Senin, 22 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Belajar Mubadalah

    Ayah Saya Tak Belajar Mubadalah, Tapi Ia Seorang Qawwam Sejati

    Melihat Sakit

    Melihat Sakit sebagai Bentuk Kasih Sayang Allah

    Disabilitas Netra

    Di Balik Kesempatan Kerja bagi Disabilitas Netra

    Li Shixing

    Ketika Li Shixing Datang Belajar tentang Pesantren, Tubuh, dan Ruang Aman

    Platonic Love

    Platonic Love Dan Potret Relationship Manusia Hari Ini

    Podcast

    Prinsip Mubadalah dalam Tren Podcast bagi Teman Tuli

    Angelus

    Angelus dan Seni Mengenal Diri Sendiri dalam Tradisi Katolik

    Parfum Perempuan

    Benarkah Islam Melarang Perempuan Memakai Parfum?

    Gender Equality

    Gender Equality dan Gender Equity: Mencari Titik Temu antara Hak dan Keadilan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Suntik KB

    Mengenal Suntik KB Kombinasi, Kontrasepsi Hormonal yang Membantu Menjaga Siklus Haid Tetap Teratur

    Suntikan KB

    Suntik KB sebagai Pilihan Kontrasepsi, Apa Saja Kelebihan dan Risikonya?

    Menggunakan Susuk KB

    Susuk KB: Siapa yang Boleh Menggunakannya dan Apa Efek Sampingnya?

    Memilih Susuk KB

    Sebelum Memilih Susuk KB, Kenali Manfaat dan Risikonya Terlebih Dahulu

    Pil KB Mini

    Cara Menggunakan Pil KB Mini yang Benar

    Pil KB Mini

    Tak Cocok dengan Pil KB Kombinasi? Pil KB Mini Bisa Menjadi Pilihan

    Minum Pil KB

    Bagaimana Jika Lupa Minum Pil KB?

    Pil KB

    Cara Menggunakan Pil KB Terpadu

    Pil KB

    4 Gejala yang Mengharuskan Anda Menghentikan Pil KB

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Belajar Mubadalah

    Ayah Saya Tak Belajar Mubadalah, Tapi Ia Seorang Qawwam Sejati

    Melihat Sakit

    Melihat Sakit sebagai Bentuk Kasih Sayang Allah

    Disabilitas Netra

    Di Balik Kesempatan Kerja bagi Disabilitas Netra

    Li Shixing

    Ketika Li Shixing Datang Belajar tentang Pesantren, Tubuh, dan Ruang Aman

    Platonic Love

    Platonic Love Dan Potret Relationship Manusia Hari Ini

    Podcast

    Prinsip Mubadalah dalam Tren Podcast bagi Teman Tuli

    Angelus

    Angelus dan Seni Mengenal Diri Sendiri dalam Tradisi Katolik

    Parfum Perempuan

    Benarkah Islam Melarang Perempuan Memakai Parfum?

    Gender Equality

    Gender Equality dan Gender Equity: Mencari Titik Temu antara Hak dan Keadilan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Suntik KB

    Mengenal Suntik KB Kombinasi, Kontrasepsi Hormonal yang Membantu Menjaga Siklus Haid Tetap Teratur

    Suntikan KB

    Suntik KB sebagai Pilihan Kontrasepsi, Apa Saja Kelebihan dan Risikonya?

    Menggunakan Susuk KB

    Susuk KB: Siapa yang Boleh Menggunakannya dan Apa Efek Sampingnya?

    Memilih Susuk KB

    Sebelum Memilih Susuk KB, Kenali Manfaat dan Risikonya Terlebih Dahulu

    Pil KB Mini

    Cara Menggunakan Pil KB Mini yang Benar

    Pil KB Mini

    Tak Cocok dengan Pil KB Kombinasi? Pil KB Mini Bisa Menjadi Pilihan

    Minum Pil KB

    Bagaimana Jika Lupa Minum Pil KB?

