Mubadalah.id – Teras rumah saya kerap dipenuhi para pekerja rumah tangga (PRT) yang berkumpul selepas menyelesaikan pekerjaan rumah. Jumlahnya bervariasi, bisa lima hingga sepuluh orang. Ada saja gagasan yang mereka lakukan bersama.
Suatu kali, mereka menggelar tikar, lalu membentangkan daun pisang memanjang dengan rapi. Di atasnya tersaji nasi putih dan aneka lauk-pauk yang tampaknya mereka bawa dari rumah masing-masing. Sepintas, hidangan itu terlihat menggoda. Mereka menyantapnya ramai-ramai sambil tertawa, terkesan akrab, dan sangat bahagia menikmati kebersamaan.
Apa yang mereka lakukan sebenarnya tidak berbeda dengan kebiasaan saya saat makan bersama rekan-rekan kantor, teman kuliah, atau anggota komunitas. Makan bersama itu mampu mengakrabkan hubungan antarsesama dan menghadirkan kembali kenangan lama yang menyenangkan. Sering kali kami makan tanpa sendok dan garpu, tanpa meja, kursi, apalagi taplak. Setiap orang tampil apa adanya, tanpa sekat dan kepura-puraan.
Ketika salah seorang PRT berulang tahun, teman-temannya akan membelikan kue lengkap dengan lilin dan piring-piring kecil untuk membagikan potongan kue. Terkadang ada pula balon dan berbagai perlengkapan lain yang menambah kemeriahan suasana. Seperti biasa, malam setelah salat Isya itu dipenuhi kegembiraan. Saya melihat betapa bahagianya mereka. Tidak ada yang berbeda dengan perayaan ulang tahun pada umumnya, selain tempat dan mungkin harga kuenya.
Dulu, setiap Minggu sore mereka mengundang pelatih senam khusus. Dengan speaker portabel, mereka berlatih Pound Fit. Senam kardio yang menggabungkan gerakan menabuh drum untuk membakar kalori. Masing-masing PRT pun memegang Ripstix untuk melengkapi gerakan-gerakannya yang atraktif. Meski olahraga ini kerap terasosiasikan dengan kalangan sosialita, olahraga ini juga dilakukan oleh para PRT dengan antusiasme yang sama. Teriakan-teriakan mereka seolah menjadi cara untuk melepaskan diri dari kepenatan hidup.
Saat libur di hari tertentu, para PRT ini pernah mencarter angkot untuk berwisata. Dengan mengenakan pakaian terbaik, rombongan berangkat berrekreasi. Bekal makanan, minuman, hingga tikar sudah mereka siapkan. Di sana, mereka menikmati suasana, berswafoto, dan mengabadikan berbagai momen kebersamaan. Saat perjalanan pulang, rasa lelah membuat mereka tertidur pulas di dalam angkot. Berwisata seperti itu sesungguhnya tidak berbeda dengan cara saya menikmati liburan. Yang membedakan mungkin hanya kendaraan yang mengantarnya ke tempat tujuan.
Semua Ingin Bahagia
Melihat berbagai kenyataan di atas, saya kerap merenung, dari sisi esensi kemanusiaan, apa sebenarnya yang membedakan saya dengan para PRT. Semua yang mereka lakukan pun saya lakukan. Pada dasarnya, perbedaan itu hanya berada pada tataran ornamen dan sarana pendukung, bukan pada substansi kehidupan yang dijalani.
Ketika para PRT mengadakan pesta kecil sambil makan bersama di atas daun pisang, atau merayakan ulang tahun seorang teman dengan kue sederhana, apa yang membedakan mereka dengan saya? Mungkin hanya tempat. Saya mungkin merayakannya di restoran, sedangkan mereka cukup di teras rumah. Namun esensinya tetap sama: merayakan hari istimewa, memanjatkan doa, berbagi makanan, dan menikmati kebersamaan. Kebahagiaan yang lahir dari peristiwa itu juga tidak berbeda.
Pada saat para PRT melakukan senam Pound Fit dengan Ripstix di tangan, olahraga yang sering diasosiasikan dengan kalangan sosialita itu juga sama-sama dilakukan. Hanya tempatnya saja yang berbeda. Para PRT berlatih di lapangan bulu tangkis, sementara para sosialita di studio ber-AC. Akan tetapi, aktivitasnya tetap sama: bergerak, berkeringat, tertawa, melepaskan penat, dan menjaga kebugaran tubuh. Yakinlah, manfaat yang mereka peroleh pun sama.
Begitu pula ketika mereka berwisata. Apa yang berbeda? Mereka mencari suasana baru, berswafoto, mengabadikan momen, menikmati makanan dan minuman, serta merasakan kegembiraan bersama orang-orang terdekat. Semua prosesnya sama. Perbedaannya mungkin hanya terletak pada alat transportasi yang digunakan. Para PRT menggunakan angkot, sedangkan saya menggunakan mobil pribadi. Namun sejatinya, kendaraan itu hanyalah sarana untuk mencapai tujuan. Kegembiraan yang dicari dan kenangan yang dibawa pulang tetaplah sama.
Membedakan Ornamen dan Esensi Kehidupan
Perbedaan yang melekat dalam kehidupan manusia sering kali berkembang menjadi sekat yang mengaburkan nilai-nilai esensial kemanusiaan. Pada tingkat tertentu, perbedaan tersebut bahkan dapat melahirkan sikap diskriminatif yang berujung pada perlakuan tidak adil terhadap sesama. Padahal, manusia kerap lupa bahwa berbagai faktor pembeda itu sesungguhnya hanya berada pada tataran ornamen kehidupan.
Jika kita cermati, di balik ornamen yang berwujud profesi, jabatan, pangkat, dan tingkat penghasilan yang melekat pada diri seseorang, orientasi esensial manusia tetaplah sama: Hasrat mencari kehangatan dalam persaudaraan, menjaga kesehatan, menumbuhkan kepedulian, merawat kebersamaan, dan pada akhirnya berharap mampu meraih kebahagiaan.
Dalam urusan kebahagiaan, Allah benar-benar adil. Dia tidak menyediakan kebahagiaan hanya untuk sebagian orang. Kebahagiaan tersedia bagi siapa saja, kapan saja, dan di mana saja, meskipun setiap manusia menempuh jalan yang berbeda untuk menemukannya.
Karena itu, perbedaan pilihan jalan hidup tidak semestinya menjadi alasan untuk saling membatasi, mendiskriminasi, atau memperlakukan orang lain secara tidak adil. Bagi saya, esensi kemanusiaan bukan terletak pada ornamen yang membedakan, melainkan pada nilai-nilai yang menyatukan. []








































