Mubadalah.id – Apabila muncul salah satu atau beberapa tanda bahaya setelah aborsi sebagai berikut, segera cari pertolongan medis:
Pertama, perdarahan hebat dari vagina. Kedua, demam tinggi. Ketiga, nyeri yang sangat hebat pada bagian bawah perut.
Keempat, pingsan atau kehilangan kesadaran. Kelima, keluar cairan berbau busuk dari vagina.
Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi
Hanya dalam waktu sekitar dua minggu setelah aborsi, seseorang sudah dapat hamil kembali. Karena banyak metode kontrasepsi baru bekerja secara optimal setelah beberapa waktu, sebaiknya penggunaan KB dimulai sesegera mungkin setelah tindakan aborsi.
Pertama, pil KB dapat mulai diminum pada hari tindakan aborsi dilakukan. Jika ingin menundanya, sebaiknya jangan lebih dari satu minggu setelah aborsi.
Kedua, spiral (IUD) dapat dipasang segera setelah aborsi, dengan catatan tidak terdapat risiko infeksi.
Ketiga, suntik KB. Suntikan KB pertama dapat diberikan pada hari tindakan aborsi dilakukan atau paling lambat satu minggu setelahnya.
Keempat, susuk (implan KB) dapat Anda pasang sebelum atau sesudah tindakan aborsi pada hari yang sama. Jika tidak Anda lakukan pada hari itu, pemasangan sebaiknya tidak melebihi satu minggu setelah aborsi.
Kelima, sterilisasi perempuan. Apabila usia kehamilan yang kurang dari tiga minggu, sterilisasi dapat Anda lakukan bersamaan dengan tindakan aborsi atau segera setelahnya. Namun, keputusan ini harus Anda pertimbangkan secara matang.
Vasektomi
Keenam, vasektomi (sterilisasi laki-laki) dapat Anda lakukan kapan saja karena bukan laki-laki yang menjalani tindakan aborsi. Namun, keputusan untuk menjalani sterilisasi juga harus mempertimbangkannya secara matang.
Ketujuh, kondom dapat Anda gunakan sejak pertama kali melakukan hubungan seksual setelah aborsi. Namun, sebaiknya tunggu hingga perdarahan benar-benar berhenti sebelum kembali berhubungan seksual. Kondom juga dapat membantu melindungi dari penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS.
Kedelapan, spermisida dapat Anda gunakan dengan cara yang sama seperti kondom, yaitu setelah kembali melakukan hubungan seksual. Spermisida yang mengandung nonoxynol-9 juga dapat membantu memberikan perlindungan terhadap gonore dan klamidia.
Kesembilan, diafragma dapat Anda pasang sebelum maupun sesudah tindakan aborsi pada hari yang sama, selama tidak terdapat tanda-tanda luka atau infeksi. Jika Anda gunakan bersama spermisida, diafragma juga dapat membantu memberikan perlindungan terhadap gonore dan klamidia.
Kesepuluh, metode KB alami, seperti metode kalender atau pengamatan lendir serviks, belum dapat Anda gunakan hingga siklus menstruasi kembali normal. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 327.






































