Mubadalah.id – Anak laki-laki berbaju putih, berkain sarung dan berkopyah hitam itu berbondong-bondong, berjalan bersama. Mereka datang dari arah makam pesantren, mungkin usai mengikuti doa dan tahlil bersama di makam para pendiri pondok pesantren.
Pemandangan ini saya temui Jum’at sore (10/7/2026) ketika mengantarkan salah satu ponakan mondok di Pondok Pesantren Muallimin Muallimat Babakan Ciwaringin Cirebon. Ya, keluarga kami masih percaya pondok pesantren sebagai tempat menitipkan masa depan anak-anak, untuk tertempa, dibimbing dan diasuh agar menjadi pribadi yang tangguh.
Wajah-wajah santri baru nampak jelas di raut mukanya. Ada yang ceria, dan tertawa sambil bersenda gurau dengan kawan di sampingnya. Namun ada pula yang masih menunjukkan raut muka sedih, karena harus berpisah dengan orang tua dan keluarga.
Di tengah kabar kurang baik yang menerpa pesantren, satu sisi kekhawatiran itu tetap ada. Namun kami sadar bahwa tidak bisa juga kita menyerahkan sepenuhnya masa depan itu pada pengurus atau pengasuh pesantren.
Sebagai orang tua yang masih percaya pondok pesantren, setidaknya kita juga berupaya terlibat dalam proses pengasuhan itu. Kata lain adalah, meski berjauhan tetap harus ada pengasuhan bersama, minimal komunikasi dengan anak jangan sampai terputus. Selain itu segala hak dan kewajiban sebagai santri pun terpenuhi dengan baik.
Merantau untuk Menuntut Ilmu
Selain ke Babakan Ciwaringin Cirebon, dua ponakan lainnya sudah terlebih dulu berangkat. Ada yang ke Pondok Pesantren Dar al Qur’an Arjawinangun Cirebon, Pondok Pesantren Al Hikmah Sirampog Brebes Jawa Tengah. Lalu ada pula yang ke Pondok Pesantren Manbaul Ma’arif Denanyar Jombang Jawa Timur dan Pondok Pesantren Tanggir Singgahan Tuban.
Sementara anak saya sendiri, sudah satu yang lalu juga pergi merantau menuntut ilmu di Madrasah Bertaraf Internasional (MBI) Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Jawa Timur. Sedangkan ponakan dari pihak suami, ada yang sedang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo dan Banyuwangi Jawa Timur.
Melansir dari Islami.co, sejak dulu, merantau menjadi salah satu cara lelaku para ulama, dan kaum sufi. Selain itu juga cendekiawan muslim untuk mendapatkan ilmu dan hikmah. Kita bisa ketahui, semisal pada laku para muhaddits, yaitu para ahli ilmu hadis. Mereka menjelajah dari satu negeri ke negeri lain demi mencari hadis, melakukan kajian dan klarifikasi, serta mencari berkah dari para guru.
Begitu juga para ulama lainnya, tak terkecuali ulama fikih. Seorang yang bisa kita simak adalah imam mazhab fikih yang ajarannya tersebar secara luas di Indonesia, yakni Imam Asy Syafii rahimahullah.
Imam Syafi’I lahir di Gaza pada 150 H. Ia melakukan rihlah keilmuan ke banyak penjuru, mulai dari Makkah, Madinah, Baghdad, serta banyak negeri lainnya, dan akhirnya wafat di Mesir. Karyanya banyak menjadi rujukan dalam ilmu fikih, dan mazhabnya menjadi satu di antara empat mazhab fikih yang terakui secara luas oleh kalangan Ahlussunnah wal Jamaah.
Di luar karya-karya fikih yang monumental, ternyata ulama bernama asli Muhammad bin Idris ini juga mengarang kitab berisi kumpulan syair-syair renungan dan hikmah, yang ia namakan Diwan asy Syafi’i.
Banyak sekali hal yang beliau ulas dalam kitab itu. Mulai refleksi keagamaan, kehidupan sosial, perjalanan mencari ilmu, juga tata krama bersama orang lain. Nah, salah satu syair yang terabadikan oleh beliau adalah tentang hikmah safar, yaitu merantau dan bepergian.