    Pil KB

    Cara Menggunakan Pil KB Terpadu

    Pil KB

    4 Gejala yang Mengharuskan Anda Menghentikan Pil KB

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Keluarga

Ayah Saya Tak Belajar Mubadalah, Tapi Ia Seorang Qawwam Sejati

Mari kita pastikan bahwa peradaban masa depan benar-benar dibangun di atas fondasi kesalingan, bukan relasi kuasa

Fisco Moedjito by Fisco Moedjito
22 Juni 2026
in Keluarga
A A
0
Belajar Mubadalah

Belajar Mubadalah

5
SHARES
253
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Sering kali kita membangun narasi besar tentang keadilan gender dan kesetaraan di dalam ruang seminar atau kelas-kelas universitas, atau lewat lembar jurnal sosiologi yang rumit. Dahulu, saya pun berpikir demikian. Namun, seiring perjalanan mendalami konsep kesalingan (Qira’ah Mubadalah), saya menemukan satu fakta yang mengejutkan. Ternyata, kebenaran sejati dari relasi kemanusiaan ini sudah hidup dan bernapas di dalam rumah saya sendiri selama puluhan tahun.

Ayah saya (yang saya panggil Papa) mungkin tidak pernah membaca diktat feminisme atau menghafal istilah sosiologis. Beliau memang tidak belajar Mubadalah secara formal. Namun, beliau menumbuhkan empatinya melalui pengalaman hidup. Berkat didikan tangguh dari orang tuanya, Papa tumbuh menjadi laki-laki mandiri.

Melalui kemandirian dan tindakan nyatanya, beliau membuktikan diri sebagai seorang Qawwam (pelindung) sejati bagi Ibu saya (yang saya panggil Bunda). Refleksi ini menjadi bukti kuat bahwa nilai kesetaraan tidak diwariskan lewat ceramah, melainkan lewat keteladanan yang organik.

Kedaulatan Tubuh Perempuan dan Pertarungan Nyawa

Secara biologis, kita tahu bahwa hasrat seorang laki-laki untuk menjadi ayah selalu dibayar lunas oleh perempuan dengan tubuh, kesehatan, bahkan nyawanya. Hari ini, kita melihat fenomena sosiologis yang tajam. Semakin banyak perempuan mandiri yang enggan menikah atau memiliki anak. Ketakutan mereka sangat beralasan. Mereka dihantui maraknya substandard men, yakni laki-laki disfungsional yang hanya menuntut hak reproduksi demi ego, lalu lepas tangan saat pasangannya menderita.

Ketakutan akan risiko persalinan ini bukanlah isapan jempol belaka. Saya melihat realitas ini dari sejarah kelahiran saya sendiri. Saat itu, Bunda sudah menunggu proses persalinan di rumah sakit sejak pukul 5 pagi. Waktu merayap lambat, bahkan hingga ketuban Bunda mengering karena saya tak kunjung keluar. Barulah pada pukul 20:00 malam, saya akhirnya lahir. Selama lima belas jam penuh, Bunda menahan sakit dan berada dalam ketidakpastian yang mencekam demi menghadirkan saya ke dunia.

Perjuangan berat itu membekas sangat dalam di benak Papa. Maka, sebelas tahun kemudian, ketika Bunda mengandung adik saya di usia 40-an, Papa langsung mengambil sikap tegas. Menyadari risiko medis yang tinggi, Papa bersikeras meminta Bunda menjalani operasi sesar.

Awalnya, Bunda menolak keras karena memikirkan mahalnya biaya operasi, sebuah kekhawatiran wajar dari seorang istri dan ibu agar tidak membebani ekonomi keluarga. Namun, Papa mengesampingkan semua kalkulasi finansial itu. Beliau lebih takut melihat belahan jiwanya menderita lagi karena melahirkan.

Tindakan Papa ini adalah wujud nyata dari Hifz an-Nafs (menjaga jiwa). Papa membuktikan bahwa tugas pelindung sejati adalah mengutamakan keselamatan istri di atas segalanya, termasuk uang. Sikap ini sekaligus menjadi antitesis bagi laki-laki disfungsional di luar sana. Ketika seorang suami sungguh-sungguh menjadi tameng bagi istrinya, perempuan tidak akan merasa dieksploitasi sebagai alat reproduksi, melainkan merasa aman dan bermartabat.

Menjaga Kewarasan Jiwa dan Membangun Peradaban Kecil

Beralih dari urusan reproduksi, kita sering lupa bahwa kesehatan mental (Hifz al-Aql) perempuan juga rentan terabaikan demi tuntutan peran domestik. Ketika Papa memboyong Bunda dari Kalimantan ke tanah Jawa,  Bunda tiba di lingkungan yang sepenuhnya asing tanpa sanak saudara maupun teman. Papa sangat menyadari betapa rentannya kondisi psikologis seorang perempuan yang tercabut dari akar sosialnya.

