Kamis, 18 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Logika Dimaafkan

    Menolak Logika “Dimaafkan” bagi Najis Difabel: Seri Kritis Fikih Disabilitas – Bagian 1

    SUPI

    Merawat Jiwa, Menjaga Amanah: Catatan Mahasantri SUPI Belajar Kesehatan Mental dengan Perspektif KUPI

    Anak-anak Tuli

    Dari Anak-Anak Tuli, Saya Belajar Melihat Dunia dengan Cara Berbeda

    Disabilitas Autisme

    Terasing di Lingkungannya: Dilema yang Dihadapi Penyandang Disabilitas Autisme Tingkat I

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik

    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    KB Hormonal

    Hal-hal yang Perlu Diketahui Sebelum Menggunakan KB Hormonal

    Spermisida

    Cara Menggunakan Spermisida

    Mengusap Kepala Anak Yatim

    Memaknai Mengusap Kepala Anak Yatim Secara Mubadalah

    Spermisida untuk

    Apa itu Spermisida? Ketahui Fungsi dan Cara Pakainya

    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Logika Dimaafkan

    Menolak Logika “Dimaafkan” bagi Najis Difabel: Seri Kritis Fikih Disabilitas – Bagian 1

    SUPI

    Merawat Jiwa, Menjaga Amanah: Catatan Mahasantri SUPI Belajar Kesehatan Mental dengan Perspektif KUPI

    Anak-anak Tuli

    Dari Anak-Anak Tuli, Saya Belajar Melihat Dunia dengan Cara Berbeda

    Disabilitas Autisme

    Terasing di Lingkungannya: Dilema yang Dihadapi Penyandang Disabilitas Autisme Tingkat I

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik

    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    KB Hormonal

    Hal-hal yang Perlu Diketahui Sebelum Menggunakan KB Hormonal

    Spermisida

    Cara Menggunakan Spermisida

    Mengusap Kepala Anak Yatim

    Memaknai Mengusap Kepala Anak Yatim Secara Mubadalah

    Spermisida untuk

    Apa itu Spermisida? Ketahui Fungsi dan Cara Pakainya

    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Sisi Gelap Ilmu Pengetahuan: Pandangan Al-Ghazali

Nilai tasawuf di dalam tulisan Al-Ghazali tersaji sangat sugestif. Sesekali berlanggam satirical dan tidak jarang pula yang mendamprat langsung telak

M. Naufal Waliyuddin by M. Naufal Waliyuddin
29 Desember 2023
in Hikmah
A A
0
Ilmu Pengetahuan

Ilmu Pengetahuan

17
SHARES
868
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Perjalanan hidup Imam Al-Ghazali selalu menarik, terutama pengembaraan intelektual dan spiritualnya. Dari mendalami ilmu fiqh, ilmu kalam (teologi), ia beralih ke filsafat, dan menjadi ‘guru besar’ di Nizhamiyah, daerah Nishapur, Baghdad (sekarang Iran).

Di periode ini, ia sempat didapuk menjadi ‘rektor’ Nizhamiyah sekaligus penasehat perdana menteri Dinasti Seljuk. Melalui lembaga ini, yang disponsori kekuasaan, Al Ghazali (1058-1111 M) ikut membantu rezim untuk melawan wacana dan pikiran-pikiran dari aliran oposisi—saat itu dari ajaran Syi’ah.

Hingga tiba satu titik masa, ia minggat. Al-Ghazali terjun ke rimba tasawuf. Ia pergi mengembara, baik secara harfiah maupun maknawi. Dalam perjalanan itu, dari Baghdad sampai di Yerussalem, sosok yang berjulukan hujjatul Islam ini sampai di area Masjid al-Aqsha. Di sebuah bilik, di bawah kubah rumah belakang masjid ini, ia menulis karya monumental (magnum opus) bernama Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn.

Sepintas isi kitab itu berisi panduan penyucian jiwa (tazkiyatun-nafs). Kendati demikian, sulit menampik anasir implisit bahwa lewat kitab Ihya’ Al-Ghazali juga seakan mengkritik dirinya sendiri. Ia menyandikan sebuah autobiografi tak langsung. Wadah olah batin dan pikiran dari individu yang mengkritisi bukan hanya tokoh-tokoh di era itu, namun juga dirinya sendiri di masa lampau.