Lima Hikmah Merantau Menurut Imam Syafi’i
Imam Asy Syafi’i menyebutkan:
تَغَرَّبْ عَنِ اْلَاوْطَانِ فِي طَلَبِ الْعُلَى # وَ سَافِرْ فَفِي الْاَسْفَارِ خَمْسُ فَوَائِدَ تَفَرُّجُ هَمٍّ، وَ اكْتِسَابُ مَعِيْشَةٍ # وَ عِلْمٌ وَ آدَابٌ وَ صُحْبَةُ مَاجِدٍ
“Mengasinglah (berpindahlah) ke banyak negeri untuk mencari kemuliaan. Dan bepergianlah, dalam bepergian itu ada lima faedah (yang bisa didapat). Hilangnya kesusahan, mendapatkan penghidupan, serta (mendapatkan) ilmu, tata krama, dan teman-teman yang mulia.”
Imam Asy Syafi’i menyebutkan bahwa ada lima hal yang bisa seseorang dapatkan jika merantau dengan niat yang mulia dan mengharap ridha-Nya, yaitu:
Pertama, Hilangnya Kesusahan
Seseorang bisa saja datang ke suatu daerah, dengan beban yang terbawa dari asal daerahnya. Segala resah di negeri sendiri, agaknya bisa sirna dengan keadaan di negeri orang yang bisa jadi lebih indah, lebih dinamis, atau adanya kelebihan-kelebihan yang tidak bisa ia dapat di kampung halaman. Maka keceriaan dalam lelahnya bepergian, bisa terbayar dengan rasa terhibur di negeri orang.
Kedua, Mendapatkan Penghidupan
Kadang kala kampung halaman tidak menyediakan lebih banyak hal untuk mencari nafkah, penghidupan untuk keluarga, atau tempat pendidikan yang lebih layak, karena berbagai faktor.
Maka merantau pun menjadi pilihan. Sebagaimana kita lihat saat ini masyarakat banyak pergi ke kota yang konon menjanjikan lapangan kerja lebih luas. Meski tak harus ke kota, namun ketika seseorang merantau, ia akan berusaha untuk menjalani keadaan secara mandiri, dan muncullah kemampuan untuk mempertahankan hidupnya.
Ketiga, Bertambah Ilmu
Setiap ladang punya kumbangnya sendiri. Setiap daerah punya kelebihan dan keistimewaan ilmu dan hikmah yang tak bisa didapat di kampung. Maka merantau adalah satu sarana mencari ilmu, mendapatkan sebanyak mungkin ibrah dan teladan. Tujuannya agar batin bisa menjadi semakin terisi dengan kebijaksanaan, baik dalam wawasan maupun bersikap.
Keempat, Mendapatkan Pelajaran Tata Krama
Setiap daerah punya kulturnya masing-masing. Hal ini akan menyadarkan seseorang yang merantau bahwa hidup bersama dalam keragaman memerlukan proses belajar hidup yang terus menerus. Belajar toleransi, menghargai orang lain, saling membantu, adalah tata krama yang bisa didapat jika seseorang sudah merantau dan mengenali realitas daerah perantauannya.
Kelima, Bertambahnya Kawan yang Mulia Di Tanah Rantau
Menjalin relasi-relasi baru yang baik akan sangat menguntungkan, baik dalam perjalanan karir maupun proses mencari ilmu. Dari relasi dan pertemanan bisa mendapatkan kebaikan-kebaikan yang tak terduga. Ketika pulang, hal itu bisa dimanfaatkan untuk kembali turut membangun kampung halaman, dan memberdayakan masyarakat.
Demikianlah kurang lebih bagaimana Imam Asy Syafii menunjukkan keistimewaan dalam sebuah perjalanan dan perantauan. Merantau untuk menuntut ilmu, bepergian untuk bekerja atau sekadar berjalan-jalan, akan menguatkan perasaan kita semua sebagai bagian dari masyarakat dunia.
Jadi, anak-anak kami sudah pergi merantau mengarungi bumi Allah yang Maha Luas, sehingga kami tak perlu lagi cemas, percaya bahwa mereka sesungguhnya yang kelak akan menjadi generasi emas. []











































