Kamis, 18 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Tanggung Jawab Moral

    Menakar Batas Tanggung Jawab Moral dalam Pengasuhan Kesalingan

    Pemimpin

    Pemimpin Tanpa Kepala: Membaca Kondisi Indonesia Hari Ini

    Logika Dimaafkan

    Menolak Logika “Dimaafkan” bagi Najis Difabel: Seri Kritis Fikih Disabilitas – Bagian 1

    SUPI

    Merawat Jiwa, Menjaga Amanah: Catatan Mahasantri SUPI Belajar Kesehatan Mental dengan Perspektif KUPI

    Anak-anak Tuli

    Dari Anak-Anak Tuli, Saya Belajar Melihat Dunia dengan Cara Berbeda

    Disabilitas Autisme

    Terasing di Lingkungannya: Dilema yang Dihadapi Penyandang Disabilitas Autisme Tingkat I

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik

    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pil KB

    Pil KB Terpadu: Mengandung Estrogen dan Progestin

    KB Hormonal

    Efek Samping Metode KB Hormonal

    KB Hormonal

    Hal-hal yang Perlu Diketahui Sebelum Menggunakan KB Hormonal

    Spermisida

    Cara Menggunakan Spermisida

    Mengusap Kepala Anak Yatim

    Memaknai Mengusap Kepala Anak Yatim Secara Mubadalah

    Spermisida untuk

    Apa itu Spermisida? Ketahui Fungsi dan Cara Pakainya

    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Tanggung Jawab Moral

    Menakar Batas Tanggung Jawab Moral dalam Pengasuhan Kesalingan

    Pemimpin

    Pemimpin Tanpa Kepala: Membaca Kondisi Indonesia Hari Ini

    Logika Dimaafkan

    Menolak Logika “Dimaafkan” bagi Najis Difabel: Seri Kritis Fikih Disabilitas – Bagian 1

    SUPI

    Merawat Jiwa, Menjaga Amanah: Catatan Mahasantri SUPI Belajar Kesehatan Mental dengan Perspektif KUPI

    Anak-anak Tuli

    Dari Anak-Anak Tuli, Saya Belajar Melihat Dunia dengan Cara Berbeda

    Disabilitas Autisme

    Terasing di Lingkungannya: Dilema yang Dihadapi Penyandang Disabilitas Autisme Tingkat I

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik

    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pil KB

    Pil KB Terpadu: Mengandung Estrogen dan Progestin

    KB Hormonal

    Efek Samping Metode KB Hormonal

    KB Hormonal

    Hal-hal yang Perlu Diketahui Sebelum Menggunakan KB Hormonal

    Spermisida

    Cara Menggunakan Spermisida

    Mengusap Kepala Anak Yatim

    Memaknai Mengusap Kepala Anak Yatim Secara Mubadalah

    Spermisida untuk

    Apa itu Spermisida? Ketahui Fungsi dan Cara Pakainya

    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom

Pentingnya Pelibatan Masyarakat Desa dalam Pencegahan Radikalisme

Penelitian yang dilakukan Fahmina institute di wilayah III Cirebon (Kota dan Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan) dalam kurun waktu 10 tahun terakhir menemukan 51 kasus intoleransi, dalam beragam bentuknya. Temuan lainnya adalah makin maraknya benih-benih radikalisme di tengah-tengah masyarakat.

Abi Hilya by Abi Hilya
1 Desember 2020
in Kolom, Publik
A A
0
4
SHARES
215
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Sampai pertengahan tahun 2020, lebih dari 100 orang, di wilayah III Cirebon, yang ditangkap Densus 88 Anti Teror Mabes Polri karena terlibat dalam jaringan terorisme di Indonesia. Beberapa diantaranya meninggal dunia baik di tempat kejadian perkara, maupun pada saat penangkapan atau pada saat menjalani masa hukuman di penjara, karena sakit.

Di samping itu, beberapa orang juga di duga bergabung dengan ISIS di Syria.  Sejak tahun 2010, juga tercatat lebih dari 5 kali ancaman bom di wilayah III Cirebon dan beberapa DPO teroris ditangkap Densus 88 di wilayah III Cirebon.