Beberapa kritik sering ia kemas secara halus beserta tawaran nilai-nilai esoteris. Sasarannya kepada pihak-pihak yang menurutnya justru ‘menggerhanai’ ilmu-ilmu ketuhanan, seperti para teolog (pakar ilmu kalam) yang pandai berdebat, ahli fiqh, para filsuf yang spekulatif, dan termasuk ulama duniawi.

Kutukan Ilmu: Memperkaya sekaligus Memperdaya

Selain itu, ada subbab khusus dalam Ihya’ yang unik. Agaknya isinya pun masih relevan di era sekarang. Tepatnya ada pada bab keenam, yakni al-Bāb al-Sādis fī Āfāt al-‘Ilm wa Bayān ‘Alāmāt ‘Ulamā’ al-Ākhirah wa al-‘Ulamā’ al-Sū. Intisarinya menguraikan “sisi gelap” ilmu pengetahuan dan disertai tanda-tanda ulama akhirat dan ulama dunia (ulama yang su’, buruk)—untuk ini akan dibahas di tulisan terpisah.

Usai menyuguhkan manfaat dan keutamaan ilmu di bab sebelumnya, Imam Al-Ghazali di bab keenam ini mewedarkan hal yang sama sekali bertolak belakang, yakni bahaya ilmu.

Bagi Al-Ghazali, ilmu memiliki dua sisi bertentangan yang menyatu. Aspek paradoksikal ini lebih ditekankannya sebagai unsur yang dapat memperkaya diri individu (secara rohaniah dan jasmani), namun sekaligus dapat menghinakan dan membinasakan si empu (ahli ilmu).

Dalam bab ini ia lebih condong membabarkan aspek destruktif spiritual. Ilmu dapat menjadi bumerang yang memenggal diri seseorang, terutama jika tidak bijaksana dalam mengontrol diri. Fenomena di masa itu banyak orang yang berdebat untuk menjatuhkan lawan bicara, alih-alih mencari kebenaran. Ini memberi makan egosentrisme yang menyusup halus di kedalaman batin.

Gejala Narsisme Religius dan Intelektual

Lebih parah lagi, banyak tokoh intelektual di masa itu yang gemar menumpuk harta, membela penguasa yang lalim, dan manipulatif. Agaknya di masa kini kecenderungan yang mirip belum sepenuhnya terhapus. Banyak gejala “narsisisme religius dan intelektual” yang menjadikan orang dengan ilmunya merasa benar sendiri. Posisi ini rawan mendiskriminasi pihak liyan. Dalam dosis yang parah, ini dapat terkulminasi mengarah pada konflik, persekusi, hingga genosida (pembantaian massal).

Imam Al-Ghazali di bab ini berterus terang akan kegelisahannya. Ia menjabarkan kalau banyak ahli ilmu yang gemar bermegah-megahan dan gaya hidup glamor. Dalam konteks kekuasaan, ia pun mencemooh para ahli ilmu yang berada di ‘ketiak’ penguasa. Sibuk menjustifikasi dan melegitimasi kekuasaan lewat aneka cara dan taktik.

Simbolisme Qarun dan Fir’aun dipakainya sebagai alegori dan kritik tegas. Sementara kecenderungan ahli ilmu yang sesungguhnya tidaklah hobi menumpuk harta dan justru membersamai kaum yang lemah dan dilemahkan (mustadl’afin).

Nilai-nilai tasawuf di dalam tulisan Al-Ghazali tersaji sangat sugestif. Sesekali berlanggam satirikal dan tidak jarang pula yang mendamprat langsung telak. Misalnya pencantuman hadis tentang idiom “Domba Berhati Serigala” (HR. Abu Darda’) yang menyindir orang yang mencari ilmu bukan untuk agama, belajar bukan untuk amal (lelaku) dan mencari dunia dengan amal akhirat.

Ilmu Sebagai Belati

Bercermin dari tulisan Al-Ghazali ratusan tahun silam itu, dapat diambil saripati: bahwa ilmu layaknya belati. Ia dapat berguna dan memudahkan hidup, tetapi di saat yang sama, ia pun berpotensi menjadi ancaman yang melukai penggunanya. Diskursus lintas peradaban banyak yang mengangguki gagasan tersebut.