Alih-alih menuntut Bunda menjadi “ibu rumah tangga super” yang melayani keluarga 24 jam penuh, Papa justru mengambil langkah sebaliknya. Beliau melarang Bunda bekerja terlalu lelah di rumah. Sebagai gantinya, selain Papa turut bekerja domestik, beliau mulai melibatkan kami, anak-anaknya, untuk berbagi tugas domestik secara aktif.

Tujuannya sangat mulia, memberi Bunda waktu luang untuk bernapas, bersantai, dan membangun kehidupan sosial barunya. Keputusan ini secara otomatis mendobrak paradigma kuno yang melabeli urusan rumah tangga murni sebagai kodrat perempuan.

Lebih dari itu, pembagian peran ini menjadi cara Papa dan Bunda mendidik kami, dua anak laki-lakinya. Mereka mengajarkan bahwa pekerjaan domestik adalah tanggung jawab seluruh penghuni rumah, tanpa memandang gender. Nilai ini juga berakar dari didikan orang tua mereka terdahulu yang selalu menekankan budaya bahu-membahu dan gotong royong di rumah, yang di mana seluruh anggota keluarga juga turut terlibat.

Kebiasaan tersebut menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) dan semangat kesalingan yang kuat. Khusus bagi kami para anak laki-laki, didikan ini menanamkan satu prinsip fundamental: laki-laki yang baik harus mandiri dan tangkas sejak dari dalam rumah sebelum nanti terjun ke dunia profesional. Dengan kemandirian ini, kami tidak akan pernah merendahkan perempuan sebagai “babu domestik”. Sebaliknya, kami akan memosisikan perempuan sebagai mitra setara untuk membangun peradaban kecil bernama rumah tangga.

Kematian Ego dan Kehadiran Emosional

Di samping kemandirian, tingkat kepemimpinan tertinggi seorang suami juga terlihat dari keberaniannya membunuh ego pribadi. Saya mengingat jelas sebuah kejadian heroik belum lama ini. Saat itu, Papa sedang berdinas dari Jakarta menuju Semarang dan memiliki jadwal bertemu klien pada hari Jumat. Pada waktu yang sama, sejak pagi Bunda sedang berlibur bersama teman-temannya di Pacitan, sementara adik saya tinggal sendirian di rumah kami di Jogja karena pagi dia masih harus berangkat sekolah.

Jika menggunakan kacamata patriarki kaku, ayah yang kelelahan bekerja punya hak penuh untuk menyuruh ibu segera pulang mengurus rumah. Namun, Papa menolak bersikap egois. Beliau justru merombak jadwal profesionalnya, menunda pertemuan klien menjadi hari Sabtu, lalu menempuh perjalanan darat yang melelahkan kembali ke Jogja demi menemani adik saya. Papa dengan sabar menunggu Bunda pulang dari Pacitan.

Puncaknya setelah Bunda pulang dari Pacitan pada pukul 21:00 malam, pada dua jam berikutnya Papa menyetir mobil membawa Bunda dan adik saya menuju Semarang dalam kondisi setengah mengantuk. Mengapa Papa rela melakukan manuver serumit ini?

Jawabannya sederhana: agar keesokan harinya Bunda dan adik saya bisa bersantai menikmati fasilitas hotel saat Papa bekerja menemui kliennya. Beliau sengaja mengambil rute paling sulit bagi dirinya sendiri, asalkan keluarganya bisa berjalan di rute yang mudah dan membahagiakan.

Dari kisah ini, Papa mendefinisikan ulang esensi sejati seorang Qawwam. Menjadi pelindung bukan sekadar tentang memberi nafkah finansial, melainkan memprioritaskan keselamatan dan kesejahteraan keluarga di atas kenyamanan pribadi. Pengorbanan fisik dan penundaan urusan profesional bukanlah sebuah kerugian.

Sebaliknya, Papa memegang teguh sebuah prinsip spiritual yang sangat fundamental, membahagiakan keluarga adalah sumber keberkahan tertinggi. Ketika seorang suami ikhlas mengutamakan senyum dan kenyamanan keluarganya, niscaya semesta akan membalasnya dengan melancarkan segala urusan dan melipatgandakan rezekinya.

