Kamis, 1 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

    Kekerasan Seksual

    Forum Halaqah Kubra KUPI Bahas Kekerasan Seksual, KDRT, dan KBGO terhadap Perempuan

    Gender KUPI

    Julia Suryakusuma Apresiasi Peran KUPI dalam Mendorong Islam Berkeadilan Gender

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Banyak Ulama Perempuan

    Ulama Perempuan Banyak Jalankan Fungsi Keulamaan, Namun Minim Pengakuan

    Bencana

    Bencana dan Refleksi 2025: Bagaimana Pemenuhan Akses Informasi Kebencanaan bagi Penyandang Disabilitas?

    ulama perempuan di Indonesia

    Eksistensi Ulama Perempuan di Indonesia Kian Menguat Meski Masih Terpinggirkan

    Akhir Tahun

    Renungan Akhir Tahun: Anak Muda dan Ilusi Kebebasan

    Kekuatan Khas Ulama Perempuan

    Ulama Perempuan Miliki Kekuatan Khas dalam Kepemimpinan Keagamaan

    Pancasila di Kota Salatiga

    Melihat Pancasila di Kota Salatiga

    Ulama Perempuan di Keluarga

    Ulama Perempuan Miliki Peran Kunci di Keluarga dan Ruang Publik

    Toleransi

    Toleransi dan Pluralisme: Mengapa Keduanya Tidak Sama?

    Peran Ulama Perempuan

    Ulama Perempuan Punya Peran Strategis Menyebarkan Islam Moderat

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    Surga Perempuan

    Di mana Tempat Perempuan Ketika di Surga?

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

    Kekerasan Seksual

    Forum Halaqah Kubra KUPI Bahas Kekerasan Seksual, KDRT, dan KBGO terhadap Perempuan

    Gender KUPI

    Julia Suryakusuma Apresiasi Peran KUPI dalam Mendorong Islam Berkeadilan Gender

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Banyak Ulama Perempuan

    Ulama Perempuan Banyak Jalankan Fungsi Keulamaan, Namun Minim Pengakuan

    Bencana

    Bencana dan Refleksi 2025: Bagaimana Pemenuhan Akses Informasi Kebencanaan bagi Penyandang Disabilitas?

    ulama perempuan di Indonesia

    Eksistensi Ulama Perempuan di Indonesia Kian Menguat Meski Masih Terpinggirkan

    Akhir Tahun

    Renungan Akhir Tahun: Anak Muda dan Ilusi Kebebasan

    Kekuatan Khas Ulama Perempuan

    Ulama Perempuan Miliki Kekuatan Khas dalam Kepemimpinan Keagamaan

    Pancasila di Kota Salatiga

    Melihat Pancasila di Kota Salatiga

    Ulama Perempuan di Keluarga

    Ulama Perempuan Miliki Peran Kunci di Keluarga dan Ruang Publik

    Toleransi

    Toleransi dan Pluralisme: Mengapa Keduanya Tidak Sama?

    Peran Ulama Perempuan

    Ulama Perempuan Punya Peran Strategis Menyebarkan Islam Moderat

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    Surga Perempuan

    Di mana Tempat Perempuan Ketika di Surga?

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Hukum Syariat

Kontroversi Nikah Batin Ala Film Bidaah dalam Kitab-kitab Turats

Tanpa data yang akurat, kontroversi nikah batin jenis ini pun senyap-senyap mulai ada penganutnya di Indonesia.

Fathonah K. Daud Fathonah K. Daud
22 April 2025
in Hukum Syariat
0
Kontroversi Nikah Batin

Kontroversi Nikah Batin

1.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Membaca beberapa postingan film baru ‘Bidaah’, nampaknya bikin keresahan warga Indonesia. Ternyata ini sinetron produk jiran sebelah. Saya sih belum menontonnya, tapi melihat plot dan alur cerita film drama itu mirip pola pernikahan yang sering kita sebut nikah Dawud, atau menikah secara sembunyi-sembunyi tanpa wali dan tanpa saksi.

Maka praktisnya menikah ala ini dilakukan hanya berdua antara calon mempelai laki-laki dan calon pengantin perempuan di tempat tertutup (tersembunyi). Oleh sebab caranya demikian, menikah jenis ini kadang kita sebut ‘nikah batin’.

