Mubadalah.id – Ruang digital terpenuhi oleh narasi tentang Feminine Energy. Di Instagram, jutaan unggahan menggunakan tagar ini. Di TikTok, tayangannya mencapai miliaran kali.
Konsep ini terpromosikan sebagai kunci kebahagiaan perempuan cukup “mengaktifkan energi feminin”, maka relasi akan membaik, pasangan akan lebih bertanggung jawab, dan hidup terasa lebih ringan. Namun, di balik bahasa yang terdengar lembut dan menenangkan, tersimpan persoalan serius yang jarang dibicarakan secara jujur.
Kritik yang tajam terhadap tren ini tersampaikan oleh Kalis Mardiasih melalui kanal YouTube-nya dalam video berjudul “Feminine Energy: Mitos, Fakta, Bahayanya”. Dalam pemaparannya, Kalis menunjukkan bahwa Feminine Energy bukan sekadar konsep spiritual, melainkan telah berubah menjadi narasi populer yang berpotensi merugikan perempuan secara sosial, psikologis, dan struktural.
Pada awalnya, gagasan tentang energi feminin dan maskulin dapat kita temukan dalam berbagai tradisi filsafat dan psikologi. Filsafat Tao dengan konsep Yin dan Yang, misalnya, berbicara tentang keseimbangan semesta. Carl Jung juga mengenalkan konsep anima dan animus untuk menjelaskan bahwa setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan memiliki sisi feminin dan maskulin dalam dirinya.
Budaya Populer
Masalah muncul ketika konsep-konsep ini mereka persempit dan terpelintir dalam budaya populer. Dalam praktik yang marak di media sosial, Feminine Energy tereduksi menjadi seperangkat aturan perilaku bagi perempuan. Harus lembut, pasif, tidak terlalu mandiri, selalu tampil cantik, dan tidak banyak berpendapat.
Perempuan terdorong untuk “menerima” alih-alih “menentukan”, “menunggu” alih-alih “mengambil keputusan”. Sebagaimana kritik Kalis Mardiasih, Feminine Energy dalam versi populer hari ini berfungsi sebagai pendisiplinan tubuh, ekspresi, dan karakter perempuan. Ia mengajarkan bagaimana perempuan harus berpakaian, berjalan, tersenyum, bahkan bagaimana cara merajuk atau berpura-pura tidak tahu agar laki-laki merasa “dibutuhkan”.
Salah satu klaim paling sering muncul dalam konten Feminine Energy adalah suami yang tidak menafkahi terjadi karena istri terlalu mandiri. Klaim ini terdengar sederhana, bahkan terasa logis bagi sebagian orang. Namun, kalimat yang justru bermasalah. Dalam video Kalis Mardiasih tersebut, ia jelaskan bahwa berbagai penelitian menunjukkan fakta yang berbeda.
Banyak kasus penelantaran ekonomi dalam rumah tangga terjadi karena faktor struktural kehilangan pekerjaan, krisis ekonomi, konflik keluarga besar, atau perselingkuhan. Dalam kondisi ini, perempuan justru terpaksa menjadi mandiri agar keluarga tetap bisa bertahan hidup.
Dengan kata lain, kemandirian perempuan bukan penyebab penelantaran, melainkan akibat dari ketidakbertanggungjawaban atau situasi krisis yang keluarga hadapi. Ketika narasi Feminine Energy membalik logika ini, yang terjadi adalah perempuan kembali disalahkan atas penderitaan yang mereka alami.
Menilik Feminine Energy versi Budaya Populer
Feminine Energy versi populer mendorong perempuan untuk menggantungkan hidupnya pada laki-laki. Ketergantungan ini terkemas dalam bahasa spiritual dan romantis, perempuan “cukup percaya”, “cukup menerima”, dan “cukup lembut”. Padahal, ketergantungan ekonomi dan emosional justru membuat perempuan lebih rentan terhadap kekerasan dan penelantaran.
Kutipan praktisi psikologi dalam pemaparan Kalis Mardiasih menegaskan bahwa budaya patriarki yang kuat yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang bergantung membuat perempuan kehilangan daya tawar dalam relasi.
Dalam situasi krisis, perempuan yang tidak mandiri secara ekonomi cenderung terjebak dalam hubungan yang tidak sehat karena tidak memiliki pilihan lain. Alih-alih membebaskan, Feminine Energy versi ini justru menormalisasi kerentanan perempuan dan menyebutnya sebagai “kodrat”.
Relasi yang sehat membutuhkan komunikasi yang setara dan asertif. Penelitian dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa pasangan yang mampu menyampaikan kebutuhan, perasaan, dan batasan secara jelas cenderung memiliki hubungan yang lebih stabil dan adil.
Namun, ajaran Feminine Energy sering kali mendorong perempuan untuk menahan pendapat, berpura-pura tidak tahu, atau memanipulasi emosi demi menjaga “energi feminin”. Ini bertentangan dengan prinsip komunikasi asertif yang justru membantu menyelesaikan konflik tanpa kekerasan dan tanpa pengorbanan sepihak.
Kritik Kalis Mardiasih
Salah satu kritik paling penting yang disampaikan Kalis Mardiasih adalah bahwa Feminine Energy bekerja dengan cara mengalihkan masalah struktural menjadi masalah individu. Ketidakbahagiaan perempuan dianggap sebagai akibat dari “energi yang tidak seimbang”, bukan karena sistem kerja yang eksploitatif, krisis ekonomi, atau relasi kuasa yang timpang.
Dalam kondisi ekonomi yang tidak pasti, lapangan kerja yang sempit, dan beban hidup yang tinggi, wajar jika banyak orang merasa lelah dan kehilangan arah. Feminine Energy menawarkan pelarian instan. Tidak perlu mempersoalkan sistem, cukup “memperbaiki diri”.
Ironisnya, narasi ini sering terpasarkan oleh para kreator yang menjual kelas, coaching, dan produk berbayar dengan harga tinggi. Spiritualitas pun berubah menjadi komoditas.
Esai ini tidak menolak kelembutan, intuisi, atau ekspresi feminin. Yang kita kritik adalah ketika nilai-nilai tersebut dipaksakan sebagai satu-satunya jalan hidup perempuan, sambil menutup mata terhadap realitas sosial yang kompleks. Seperti yang Kalis Mardiasih tegaskan dalam videonya, tidak ada yang salah dengan diri perempuan.
Ketidakbahagiaan yang banyak perempuan alami hari ini bukan semata-mata persoalan personal, melainkan persoalan kolektif yang berakar pada sistem sosial, ekonomi, dan budaya. Perempuan tidak membutuhkan “aktivasi energi” untuk layak kita hargai. Justru yang perempuan butuhkan adalah relasi yang setara, struktur yang adil, dan ruang aman. Terutama sebagai ruang untuk bertumbuh tanpa harus mengorbankan diri sendiri. []



















