Mendobrak Mitos Provider Pengecut dan Manipulasi Relasi Kuasa

Praktik keseharian Papa ini pada akhirnya menelanjangi satu masalah besar dalam tatanan keluarga konvensional yang sarat patriarki dan relasi kuasa: penggunaan materi sebagai senjata penundukan. Hari ini, marak terjadi fenomena laki-laki yang merasa sudah memenuhi tugas provider secara finansial, lalu menjadikannya alat kontrol mutlak atas pasangannya.

Demi membungkam kemerdekaan perempuan, mereka kerap melontarkan kalimat manipulatif seperti, “Kamu sudah diberi uang dan fasilitas, kenapa masih tidak nurut sama aku?” Setelah menaruh uang di atas meja dan menuntut ketaatan buta, mereka lepas tangan dari urusan afeksi dan domestik.

Keteladanan Papa menghancurkan mitos “provider pengecut” tersebut. Bagi Papa, materi bukanlah alat transaksi untuk mengontrol istri, melainkan murni instrumen pendukung untuk bertahan hidup. Nilai kepemimpinan yang sesungguhnya justru terletak pada curahan perhatian, inisiatif, dan kehadiran emosional yang utuh.

Papa pernah memberikan satu pesan yang sangat mendalam kepada saya. Beliau mengingatkan,

“Jangan pernah berpikir kalau kamu bisa membahagiakan istrimu nanti hanya dengan materi lalu kemudian merasa sudah beres urusan. Tapi, bahagiakanlah dengan perhatian, cinta, kasih sayang, dan kehadiranmu secara nyata. Inisiatiflah, mandirilah, jangan sampai gara-gara kamu tidak tangkas, lantas bakal merepotkan pasanganmu.”

Nasihat ini jelas bukan pepesan kosong. Ini adalah refleksi hidup dari apa yang telah Papa praktikkan dan lalui selama puluhan tahun pernikahannya dengan Bunda. Pesannya secara mutlak meruntuhkan topeng maskulinitas usang yang egois dan manipulatif.

Pada akhirnya, tulisan ini adalah sebuah proklamasi penting. Teori Mubadalah dan kepemimpinan Qawwam bukanlah utopia yang hanya indah di atas kertas. Nilai-nilai tersebut adalah praktik nyata yang mengalir melalui keteladanan organik. Kini, tugas saya sebagai laki-laki adalah menjaga, meneruskan, dan menghidupkan cetak biru kesatriaan dari Papa ini. Mari kita pastikan bahwa peradaban masa depan benar-benar dibangun di atas fondasi kesalingan, bukan relasi kuasa. []

Tags: Belajar MubadalahkeluargaKesalinganQawwamRelasi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Melihat Sakit sebagai Bentuk Kasih Sayang Allah

Fisco Moedjito

Fisco Moedjito

Part-time student and worker. Full-time learner. Bachelor of Law from Universitas Gadjah Mada.

Related Posts

Wahnan 'ala Wahnin
Buku

Wahnan ‘ala Wahnin: Ketika Pengalaman Biologis Khas Perempuan Dibahas oleh Santri Perempuan

22 Juni 2026
Gender Equality
Publik

Gender Equality dan Gender Equity: Mencari Titik Temu antara Hak dan Keadilan

19 Juni 2026
Dawuh Nyai Noor Chodijah
Personal

Membaca Dawuh Mbah Nyai Noor Chodijah tentang Laku Batin Perempuan

19 Juni 2026
Tanggung Jawab Moral
Keluarga

Menakar Batas Tanggung Jawab Moral dalam Pengasuhan Kesalingan

18 Juni 2026
Sebelum Harimu Bersamanya
Buku

Buku “Sebelum Harimu Bersamanya”: Sebuah Panduan Sebelum Menikah

17 Juni 2026
Relasi Mubadalah
Publik

Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

15 Juni 2026
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Ayah Saya Tak Belajar Mubadalah, Tapi Ia Seorang Qawwam Sejati
  • Melihat Sakit sebagai Bentuk Kasih Sayang Allah
  • Mengenal Suntik KB Kombinasi, Kontrasepsi Hormonal yang Membantu Menjaga Siklus Haid Tetap Teratur
  • Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur
  • Suntik KB sebagai Pilihan Kontrasepsi, Apa Saja Kelebihan dan Risikonya?

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0