Tanpa data yang akurat, kontroversi nikah batin jenis ini pun senyap-senyap mulai ada penganutnya di Indonesia. Meski dalam lingkup kecil dan terbatas di kalangan tertentu. Padahal dalam sejarah belum terbaca praktiknya di negara mana telah diamalkan. Toh masih abu-abu, pendapat fuqaha mana juga yang membolehkan?

Pendek kata, beberapa tahun belakangan tetiba ada sebut saja ‘oknum’ yang mempraktikkan nikah jenis ini. Kedoknya terbongkar setelah terciduk di meja hijau. Maka, plot cerita ini seolah menggambarkan pola pernikahan beberapa oknum tersebut yang sudah terjebloskan di penjara itu.

Oleh itu, jadi aneh jika adegan tidak famous itu kemudian di-film-kan. Apa gerangan yang ingin tersampaikan ke publik? Bukankah itu malah menyiarkan cara-cara kotor yang seharusnya tidak kita populerkan? Bahkan, menurutku, di sisi yang sama seolah mengolok-olok ajaran Islam?! Padahal Islam tidak pernah, sekali lagi tidak ada ajaran menikah ala batin itu.

Nikah Batin dalam Pandangan Islam

Atas dasar itulah saya tertarik mengulasnya dan mari kita lihat, bagaimana sebenarnya nikah batin ini dalam pandangan Islam?

Masalah perbincangan nikah tanpa wali memang pernah fuqaha singgung di bab fiqh al-nikah. Umumnya dalam mazhab Hanafi membolehkan janda menikah tanpa wali.

Pendapat tersebut, termasuk dasar-dasar mengapa membolehkan janda menikah tanpa wali dan beberapa pendapat mazhab lainnya yang berbeda. Selain itu juga hikmah mengapa wanita menikah harus ada wali pernah saya tulis beberapa waktu dulu di FB, yang kemudian terpublikasi di Mubadalah.id.

Persoalan yang berkembang belakang, ternyata nikah tanpa wali dan saksi ini lumayan mendapat perhatian publik. Mayoritas menganggap itu bid’ah (tiada ajaran dalam Islam). Tapi sebagian kecil ada yang menganggap itu bagian dari Islam, tentu dengan sinis. Duh Gusti!

Sebelum membahas pendapat fuqaha, perlu kiranya kita ketahui mengapa pernikahan demikian kita sebut nikah Dawud? Hal itu ternisbatkan kepada pendapat salah satu mazhab dalam Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu Imam Dawud Al Dzahiri (pendiri mazhab Al Dzahiri). Meskipun mazhab Al Dzahiri ini telah lenyap sejak abad ke 9 M, karena pengikutnya telah meninggalkan.

Penyebab utamanya karena pendapat mazhab al Dzahiri sering berbeda dengan pendapat ijma’ fuqaha sehingga cenderung sedikit pengikutnya. Mereka hanya berdasarkan dhahir teks suci (al Qur’an maupun Hadits), tidak mengambil Ijma’ dan tanpa Qiyas. Alasan itulah mazhab tersebut bernama Al Dzahiri.

Selain itu, pendapat dan pemikiran Imam Dawud Al Dzahiri tidak terkodifikasi, sehingga rawan terjadi distorsi sanad dan apabila dinisbatkan kepada pendapat beliau tidak dapat kita pertanggungjawabkan keotentikannya. Alasan-alasan itulah yang menyebabkan banyak ulama yang melarang merujuk ke mazhab Al Dzahiri. Namun, anehnya mazhab ini kini mulai gentayangan kembali melalui nikah batin ini.

Ulasan dalam Kitab-kitab Ulama Terdahulu

Tapi benarkah pandangan demikian itu pendapat Imam Dawud Al Dzahiri? Ada beberapa ulasan ternyata dalam kitab-kitab ulama terdahulu yang menyebutkan pandangan Dawud Al Dzahiri. Misalnya penjelasan Ibnu Rusayad dalam kitab Bidayatul Mujtahid:

وَفَرَّقَ دَاوُدُ بَيْنَ الْبِكْرِ وَالثَّيِّبِ، فَقَالَ بِاشْتِرَاطِ الْوَلِيِّ فِي الْبِكْرِ وَعَدَمِ اشْتِرَاطِهِ فِي الثَّيِّبِ

“Imam Dawud membedakan antara perawan dan janda. Ia berkata, disayaaratkannya wali dalam pernikahan perempuan yang masih perawan dan tidak disayaaratkan adanya wali dalam pernikahan wanita yang telah janda.” (Ibnu Rusayad, Bidayatul Mujtahid, [Kairo, Darul Hadits: 2004 M], juz II, 36).