Telah jamak bermunculan aneka sebutan, seperti “ilmu adalah cahaya” dan “pengetahuan adalah kekuatan”. Namun agaknya julukan itu mengandung sisi yang berlainan sama sekali.

Dengan ungkapan berbeda, gagasan aspek paradoks ilmu juga terpendar di sebagian peradaban kuno. Bahwa ilmu adalah juga penderitaan, adalah juga kutukan, dan tidak sepi dari risiko bahaya laten. Adagium dan wacana semacam ini pada dasarnya semakin menonjol ketika membaca uraian Imam Al-Ghazali.

Orang Cerdas Berilmu Sulit Bahagia?

Sebagai imbuhan, dalam peradaban kiwari, banyak riset menjelaskan kenapa orang cerdas dan ilmuwan sulit bahagia. Salah satunya professor Universitas Texas, Raj Raghunathan, di buku If You’re So Smart, Why Aren’t You Happy? Menyodorkan beberapa poin.

Pertama, orang-orang cerdas berilmu terlalu goal-oriented. Mereka kerap tertekan karena terlalu memaksa diri untuk berhasil mencapai tujuan—sampai-sampai menggadaikan kebahagiaannya sendiri. Di sini mereka rawan stress hingga depresi berat.

Kedua, banyak ahli ilmu yang kurang berani terlihat konyol dan dangkal. Padahal ini penting untuk mengimbangi ritme hidup yang serba tidak pasti. Sikap konyol, dan humor, terkadang justru menyelamatkan jiwa manusia. Ketiga, mereka terlalu kritis analitis dan berstandar tinggi. Ini yang mengakibatkan mereka cepat lelah dan jika standarnya tidak terpenuhi akan cenderung menarik diri secara sosial.

Semua ini hanyalah sisi lain yang jarang disoroti dari orang berilmu—yang sering dianggap serba mudah dalam menjalani hidup dan mengatasi persoalan. Mereka sebagai manusia juga tidak sepi dari rasa gelisah, tekanan, dan himpitan psikologis.

Kendati begitu, bukan berarti kita sebagai individu lantas menemukan legitimasi untuk malas belajar. Justru sebaliknya: orang berilmu saja juga rentan menderita. Apalagi yang tidak berilmu? []

Tags: ilmuIlmu Pengetahuanimam al-ghazaliPemikiran Al-Ghazaliulama
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mari Rayakan Perbedaan dengan Penuh Kasih Sayang

Next Post

Mahasantriwa SUPI ISIF Belajar Keberagaman bersama Masyarakat Adat Sunda Wiwitan Cigugur

M. Naufal Waliyuddin

M. Naufal Waliyuddin

Peneliti isu pemuda dan perdamaian Doktor alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

Matinya Kepakaran
Personal

Masyarakat Modern dan Matinya Kepakaran Islam

14 April 2026
Menstruasi
Pernak-pernik

Kolaborasi Ulama Perempuan dan Ilmu Medis dalam Menulis Fiqh Menstruasi

12 Maret 2026
Hukum Menikah
Pernak-pernik

Perbedaan Pandangan Ulama tentang Hukum Menikah

19 Februari 2026
Teologi Sunni
Buku

Rekontekstualisasi Teologi Sunni: Bagaimana Cara Kita Memandang Penderitaan?

9 Februari 2026
Adil Bagi Perempuan
Pernak-pernik

Ulama Perempuan Dorong Islam yang Lebih Adil bagi Perempuan

21 Januari 2026
Ulama KUPI
Publik

KUPI: Ruang Kolektif Ulama Perempuan

18 Januari 2026
Next Post
Sunda Wiwitan

Mahasantriwa SUPI ISIF Belajar Keberagaman bersama Masyarakat Adat Sunda Wiwitan Cigugur

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Hal-hal yang Perlu Diketahui Sebelum Menggunakan KB Hormonal
  • Menolak Logika “Dimaafkan” bagi Najis Difabel: Seri Kritis Fikih Disabilitas – Bagian 1
  • Cara Menggunakan Spermisida
  • Buku “Sebelum Harimu Bersamanya”: Sebuah Panduan Sebelum Menikah
  • Merawat Jiwa, Menjaga Amanah: Catatan Mahasantri SUPI Belajar Kesehatan Mental dengan Perspektif KUPI

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0