirikan pondok pesantren sampai saat ini.
Nyai Aqidah tak mau pengalaman pahitnya juga perempuan lain alami, maka Pondok yang ia dirikan pada tahun 1985 -salah satu tujuannya- untuk menjadi wadah para perempuan agar terlindung dari subordinasi, marginalisasi, pelabelan negatif dan kekerasan.
Kiprah Nyai Aqidah bagi Perempuan
Kalau melihat Nyai Aqidah yang sekarang mungkin akan menilai beliau hanya berkiprah di pondoknya sendiri. Padahal masa mudanya ia habiskan untuk memberdayakan perempuan. Kepada siapapun yang ia temui, masyarakat di majelis taklim, santri yang masih mukim atau sudah alumni, nyai Aqidah berpesan “Perempuan harus kuat, mandiri.” Dawuhnya ini tidak hanya terucap di lisan saja, tetapi menyublim dalam tindakan kesehariannya.
Saya pernah mengikuti acara yang Rahima gelar pada tahun 2022 di kota Sumenep. Nyai Aqidah hadir dan beliau sendiri mengadakan kuis dengan hadiah cincin emas. Saya ingat betul saat itu beliau membawa satu kotak penuh dengan cincin emas yang masih lengkap dengan bandrol gramasi. Ini menandakan bahwa ekonomi beliau saat ini tidak kaleng-kaleng.
Pernah terpuruk dalam kelamnya kekerasan rumah tangga tidak lantas membuat Nyai Aqidah terkubur. Justru ia jadikan batu loncatan yang sangat strategis.Hal itu ia buktikan dengan mendirikan pesantren, mengisi pengajian di dalam dan luar pesantren, aktif di organisasi sosial keagamaan seperti muslimat.
Menurut kesaksian salah satu santrinya, Nyai Aqidah merupakan penggerak sosial yang sangat berpengaruh bagi masyarakat terutama perempuan di pedesaan kota Sumenep. Beliau juga sering berpesan di banyak majelis untuk para perempuan agar tidak takut bercita-cita, menjadi apapun sesuai kemampuan.
Pesan Nyai Aqidah Usymuni
Dari pondok yang hanya khusus perempuan ini lahirlah jembatan-jembatan keilmuan, penyambung lidah dawuh-dawuh Nyai Aqidah. Lahirlah intelektual yang mengenyam pendidikan dari Pendidikan Anak Usia Dini sampai perguruan tinggi dengan support system dari seorang Bu Nyai yang ngemong layaknya orang tua sendiri. Oh ya, konon Nyai Aqidah membebaskan biaya bulanan pondok bagi seluruh santri yatim dan kaum duafa.
Di dalam pesantren ini pula Nyai Aqidah Usymuni memberikan konseling berupa pendekatan agama yang berpihak pada perempuan, terutama bagi yang mengalami KDRT, korban poligami atau kekerasan lainnya. Bersama putrinya, Nyai Eva yang pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Kota Sumenep.
Mengutip dari biografi Nyai Aqidah yang saya lansir dari Islami.com ia sebagai sosok orang tua cum Pengasuh Pondok pesantren Aqidah Usymuni yang tekun dan gigih dalam memperjuangkan pendidikan perempuan ia berpesan tiga hal. Pertama, orang hidup harus sabar dan tawakkal karena sifat tersebut adalah cerminan dari orang yang beriman.
Kedua, harus rajin dan cekatan karena dalam bekerja harus punya etos yang tinggi. Ketiga, harus jujur. Kalau bukan miliknya jangan diambil. Jika hidup dengan bekal tiga hal itu maka dunia akhirat akan selamat. []












































