Minggu, 12 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    Percaya Pondok Pesantren

    Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Al-Ajurumiyah

    Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    Percaya Pondok Pesantren

    Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Al-Ajurumiyah

    Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Hikmah

Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

Narasi mengenai prosesi spiritual di balik lahirnya kitab ini terabadikan dengan sangat indah oleh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dalam kitab “Mukhtashar Jiddan."

Salman Akif Faylasuf by Salman Akif Faylasuf
12 Juli 2026
in Hikmah
A A
0
Kitab Al-Ajurumiyah

Kitab Al-Ajurumiyah

8
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Dalam tradisi intelektual Islam, sebuah karya tulis tidak hanya kita nilai dari kedalaman isinya atau keindahan bahasanya. Akan tetapi dari kedalaman niat sang penulis saat menggoreskan tintanya. Salah satu potret paling agung mengenai hakikat ketulusan ini tertuang dalam lembaran sejarah penyusunan kitab “Al-Ajurumiyah.” Sebuah kitab masteris bidang ilmu nahwu yang tertulis oleh Syekh Ibnu Ajurrum ash-Shanhaji.

Narasi mengenai prosesi spiritual di balik lahirnya kitab ini terabadikan dengan sangat indah oleh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dalam kitab “Mukhtashar Jiddan.” Sebuah karya syarah (penjelas) atas “Al-Ajurumiyah”. Beliau menukil sebuah kisah yang sarat akan makna sufistik:

حكي أنه ألف هذا المتن تجاه البيت الشريف وحكي أيضا انه لما الفه ألقاه في البحر وقال: ان كان خالصا لوجه الله تعالى فلا يبل، وكان الأمر كذلك. اه من حاشية الحامدي على الكفراوي

Artinya: “Dikisahkan bahwa Syekh ash-Shanhaji menulis kitab matan ini di hadapan Ka’bah yang mulia. Dikisahkan pula, bahwa ketika beliau selesai menyusun kitab “Al-Ajurumiyah”, beliau lantas pergi ke laut dan melemparkan karyanya tersebut ke dalam riak ombak seraya berujar pasrah: “Jika kitab ini ditulis dengan ikhlas demi mengharap rida Allah SWT, maka ia tidak akan basah. Dan kuasa Allah SWT pun bekerja, kitab tersebut tetap utuh, tidak basah oleh air laut, dan tidak pula rusak tersapu ombak.”

Catatan sejarah yang bersumber dari “Hasyiyah al-Hamidi ala Al-Kafrawi” ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur atau mitos masa lalu. Kisah ini adalah sebuah manifesto spiritual yang menjelaskan sebuah anomali sejarah. Bagaimana sebuah kitab ringkas, yang tertulis berabad-abad lalu di sudut magis pelataran Ka’bah, mampu bertahan melintasi ruang dan waktu hingga tetap terbaca, dihafalkan, dan terpelajari oleh jutaan pencinta ilmu di seluruh dunia hingga hari ini.

Metafor Air dan Ketulusan Jiwa

Ujian melemparkan kitab ke dalam laut adalah sebuah tindakan simbolis yang sangat radikal sekaligus sublim. Air laut senantiasa identik dengan sifat melarutkan, menghancurkan, dan melenyapkan. Mengorbankan naskah fisik yang tertulis dengan jerih payah ke dalam lautan lepas adalah bentuk kepasrahan total (tawakal) seorang hamba yang telah melepaskan ego keduniawiannya.

Syekh ash-Shanhaji tidak sedang mencari validasi manusia. Tidak pula mengejar popularitas, atau mengharapkan keuntungan materiil dari lembaran-lembaran kertas tersebut. Beliau hanya menginginkan satu hal: penerimaan di sisi Allah SWT.

Secara logika manusia, kertas yang terkena air pasti akan hancur dan tintanya akan luntur. Namun, ketika hukum alam bersinggungan dengan ketulusan yang murni, mukjizat non-nabi (karamah) sering kali menampakkan diri. Kitab yang tidak basah tersebut menjadi simbol nyata bahwa apa saja yang terjaga oleh Allah SWT karena keikhlasan penulisnya, tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh hukum alam sekalipun. Keikhlasan bertindak sebagai pelindung gaib yang membuat karya tersebut abadi.

Syahdan. Hari ini, kita hidup di era di mana karya terproduksi secara “massal” dan “instan”. Semua orang berlomba-lomba menulis, membuat konten, dan menyebarkan gagasan dengan motivasi yang sering kali terjebak pada angka digital. Jumlah pengikut, tanda suka (likes), tayangan (views), atau keuntungan finansial. Akibatnya, banyak karya yang lahir hari ini langsung terlupakan esok hari. Mereka lenyap tertelan “lautan” algoritma digital karena sejak awal tidak memiliki jangkar spiritual yang kuat.

Berkah yang Melintasi Generasi

Perbedaan mendasar antara karya ulama terdahulu dengan karya manusia modern terletak pada aspek barakah (keberkahan). Berkah secara bahasa berarti “ziyadatul khair”, yakni bertambahnya kebaikan. Kitab “Al-Ajurumiyah” adalah pengejawantahan sempurna dari definisi berkah tersebut. Meskipun secara fisik kitab ini sangat tipis dan ringkas, tetapi kebaikan yang dipancarkannya begitu raksasa.

