Mubadalah.id – Sering kali kita membangun narasi besar tentang keadilan gender dan kesetaraan di dalam ruang seminar atau kelas-kelas universitas, atau lewat lembar jurnal sosiologi yang rumit. Dahulu, saya pun berpikir demikian. Namun, seiring perjalanan mendalami konsep kesalingan (Qira’ah Mubadalah), saya menemukan satu fakta yang mengejutkan. Ternyata, kebenaran sejati dari relasi kemanusiaan ini sudah hidup dan bernapas di dalam rumah saya sendiri selama puluhan tahun.
Ayah saya (yang saya panggil Papa) mungkin tidak pernah membaca diktat feminisme atau menghafal istilah sosiologis. Beliau memang tidak belajar Mubadalah secara formal. Namun, beliau menumbuhkan empatinya melalui pengalaman hidup. Berkat didikan tangguh dari orang tuanya, Papa tumbuh menjadi laki-laki mandiri.
Melalui kemandirian dan tindakan nyatanya, beliau membuktikan diri sebagai seorang Qawwam (pelindung) sejati bagi Ibu saya (yang saya panggil Bunda). Refleksi ini menjadi bukti kuat bahwa nilai kesetaraan tidak diwariskan lewat ceramah, melainkan lewat keteladanan yang organik.
Kedaulatan Tubuh Perempuan dan Pertarungan Nyawa
Secara biologis, kita tahu bahwa hasrat seorang laki-laki untuk menjadi ayah selalu dibayar lunas oleh perempuan dengan tubuh, kesehatan, bahkan nyawanya. Hari ini, kita melihat fenomena sosiologis yang tajam. Semakin banyak perempuan mandiri yang enggan menikah atau memiliki anak. Ketakutan mereka sangat beralasan. Mereka dihantui maraknya substandard men, yakni laki-laki disfungsional yang hanya menuntut hak reproduksi demi ego, lalu lepas tangan saat pasangannya menderita.
Ketakutan akan risiko persalinan ini bukanlah isapan jempol belaka. Saya melihat realitas ini dari sejarah kelahiran saya sendiri. Saat itu, Bunda sudah menunggu proses persalinan di rumah sakit sejak pukul 5 pagi. Waktu merayap lambat, bahkan hingga ketuban Bunda mengering karena saya tak kunjung keluar. Barulah pada pukul 20:00 malam, saya akhirnya lahir. Selama lima belas jam penuh, Bunda menahan sakit dan berada dalam ketidakpastian yang mencekam demi menghadirkan saya ke dunia.
Perjuangan berat itu membekas sangat dalam di benak Papa. Maka, sebelas tahun kemudian, ketika Bunda mengandung adik saya di usia 40-an, Papa langsung mengambil sikap tegas. Menyadari risiko medis yang tinggi, Papa bersikeras meminta Bunda menjalani operasi sesar.
Awalnya, Bunda menolak keras karena memikirkan mahalnya biaya operasi, sebuah kekhawatiran wajar dari seorang istri dan ibu agar tidak membebani ekonomi keluarga. Namun, Papa mengesampingkan semua kalkulasi finansial itu. Beliau lebih takut melihat belahan jiwanya menderita lagi karena melahirkan.
Tindakan Papa ini adalah wujud nyata dari Hifz an-Nafs (menjaga jiwa). Papa membuktikan bahwa tugas pelindung sejati adalah mengutamakan keselamatan istri di atas segalanya, termasuk uang. Sikap ini sekaligus menjadi antitesis bagi laki-laki disfungsional di luar sana. Ketika seorang suami sungguh-sungguh menjadi tameng bagi istrinya, perempuan tidak akan merasa dieksploitasi sebagai alat reproduksi, melainkan merasa aman dan bermartabat.
Menjaga Kewarasan Jiwa dan Membangun Peradaban Kecil
Beralih dari urusan reproduksi, kita sering lupa bahwa kesehatan mental (Hifz al-Aql) perempuan juga rentan terabaikan demi tuntutan peran domestik. Ketika Papa memboyong Bunda dari Kalimantan ke tanah Jawa, Bunda tiba di lingkungan yang sepenuhnya asing tanpa sanak saudara maupun teman. Papa sangat menyadari betapa rentannya kondisi psikologis seorang perempuan yang tercabut dari akar sosialnya.
Alih-alih menuntut Bunda menjadi “ibu rumah tangga super” yang melayani keluarga 24 jam penuh, Papa justru mengambil langkah sebaliknya. Beliau melarang Bunda bekerja terlalu lelah di rumah. Sebagai gantinya, selain Papa turut bekerja domestik, beliau mulai melibatkan kami, anak-anaknya, untuk berbagi tugas domestik secara aktif.
Tujuannya sangat mulia, memberi Bunda waktu luang untuk bernapas, bersantai, dan membangun kehidupan sosial barunya. Keputusan ini secara otomatis mendobrak paradigma kuno yang melabeli urusan rumah tangga murni sebagai kodrat perempuan.
Lebih dari itu, pembagian peran ini menjadi cara Papa dan Bunda mendidik kami, dua anak laki-lakinya. Mereka mengajarkan bahwa pekerjaan domestik adalah tanggung jawab seluruh penghuni rumah, tanpa memandang gender. Nilai ini juga berakar dari didikan orang tua mereka terdahulu yang selalu menekankan budaya bahu-membahu dan gotong royong di rumah, yang di mana seluruh anggota keluarga juga turut terlibat.
