Mubadalah.id – Sembilan dari sepuluh negara asal benua Afrika berhasil melaju ke babak utama Piala Dunia 2026. Senegal, Ghana, Afrika Selatan, Kongo, Maroko, Mesir, Aljazair, serta Tanjung Verde dan Pantai Gading menjadikan Afrika sebagai benua dengan representasi paling unggul di Piala Dunia tahun ini.
Secara statistik, negara-negara Afrika mengungguli benua-benua lain. Mereka punya persentase lolos hingga 90 persen. Sementara, benua lain yang acap mendapat imaji unggulan, seperti Eropa dan Amerika Latin, justru secara statistik berada di bawah mereka.
Eropa gagal meloloskan Turki, Skotlandia, serta Republik Ceko. Sementara, Amerika Latin tak bisa mengangkut tim unggulan yang juga kampiun Piala Dunia sekaliber Uruguay. Padahal, skuad La Celeste asuhan Bielsa punya segudang talenta mumpuni, seperti Ronald Araujo, Frederico Valverde, Bentancur, hingga Darwin Nunez.
Namun, negara-negara Alkebulan sukses memberikan kejutan. Tim debutan sekaliber Tanjung Verde malah sukses melenggang ke babak 32 besar selepas bermain tiga laga tanpa sekalipun kalah. Tanjung Verde bahkan berhasil membikin Spanyol garuk-garuk kepala seusai bermain imbang tanpa gol di match day perdana.
Sayangnya, di balik kesuksesan negara-negara Afrika itu, kelindan narasi kolonialisme justru mencuat. Alih-alih memberitakan bagaimana negara-negara Afrika membangun sepakbolanya, dunia malah ternina-bobokkan oleh sebuah narasi kolonialisme yang begitu subtil. Apa gerangan?
Marjinalisasi Afrika lewat narasi dukun
Praktik kolonialisme yang menimpa negara-negara The Cradle of Humankind pada Piala Dunia 2026 itu muncul dalam narasi perdukunan. Media ramai-ramai memuat pewartaan soal pengakuan beberapa dukun yang menyebut bahwa mereka telah mengirimkan santet untuk lawan-lawan wakil Afrika.
Seorang dukun asal Ghana, Kwaku Bonsam, mengaku telah mengirimkan teluh kepada penyerang Inggris, Harry Kane. “Saya mengirim teluh kepada Harry Kane. Saya tidak berharap dia cedera parah, cuma ingin dia berhenti menyerang negara saya,” ujarnya kepada media usai Inggris bermain imbang dengan Ghana 0-0.
Pelatih Inggris, Thomas Tuchel, bahkan merespon narasi perdukunan yang mencuat. Ia menyampaikan kekesalannya kepada wartawan. “Ghana menggunakan teluh. Wasit harus memeriksa VAR dan mereka akan melihat para suporter selalu meniupkan bedak putih di stadion,” keluh mantan pelatih Chelsea itu.
Narasi perdukunan ini sebetulnya berbahaya. Prestasi Afrika sekadar beroleh validasi magis, sementara usaha dan kerja keras mereka seolah enyah begitu saja. Media seperti hendak mengatakan bahwa kerja keras tim-tim unggulan mentok di tangan para dukun Afrika.
Poskolonialisme memandang fenomena ini sebagai marjinalisasi biner (Aschroft, 1998). Negara-negara Afrika dianggap sebagai negara berkultur sepakbola yang uncivilized, sehingga mereka masih bergantung pada kekuatan mistis. Sementara, negara-negara Barat mendapat posisi civilized yang bergantung pada performa.
Prestasi sebagai sikap resistensi Afrika
Kini kita sama-sama menyadari, bahwa di balik narasi perdukunan yang naasnya turut menimbulkan rasa bangga di segelintir publik Mother of Africa, mengada sebentuk praktik kolonialisme jahat. Kesadaran ini akan mengantarkan kita menuju tanjung harapan munculnya sikap resisten dari tim-tim Afrika sendiri.
Resistensi kelompok marjinal (subaltern) dalam menentang kolonialisme merupakan fenomena yang lazim muncul dalam diskursus poskolonialisme. Menurut bentuknya, resistensi itu dapat berupa mimicry (peniruan), mockering (penyerupaan), serta resistensi radikal (Yasa, 2014).
Kompetisi Piala Dunia 2026 memungkinkan tim-tim Afrika yang beroleh marjinalisasi untuk menunjukkan tiga bentuk resistensi tadi, utamanya resistensi radikal. Lo dan Gilbert (1998) memahami resistensi radikal sebagai perlawanan yang terorganisasi dan berlangsung secara terbuka.
Tim-tim Garden of Eden berkesempatan untuk menunjukkan resistensi radikal itu kepada dunia lewat prestasi. Kesembilan negara yang telah lolos akan bertemu negara-negara dari benua lain, utamanya Barat yang seringkali beroleh imaji superior. Jika wakil Afrika berhasil menjungkalkan mereka, maka runtuhlah belenggu kolonialisme itu.
Namun, seandainya wakil-wakil Afrika mesti tandas di babak knock-out, itu tak berarti bahwa mereka diam dan menyerah. Capaian yang mereka tunjukkan sepanjang gelaran Piala Dunia kali ini telah membuka mata dunia, bahwa sepakbola Afrika juga punya kualitasnya sendiri.
Kedepan, kita berharap bahwa narasi-narasi serupa perdukunan yang mengalamat pada tim-tim Afrika atau negara-negara dunia ketiga tak lagi muncul. Para pecinta sepakbola jelas lebih antusias menyimak laga dan statistik di atas lapangan hijau, ketimbang mendapatkan banjir informasi soal santet, dukun, dan atau apapun. Begitu kan? []









