Angka ini tentu terlihat sangat kecil prosentasenya, jika disandingkan dengan jumlah penduduk di wilayah III Cirebon yang mencapai kurang lebih 6 juta jiwa. Namun jika dilihat sebagai fenomena gunung es, maka bisa dilihat berapa banyak orang yang sudah terpapar paham radikal dan intoleran ini. Karena orang yang ditangkap Densus 88, maka secara hukum dia melanggar undang-undang nomor 15 tahun 2003 yang direvisi menjadi undang-undang nomor 5 tahun 2018.

Sementara dari sisi pemahaman dan keyakinan, yang bersangkutan sudah memiliki pemahaman intoleran, menganggap hanya diri dan kelompoknya saja yang benar. Sementara yang lain salah bahkan kafir, karena hidup dalam sistem pemerintahan yang tidak menerapkan hukum Islam sehingga dianggap thagut.

Lebih jauh mereka menginginkan perubahan pada sistem pemerintahan dan menggantinya dengan Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah. Sehingga dengan berbagai cara, mereka berupaya merubah sistem pemerintahan ini, walaupun dengan cara kekerasan.

Penelitian yang dilakukan Fahmina institute di wilayah III Cirebon (Kota dan Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan) dalam kurun waktu 10 tahun terakhir menemukan 51 kasus intoleransi, dalam beragam bentuknya. Temuan lainnya adalah makin maraknya benih-benih radikalisme di tengah-tengah masyarakat.

Seperti ditemukannya buku ajar untuk anak PAUD di Kabupaten Cirebon yang berjudul “Anak Islam Suka Membaca”. Buku ini di dalamnya memuat narasi kekerasan seperti “Garuda nama apa”, “Selesai raih bantai Kyai”, “Sahid di medan Jihad” dan lain sebagainya.

Fahmina juga mencatat terdapat buku ajar untuk anak SMA yang membolehkan membunuh orang tuanya karena berbeda paham. Temuan lainnya adalah adanya beberapa anak SMA di salah satu sekolah yang tidak mau mengikuti upacara bendera dan tidak mau mengikuti pelajaran Sejarah Indonesia karena dianggap musyrik.

Narasi-narasi yang mengarah pada radikalisme juga berkembang di masyarakat, seperti musik itu haram, orang yang biasa ziarah kubur atau tahlil dianggap sebagai ahli bid’ah dan musyrik sehingga boleh dibunuh. Mengikuti perayaan tahun baru masehi dengan membunyikan terompet itu haram. Juga muncul narasi yang melarang bahkan dikatakan haram terlibat dalam pesta demokrasi, terutama pada pemilu 2019.

Upaya menyebarkan paham intoleran juga dilakukan oleh oknum guru, pada saat pendidikan jarak jauh (daring) dengan mengarahkan siswa untuk merujuk dan mendengarkan ceramah-ceramah yang disampaikan oleh ustad-ustad di media sosial yang keras dan memiliki paham intoleran.

Data ini menunjukkan bahwa wilayah Cirebon masih menjadi basis persemaian kelompok radikal. Hal ini membuktikan apa yang disampaikan beberapa peneliti dan akademisi. Seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra (Guru Besar UIN Jakarta) yang pada tahun 2010 menghadiri salah satu acara di Cirebon. Beliau mengatakan bahwa Cirebon berpotensi menjadi daerah persemaian dan perekrutan kelompok radikal Jama’ah Islamiyah. Demikian juga Dr. Adnan Anwar (Wasekjen PBNU 2010-2015) mengatakan bahwa Cirebon zona merah perekrutan kelompok radikal.

Tentu kita berharap Cirebon kembali menjadi daerah yang toleran, ramah dan damai sebagaimana diajarkan para pendirinya. Kondisi kehidupan yang pernah kita rasakan sampai sebelum masa reformasi. Di mana masyarakat Cirebon bisa hidup rukun damai meski dalam perbedaan keyakinan, suku dan etnis. Semua warga Cirebon memahami dan sadar bahwa Cirebon dihuni oleh orang dengan berbagai etnis, agama, budaya dan lain sebagainya. Karena Cirebon merupakan daerah tujuan urbanisasi bagi masyarakat di sekitarnya bahkan lintas propinsi.