Kebiasaan tersebut menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) dan semangat kesalingan yang kuat. Khusus bagi kami para anak laki-laki, didikan ini menanamkan satu prinsip fundamental: laki-laki yang baik harus mandiri dan tangkas sejak dari dalam rumah sebelum nanti terjun ke dunia profesional. Dengan kemandirian ini, kami tidak akan pernah merendahkan perempuan sebagai “babu domestik”. Sebaliknya, kami akan memosisikan perempuan sebagai mitra setara untuk membangun peradaban kecil bernama rumah tangga.
Kematian Ego dan Kehadiran Emosional
Di samping kemandirian, tingkat kepemimpinan tertinggi seorang suami juga terlihat dari keberaniannya membunuh ego pribadi. Saya mengingat jelas sebuah kejadian heroik belum lama ini. Saat itu, Papa sedang berdinas dari Jakarta menuju Semarang dan memiliki jadwal bertemu klien pada hari Jumat. Pada waktu yang sama, sejak pagi Bunda sedang berlibur bersama teman-temannya di Pacitan, sementara adik saya tinggal sendirian di rumah kami di Jogja karena pagi dia masih harus berangkat sekolah.
Jika menggunakan kacamata patriarki kaku, ayah yang kelelahan bekerja punya hak penuh untuk menyuruh ibu segera pulang mengurus rumah. Namun, Papa menolak bersikap egois. Beliau justru merombak jadwal profesionalnya, menunda pertemuan klien menjadi hari Sabtu, lalu menempuh perjalanan darat yang melelahkan kembali ke Jogja demi menemani adik saya. Papa dengan sabar menunggu Bunda pulang dari Pacitan.
Puncaknya setelah Bunda pulang dari Pacitan pada pukul 21:00 malam, pada dua jam berikutnya Papa menyetir mobil membawa Bunda dan adik saya menuju Semarang dalam kondisi setengah mengantuk. Mengapa Papa rela melakukan manuver serumit ini?
Jawabannya sederhana: agar keesokan harinya Bunda dan adik saya bisa bersantai menikmati fasilitas hotel saat Papa bekerja menemui kliennya. Beliau sengaja mengambil rute paling sulit bagi dirinya sendiri, asalkan keluarganya bisa berjalan di rute yang mudah dan membahagiakan.
Dari kisah ini, Papa mendefinisikan ulang esensi sejati seorang Qawwam. Menjadi pelindung bukan sekadar tentang memberi nafkah finansial, melainkan memprioritaskan keselamatan dan kesejahteraan keluarga di atas kenyamanan pribadi. Pengorbanan fisik dan penundaan urusan profesional bukanlah sebuah kerugian.
Sebaliknya, Papa memegang teguh sebuah prinsip spiritual yang sangat fundamental, membahagiakan keluarga adalah sumber keberkahan tertinggi. Ketika seorang suami ikhlas mengutamakan senyum dan kenyamanan keluarganya, niscaya semesta akan membalasnya dengan melancarkan segala urusan dan melipatgandakan rezekinya.
Mendobrak Mitos Provider Pengecut dan Manipulasi Relasi Kuasa
Praktik keseharian Papa ini pada akhirnya menelanjangi satu masalah besar dalam tatanan keluarga konvensional yang sarat patriarki dan relasi kuasa: penggunaan materi sebagai senjata penundukan. Hari ini, marak terjadi fenomena laki-laki yang merasa sudah memenuhi tugas provider secara finansial, lalu menjadikannya alat kontrol mutlak atas pasangannya.
Demi membungkam kemerdekaan perempuan, mereka kerap melontarkan kalimat manipulatif seperti, “Kamu sudah diberi uang dan fasilitas, kenapa masih tidak nurut sama aku?” Setelah menaruh uang di atas meja dan menuntut ketaatan buta, mereka lepas tangan dari urusan afeksi dan domestik.
Keteladanan Papa menghancurkan mitos “provider pengecut” tersebut. Bagi Papa, materi bukanlah alat transaksi untuk mengontrol istri, melainkan murni instrumen pendukung untuk bertahan hidup. Nilai kepemimpinan yang sesungguhnya justru terletak pada curahan perhatian, inisiatif, dan kehadiran emosional yang utuh.
Papa pernah memberikan satu pesan yang sangat mendalam kepada saya. Beliau mengingatkan,
“Jangan pernah berpikir kalau kamu bisa membahagiakan istrimu nanti hanya dengan materi lalu kemudian merasa sudah beres urusan. Tapi, bahagiakanlah dengan perhatian, cinta, kasih sayang, dan kehadiranmu secara nyata. Inisiatiflah, mandirilah, jangan sampai gara-gara kamu tidak tangkas, lantas bakal merepotkan pasanganmu.”
Nasihat ini jelas bukan pepesan kosong. Ini adalah refleksi hidup dari apa yang telah Papa praktikkan dan lalui selama puluhan tahun pernikahannya dengan Bunda. Pesannya secara mutlak meruntuhkan topeng maskulinitas usang yang egois dan manipulatif.
Pada akhirnya, tulisan ini adalah sebuah proklamasi penting. Teori Mubadalah dan kepemimpinan Qawwam bukanlah utopia yang hanya indah di atas kertas. Nilai-nilai tersebut adalah praktik nyata yang mengalir melalui keteladanan organik. Kini, tugas saya sebagai laki-laki adalah menjaga, meneruskan, dan menghidupkan cetak biru kesatriaan dari Papa ini. Mari kita pastikan bahwa peradaban masa depan benar-benar dibangun di atas fondasi kesalingan, bukan relasi kuasa. []










