Senada dengan keterangan ​​​​​​di kitab Al-Mizanul Kubra karya Imam Abdul Wahab Al-Sayaa’rani. Beliau pun mengatakan yang sama, bahwa nikah ala Dawud masih memerlukan wali jika si perempuan masih gadis. Apabila sudah janda, barulah ia boleh nikah tanpa wali:

ومع قول داود : إن كانت بكرا لم يصح نكاحها بغير ولي وإن كانت ثيباً صح

“Dan bersama pendapat Imam Dawud: “Jika perempuannya masih perawan maka nikahnya tidak sah tanpa wali. Namun, jika janda maka sah nikahnya tanpa wali.” (Abdul Wahab As-Sayaa’rani, Al-Mizanul Kubra, [Indonesia, Al-Haramain), juz II, 102).

Membaca redaksi penjelasan kedua ulama di atas menunjukkan bahwa sebenarnya pendapat Imam Dawud Al Dzahiri itu tidak berbeda dengan pendapat Imam Abu Hanifah, yaitu pernikahan gadis tetap ada wali. Sementara kebolehan menikah tanpa wali hanya terjadi pada janda.

Perbedaan Pandangan Ulama

Mengapa pendapat mereka berbeda dengan ulama umumnya? Dapat kita fahami bahwa corak pemikiran seseorang sering terpengaruhi latar belakang hidup dan pendidikannya. Setelah saya baca tempat lahir dan hayat beliau berdua ternyata di wilayah yang sama, yaitu di sekitar Irak.

Kita ketahui bersama bahwa Irak pada abad itu (9 M.) telah berperadaban tinggi, bahkan melampaui wilayah sekitarnya. Di mana para perempuannya sudah ikut terlibat dalam aktivitas publik. Sehingga membuatnya tentu lebih mandiri dibanding dengan perempuan-perempuan yang berada di wilayah jirannya.

Nah, ragam masyaarakat yang sudah maju ini jugalah setidaknya menjadi premis pendapat ulama yang hidup di wilayah tersebut berbeda dengan para ulama lainnya.

Maka, kenapa yang beredar kita fahami nikah tanpa wali dan saksi boleh dilakukan. Dalam arti diam-diam tanpa sepengetahuan orang lain dinisbatkan kepada pendapat Imam Dawud Al-Dzahiri? Ini yang perlu kita luruskan.

Pernikahan tanpa wali dan saksi seperti asumsi yang berkembang tidak dapat kita benarkan jika kita nisbatkan kepada Imam Dawud Al-Dzahiri. Sebab ternyata dalam mazhab Dawud tidak kita temukan ada pernyataan demikian. Selain itu juga masih ada​​​​​ mekanisme lain yang harus terpen​​​​​​​uhi:

Pertama, Wajib ada khutbah nikah dalam akad. Kedua, Wajib ada walimah.

Hukum Khutbah Nikah

Meskipun pendapat Jumhur ulama hukumnya sunnah dan sebagian mubah, tapi pendapat Al-Dzahiri berbeda dengan menghukuminya wajib. Dasar argumentasi tersebut berdasarkan penjelasan Ibnu Hazm (yang sering kita sebut penganut mazhab Dawud Az-Zhahiri) sebagai berikut:

مَسْأَلَةٌ: وَفَرْضٌ عَلَى كُلِّ مَنْ تَزَوَّجَ أَنْ يُولِمَ بِمَا قَلَّ أَوْ كَثُرَ

“Masalah: dan diwajibkan atas setiap orang yang menikah untuk mengadakan walimah dengan sesuatu yang sedikit atau banyak.” (Ibnu Hazm, Al-Muhalla ​​​​​​bil Atsar, [Beirut, Darul Fikr], juz IX, 20).

Sementara wajib ada khutbah nikah dalam pandangan Dawud Al-Dzahiri sebagaimana tersampaikan oleh Imam Al-Sayaa’rani dalam Al-Mizanul Kubra:

قول عامة العلماء : إن الخطبة سنة وليست بواجبة . مع قول داود إنها واجبة عند العقد

“Pendapat mayoritas ulama bahwa khutbah nikah hukumnya sunah, bukan wajib. Pendapat Dawud Al-Dzahiri khutbah nikah hukumnya wajib di saat berlangsungnya akad.”