Upaya untuk mengembalikan kondisi Cirebon, merupakan tanggungjawab semua pihak. Kita tidak bisa menyerahkan hanya kepada Densus 88 saja. Sebab Densus 88 hanya bertugas menangkap mereka yang dianggap melanggar hukum terutama UU nomor 5 tahun 2018. Kita juga tidak bisa menyerahkan kepada pemerintah daerah saja, karena keterbatasan meraka terkait SDM dan SDA yang dimiliki.

Pelibatan semua pihak, terutama masyarakat desa adalah solusi penting yang bisa dilakukan saat ini. Sebab di sisi lain perekrutan yang dilakukan kelompok teroris juga banyak dilakukan di tingkat desa. Sehingga desa menjadi basis pertahanan utama agar warganya tidak terbawa pada paham-paham yang dipropagandakan kelompok teroris.

Masyarakat desa harus dikuatkan pengetahuannya tentang apa dan bagaimana terorisme. Bagaimana tahapan seseorang menjadi teroris. Ciri-ciri orang terpapar paham teroris, serta bentuk-bentuk aksi teroris yang terjadi selama ini.

Intervensi yang bisa dilakukan dalam bentuk penguatan pemahaman masyarakat yang disebut dengan deteksi dini radikalisme agama. Dengan deteksi dini masyarakat memiliki pengetahuan dan pemahaman secara benar, apa yang harus mereka hindari dan apa yang harus mereka lakukan ketika tetangga atau keluarganya terlihat mulai terpapar paham-paham intoleran dan radikal.

Dalam deteksi dini, masyarakat juga diberi pengetahuan agar tidak menstigma orang yang memiliki kemiripan secara fisik dengan kelompok teroris. Karena radikalisme harus dibuktikan dengan pemikiran maupun tindakan, tidak sekedar pada penampilan saja.

Dalam konteks desa, deteksi dini penting untuk segera diterapkan. Deteksi dini adalah sistem yang ditujukkan bagi warga desa untuk dapat mendeteksi tanda dan gejala awal ekstrimisme kekerasan dan melakukan penanganan sedini mungkin ditingkat desa dengan sistem rujukan ditingkat Kecamatan dan Kabupaten. Dengan deteksi dini, diharapkan muncul respon cepat dan penanganan sedini mungkin yang dilakukan masyarakat, sehingga bisa mencegah dan menurunkan tingkat resiko terhadap masyarakat terutama kelompok rentan (perempuan, kaum muda dan anak-anak).

Dengan deteksi dini, diharapkan masyarakat memiliki pengetahuan dan kesiapan dalam menjaga warganya agar tidak terpapar paham intoleran dan radikal. Apalagi paham intoleran, terkadang mengelabui masyarakat karena dibubuhi dalil-dalil agama.

Sehingga tidak heran kalau paham intoleran ini, sangat mudah mempengaruhi masyarakat. Apalagi saat ini, kondisi sosial masyarakat desa sudah jauh berubah bila dibandingkan dengan sebelum reformasi. Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, turut andil pada perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat desa.

Tradisi masyarakat desa yang sebelumnya bergantung pada kyai, atau tokoh masyarakat dalam segala hal, secara perlahan bergeser ke teknologi informasi. Kharisma kyai dan tokoh masyarakat diambil alih oleh teknologi informasi. Melalui internet, masyarakat mendapatkan informasi dan pengetahuan yang diinginkannya.

Sehingga ikatan batin antara kyai atau tokoh masyarakat yang sebelumnya terjalin melalui komunikasi intensif, di mana warga menanyakan berbagai hal kehidupan kepada kyai atau tokoh masyarakat, perlahan mulai berkurang bahkan hilang. Karena semua persoalan warga, solusinya kini didapatkan melalui media sosial. Termasuk masalah agama, mereka mendapatkannya melalui teknologi komunikasi baik televisi maupun media sosial.