Sejak abad ke-8 Hijriah hingga detik ini, tidak ada pesantren, madrasah, atau universitas Islam yang mempelajari bahasa Arab melainkan menempatkan “Al-Ajurumiyah” sebagai gerbang pertama yang harus kita tekuni. Kitab ini telah melahirkan ribuan ulama besar, menjadi jembatan bagi jutaan manusia untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah. Selain itu memicu lahirnya ratusan kitab komentar (syarah) dan catatan kaki (hasyiyah) dari generasi ke generasi.

Keberlanjutan ini adalah buah manis dari keikhlasan Syekh ash-Shanhaji saat melempar karyanya ke laut. Allah SWT mengabulkan doanya bukan hanya dengan menjaga lembaran kertasnya agar tidak basah pada hari itu. Akan tetapi dengan menjaga kemanfaatan ilmunya agar tidak pernah kering hingga akhir zaman.

Keikhlasan memiliki daya hidupnya sendiri. Ia seperti benih yang tertanam di tanah yang subur. Meskipun sang penanam telah tiada dan jasadnya telah menyatu dengan tanah, pohon yang tumbuh dari benih itu terus berbuah dan menaungi siapapun yang berteduh di bawahnya. Syekh ash-Shanhaji telah wafat ratusan tahun yang lalu. Namun setiap kali seorang santri di pelosok nusantara mengeja “Al-Kalamu huwal lafzhul murakkabul mufidu bil wadgh’i…”, pahala jariyahnya terus mengalir tiada henti ke kubur beliau.

Refleksi bagi Penulis Zaman Komemporer

Kisah magis dari kitab Al-Ajurumiyah ini memberikan tamparan keras sekaligus pelajaran berharga bagi kita semua yang berkecimpung dalam dunia literasi dan intelektualisme modern.

Kita sering kali terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara memasarkan karya kita, bagaimana agar tulisan kita viral, atau bagaimana agar nama kita terkenal luas. Kita lupa menanyakan satu hal yang paling krusial pada hati kecil kita: “Jika karya ini aku lemparkan ke dalam lautan kehidupan tanpa ada satu pun orang yang memujiku, apakah aku akan tetap ridla?”

Ketulusan Syekh ash-Shanhaji mengajarkan bahwa kualitas dan keabadian sebuah karya tidak ditentukan oleh strategi pemasaran yang canggih, tetapi oleh kebersihan hati saat merumuskannya. Ketika sebuah karya tertulis dengan ego yang kerdil untuk pamer, ia akan mati bersamaan dengan hilangnya tren. Namun, ketika karya tertulis dengan air mata ketulusan di hadapan Ka’bah, ia akan menjadi warisan abadi kemanusiaan.

Setidaknya, kisah yang ternukil oleh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dalam “Mukhtashar Jiddan” ini bukan sekadar tentang mukjizat fisik sebuah buku yang kebal air, namun pelajaran teologis bahwa Allah SWT adalah sebaik-baik penjaga. Apa yang diniatkan murni karena-Nya tidak akan pernah sia-sia.

Tugas kita sebagai manusia hanyalah berkarya dengan sebaik-baiknya. Memurnikan niat sebersih-bersihnya, lalu membiarkan Allah SWT yang mengantarkan karya tersebut menuju keabadiannya. Semoga kita semua mampu mengambil ibrah dari ketulusan Syekh ash-Shanhaji. Sehingga apa pun yang kita perbuat di dunia ini dapat meninggalkan jejak kebaikan yang tak lekang oleh waktu. Wallahu a’lam bisshawab. []

 

Tags: HikmahkaryakisahKitab Al-AjurumiyahKitab Kuningliterasi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Romina Pourmokhtari Ubah Pandangan Dunia: Perempuan Tak Harus Memilih Antara Karier dan Keluarga

Salman Akif Faylasuf

Salman Akif Faylasuf

Salman Akif Faylasuf. Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Sekarang Nyantri di PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Related Posts

Surah 'Abasa
Disabilitas

Membaca Ulang Hikmah Inklusivitas Surah ‘Abasa 1-10

5 Juli 2026
Dawuh Nyai Noor Chodijah
Personal

Membaca Dawuh Mbah Nyai Noor Chodijah tentang Laku Batin Perempuan

19 Juni 2026
Siswi
Disabilitas

Tidak Ingin Diabaikan: Kisah Siswi Tunagrahita yang Meminta Kesempatan yang Sama

4 Juni 2026
Kitab Kuning
Keluarga

Ketika Kitab Kuning Dibaca Ulang: Upaya Pesantren Membicarakan Kesetaraan dalam Keluarga

3 Juni 2026
Suara Disabilitas
Disabilitas

Dari Dialog Ibrahim-Ismail ke Meja Kebijakan: Refleksi Keterlibatan Suara Disabilitas

3 Juni 2026
Mahasiswa Disabilitas
Disabilitas

Kisah Mahasiswa Disabilitas Kuliah di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

29 Mei 2026
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah
  • Romina Pourmokhtari Ubah Pandangan Dunia: Perempuan Tak Harus Memilih Antara Karier dan Keluarga
  • 6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati
  • Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman
  • Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0