Mubadalah.id – Nyai Siti Baroroh Baried bukan sekadar ulama perempuan, Ia juga seorang profesor perempuan pertama di Indonesia. Persepsi masyarakat masih sering melekatkan peran ulama dan profesor pada laki-laki. Lewat dedikasi dan kecerdasannya, beliau berhasil meruntuhkan stigma tersebut dan membuktikan bahwa perempuan memiliki otoritas penuh baik dalam bidang agama maupun akademis.
KUPI mendeklarasikan bulan Mei sebagai Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BKUPI). Selama hampir satu bulan penuh, jaringan KUPI berkomitmen dalam mendiskusikan serial biografi ulama perempuan Indonesia. Saat nama Nyai Siti Baroroh Baried masuk ke dalam daftar serial tersebut, saya langsung tertarik dan ingin mengenal beliau lebih dalam.
Pembacaan biografi Nyai Siti Baroroh Baried disampaikan langsung oleh Fitria Villa Sahara sekaligus menjadi sesi pamungkas dalam #BulanKUPI. Tepatnya pada hari Kamis, 21 Mei 2026 pukul 19.30 – 21.30 WIB melalui kanal media Alimat Indonesia. Diskusi tersebut berjalan dengan lancar, sarat nilai, dan sangat menyenangkan dengan dipandu oleh Sari Narulita yang berperan sebagai moderator.
Mengenal lebih dekat Nyai Siti Baroroh Baried
Nama lengkap beliau adalah Siti Baroroh Tamimy. Imbuhan Baried mulai terkenal setelah beliau menikah dengan dr. Baried Ishom. Lahir di Kauman, pada 23 Mei 1925. Ibunya bernama Asmah Tamim, sedangkan ayahnya bernama H. Tamim yang merupakan keponakan dari Nyai Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan.
Perempuan kelahiran Yogyakarta tersebut besar dan tumbuh di lingkungan yang menghargai ilmu. Tidak hanya itu, beliau memiliki teladan perempuan alim seperti Nyai Walidah Dahlan. Beliau hidup dengan penuh kesederhanaan dan disiplin ilmu. Sejak kecil beliau bersekolah di lembaga pendidikan Muhammadiyah yang membentuk cara pandang visionernya.
Setelah cukup dewasa, beliau melanjutkan studi di Fakultas Sastra UGM. Selain itu, beliau juga memiliki ketertarikan dalam dunia bahasa yang mengantarkannya sebagai ahli Filologi dan Bahasa Arab. Keilmuan Nyai Siti Baroroh Baried menegaskan bahwa Islam adalah agama Rahmatan lil ‘Alamin. Karena, sejatinya Islam dan ilmu pengetahuan adalah satu kesatuan yang mewarnai khazanah Islam.
Memiliki Semboyan “Hidup Saya Harus Menuntut Ilmu”
Ia memiliki semboyan “Hidup saya harus menuntut ilmu”. Terlihat sederhana namun kalimat itu bagaikan mantra yang menggambarkan sekaligus menuntun jalan hidup beliau. Semasa hidupnya beliau tekun belajar dan terus mengeksplor diri. Tidak heran, di usianya yang masih muda yaitu 39 tahun beliau resmi menjadi Guru Besar Fakultas Sastra UGM sekaligus menjadi profesor perempuan pertama di Indonesia.
Menariknya, realitas sosial saat itu menunjukkan jumlah dosen perempuan yang masih sangat sedikit. Bahkan hampir tidak ada profesor perempuan, mengingat dunia akademik saat itu didominasi oleh laki-laki.
Prestasi membanggakan ini bukan hanya kebetulan, melainkan proses panjang yang beliau lalui dengan penuh keberanian. Bersama Nyai Tudjimah, beliau belajar Bahasa Arab di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir. Keberangkatan mereka diberitakan langsung oleh harian Kedaulatan Rakjat, surat kabar yang cukup berpengaruh di Yogyakarta saat itu. Artinya, pengalaman belajar mereka menjadi peristiwa penting dan sangat membanggakan bangsa dan negara, mengingat saat itu belum banyak perempuan yang menuntut ilmu ke luar negeri.
Di tengah keterbatasan ruang maupun dukungan, Nyai Siti Baroroh Baried menembus batas itu. Beliau memiliki visi pemberdayaan terhadap perempuan, sehingga beliau tidak mungkin berdiam diri dan tunduk terhadap budaya yang masih memarginalkan perempuan.
Nyai Baroroh mengajarkan kepada kita semua, bahwa perempuan harus lekat dengan tradisi keilmuan. Sebab dengan ilmu, perempuan akan memiliki kesadaran untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup yang lebih bermartabat.
Dedikasi Nyai Siti Baroroh Baried Selama Memimpin ‘Aisyiyah
Nyai Siti Baroroh Baried tidak hanya aktif dalam bidang akademik, namun juga di lingkungan organisasi ‘Aisyiyah. Beliau memimpin ‘Aisyiyah selama kurang lebih dua dekade (1965 – 1985). Di bawah kepemimpinannya, ‘Aisyiyah semakin terkenal hingga kancah internasional sekaligus membangun relasi dengan UNICEF, UNESCO, WHO, The Asia Foundation, World Conference of Religion and Peace, UNFPA, UNDP, World Bank, dan sebagainya.
Perjuangan Nyai Baroroh mengaskan kembali bahwa ulama perempuan tidak hanya berada dalam dimensi sempit seperti mimbar, keluarga, maupun ruang pengajian, tetapi juga dalam perguruan tinggi, laboratorium penelitian, bahkan menyentuh panggung internasional. Nyai Siti Baroroh Baried menjadi tonggak sejarah karena berani memperkenalkan pengalaman perempuan di ranah global tanpa kehilangan identitas.
Nyai Siti Baroroh Baried merupakan sosok yang menjadi landasan dari prinsip wanita berkemajuan yang digalakkan oleh ‘Aisyiyah. Ia menekankan pentingnya pendidikan dan membuka jalan bagi wanita Islam untuk memperkaya diri dengan pengetahuan.
Dalam literatur lain, Nyai Siti Baroroh Baried percaya bahwa perempuan harus mengenyam pendidikan sedini mungkin. Keyakinan tersebut mendorong ‘Aisyiyah terus berbenah dalam dunia pendidikan. Hingga saat ini ‘Aisyiyah mampu mengelola 4.500 amal usaha di bidang pendidikan yang terdiri dari tempat penitipan anak, kelompok bermain, pendidikan untuk anak usia dini, hingga sekolah tinggi.
Kiprah Nyai Siti Baroroh Baried selaras dengan salah satu dari 9 nilai KUPI, yaitu kemaslahatan. Ilmu yang beliau miliki digunakan untuk meningkatkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya perempuan.
Tidak hanya itu, Nyai Baroroh Baried mewariskan banyak nilai keteladanan seperti ketekunan belajar, integritas, kepemimpinan perempuan, Islam berkemajuan, kerendahan hati, kesederhanaan, dan pengabdian sosial. Harapannya, pembacaan biografi atau manaqib Nyai Siti Baroroh Baried mampu menyalakan kembali semangat perjuangan dalam beberapa lintas generasi. []












