Perubahan kultur ini, membuat tokoh masyarakat tidak bisa lagi memberikan arahan dan kontrol warganya secara langsung. Karena media yang mensuplai pengetahuan kepada masyarakat tersebut, langsung masuk dan bisa diakses kapanpun dan dimanapun di saat mereka membutuhkannya. Masyarakat tidak lagi membutuhkan kyai hanya untuk mengetahui dalil suatu masalah. Cukup dengan membuka HP dan menuliskan apa yang inginkannya, maka HP akan menyuguhkan berbagai macam dalil agama yang diinginkan.

Dalam konteks ini penting untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat terkait bagaimana memilih dalil yang sesuai dengan kondisi dimana dia tinggal dan juga aman dan diterima orang lain. Masyarakat harus punya filter mana yang baik dan mana yang buruk di media sosial. Masyarakat harus tahu bahwa media sosial ibarat hutan belantara di mana dialah yang harus bisa menjaga diri dari serangan informasi yang justru akan menjerumuskan dan informasi mana yang akan menyelamatkan dirinya.

Pelibatan masyarakat dalam mencegah radikalisme juga bisa dilakukan dengan mengembalikan fungsi-fungsi sosial, agama dan budaya di desa. Tradisi kumpul dalam berbagai bentuknya penting untuk kembali dihidupkan. Karena tradisi ini bisa mengikat batin antar warga untuk saling mengenal lebih jauh antara satu dengan lainnya.

Dengan kegiatan ini antar warga bisa saling mengetahui apa yang dilakukan dan dipikirkan oleh tetangganya. Kegiatan mengaji setelah sholat maktubah dan maghrib mengaji juga penting dilakukan. Kegiatan mengaji ini bisa memberikan pengetahuan keagamaan kepada anak-anak dan pemuda.

Sehingga ketika di kemudian hari mereka berkenalan dengan paham keagamaan yang baru, minimal dia bisa mendiskusikan dalam dirinya. Sehingga ketika paham keagamaan tersebut berbeda dengan pemahaman yang dulu diterima dari kyai saat di musholla atau madrasah dia bisa menanyakan kepada kyainya tersebut dan tidak menerima begitu saja.

Dengan menghidupkan dan menggerakkan kembali tradisi sosial-keagamaan masyarakat, diharapkan secara perlahan mampu memutus mata rantai persemaian radikalisme agama. Dengan demikian, diharapkan dalam beberapa tahun kedepan kehidupan yang diidamkan semua pihak bisa terwujud. Wallahu a’lam. []

Tags: keberagamanPerdamaianRadikalismetoleransi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Etika Orang Tua terhadap Anak

Next Post

Doktrin Poligami Pertama yang Saya Terima

Abi Hilya

Abi Hilya

Related Posts

Apa yang Membedakan
Personal

Apa yang Membedakan Saya dengan Mereka?

6 Juni 2026
Paus Leo XIV
Publik

Paus Leo XIV dan Perjalanan Apostolik ke Aljazair yang Membawa Pesan Damai

2 Mei 2026
Triumfalisme
Publik

Triumfalisme dan Teologi Tanpa Kekerasan

25 April 2026
radikalisme
Pernak-pernik

Cara Melindungi Keluarga dari Pengaruh Radikalisme di Ruang Digital

18 April 2026
Toleransi dan Kemanusiaan
Figur

Toleransi dan Kemanusiaan: Harga Mati Dua Tokoh Nasional

27 Maret 2026
Idulfitri
Personal

Merayakan Tiga Kali Idulfitri dalam Satu Desa

25 Maret 2026
Next Post
Doktrin Poligami Pertama yang Saya Terima

Doktrin Poligami Pertama yang Saya Terima

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Pil KB Terpadu: Mengandung Estrogen dan Progestin
  • Menakar Batas Tanggung Jawab Moral dalam Pengasuhan Kesalingan
  • Efek Samping Metode KB Hormonal
  • Pemimpin Tanpa Kepala: Membaca Kondisi Indonesia Hari Ini
  • Hal-hal yang Perlu Diketahui Sebelum Menggunakan KB Hormonal

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0