Senada juga tersampaikan dalam Bidayatul Mujtahid sebagai berikut:

وَأَمَّا خُطْبَةُ النِّكَاحِ الْمَرْوِيَّةُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ الْجُمْهُورِ: إِنَّهَا لَيْسَتْ وَاجِبَةً، وَقَالَ دَاوُدُ: هِيَ وَاجِبَةٌ

Artinya, “Adapun khutbah nikah yang diriwayatkan dari Nabi, jumhur ulama mengatakan hukumnya tidak wajib, Dawud Al-Dzahiri mengatakan wajib.” (Ibnu Rusayad, Bidayatul Mujtahid, juz III, 31).

Nikah Batin Ajaran Sesat

Beberapa penjelasan di atas mengkonfirmasi bahwa pernikahan batin, sebagaimana dalam film Bidaah, dalam arti diam-diam tanpa wali dan tidak siapapun mengetahuinya, tidak bisa kita nisbatkan pada nikah ala Dawud maupun pendapat ulama mana pun.

Penjelasan adanya kewajiban khutbah nikah pada akad nikah dan adanya kewajiban walimah dalam mazhab Dawud Al-Dzahiri ini jelas konsepnya berbeda dengan praktik kontroversi nikah batin. Argumentasi ini juga menunjukkan adanya perbedaan hukum adanya khutbah nikah dan adanya walimah dalam pandangan Jumhur ulama yang terhukumi sunnah saja.

Adanya wajib Walimah di atas tidak mungkin sembunyi-sembunyi, justru mengharuskan kehadiran orang banyak. Walhasil, memahami kontroversi nikah batin dengan kita nisbatkan pada Dawud al-Dzahiri adalah pembohongan publik. Oran​​​​​​​​​​​​g yang melakukan praktik pernikahan jenis itu, bisa jadi modus untuk menutupi kedoknya atas kejahatan seksual. Ini namanya menjual agama untuk modus kejahatannya.

Atas dasar argumentasi di atas dapat kita simpulkan bahwa menikah batin itu ajaran sesat dan menyesatkan. Tiada dasarnya yang dapat dipertanggungjawabkan dalam teks suci Islam. Dalam redaksi Hadits menjelaskan:

لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل

“Pernikahan tidak dipandang sah kecuali ada wali dan dua saksi yang adil.”

Pendapat pernikahan harus ada wali dan dua saksi inilah yang menjadi ketetapan mayoritas ulama dan banyak dipraktikkan dalam negara-negara Islam. Wallahu a’lam. []

 

Tags: drama malaysiaFilm Bida'ahKontroversi Nikah BatinNikah DawudNikah Sirripernikahan
Fathonah K. Daud

Fathonah K. Daud

Lecturer di IAI Al Hikmah Tuban

Terkait Posts

Romantika Asmara
Hikmah

Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

29 November 2025
Ishlah
Keluarga

Ishlah: Solusi Damai untuk Selamatkan Pernikahan

28 November 2025
kitab Dha’ul Misbah
Keluarga

Tradisi Perjodohan: Mengurai Pesan Etika Kiai Hasyim dalam Kitab Dha’ul Misbah

25 November 2025
Akad Nikah
Kolom

Tadarus Subuh ke 170: Menuju Akad Nikah yang Efektif

24 November 2025
Nikah Sirri
Publik

Sudahi Nikah Sirri

21 November 2025
Intimate Wedding
Keluarga

Francis Fukuyama: Intimate Wedding sebagai Gejala Runtuhnya Kolektivitas Tradisional

20 November 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Pancasila di Kota Salatiga

    Melihat Pancasila di Kota Salatiga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ulama Perempuan Miliki Kekuatan Khas dalam Kepemimpinan Keagamaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Renungan Akhir Tahun: Anak Muda dan Ilusi Kebebasan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Toleransi dan Pluralisme: Mengapa Keduanya Tidak Sama?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ulama Perempuan Miliki Peran Kunci di Keluarga dan Ruang Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Ulama Perempuan Banyak Jalankan Fungsi Keulamaan, Namun Minim Pengakuan
  • Bencana dan Refleksi 2025: Bagaimana Pemenuhan Akses Informasi Kebencanaan bagi Penyandang Disabilitas?
  • Eksistensi Ulama Perempuan di Indonesia Kian Menguat Meski Masih Terpinggirkan
  • Renungan Akhir Tahun: Anak Muda dan Ilusi Kebebasan
  • Ulama Perempuan Miliki Kekuatan Khas dalam Kepemimpinan Keagamaan

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID