Relasi kuasa yang sangat timpang dalam keluarga, di mana anak sering kali diajarkan kepatuhan buta serta budaya yang membuat korban merasa bahwa aib itu adalah kesalahan mereka, merupakan sisa-sisa paradigma kolot yang terbukti masih hidup, bernapas, dan membunuh di tengah-tengah kita
Mubadalah.id – Akhir-akhir ini, pemberitaan di tanah air membuka mata kita tentang realitas kelam di balik pintu-pintu rumah yang tertutup rapat. Kasus kekerasan seksual yang terjadi dalam keluarga, khususnya yang pelakunya sosok pelindung seperti ayah terhadap anaknya, satu per satu mulai menampakkan kengeriannya.
Peristiwa ini sungguh menguji akal sehat dan nurani kita. Sebagai contoh pada Februari silam, di Tebo, Jambi, seorang ayah divonis 16 tahun penjara karena terbukti memperkosa anak kandungnya hingga korban mengalami trauma yang berkepanjangan.
Tragedi serupa sama sekali tidak berhenti di sana.
Di Sulawesi Utara, pengadilan juga menjatuhkan vonis 15 tahun penjara kepada seorang ayah setelah tindakan kejinya memperkosa anak tirinya hingga korban hamil 7 bulan akhirnya terbongkar. Di waktu yang berdekatan, terungkap pula kasus yang tak kalah biadabnya di Aceh, di mana seorang ayah tega melecehkan anak kandungnya selama 9 tahun sejak ia masih belia.
Ini adalah potret dari rusaknya institusi keluarga yang seharusnya menjadi benteng teraman dan penuh kasih bagi anak. Hubungan sedarah atau inses beserta paksaan, tipu daya, dan kekerasan fisik maupun psikologis membawa dampak destruktif bagi korban.
Dengan kacamata medis dan psikologis, kita tahu bahwa korban inses, terutama mereka yang mengalami pemerkosaan brutal, tidak hanya rentan terhadap penularan penyakit seksual. Tetapi juga harus menanggung beban psikologis yang menghancurkan fondasi mental mereka. Seperti yang Simona Argentieri tuliskan dalam ‘Incest Yesterday and Today: from Conflict to Ambiguity’’:
“Sebaliknya, korban hampir selalu disiksa oleh rasa bersalah, dengan perasaan campur aduk berupa kebencian, rasa malu, rasa tidak berharga, dan kehilangan harga diri. Ini adalah gejala kerusakan pada struktur yang muncul oleh pengalaman inses…” (On Incest, 2005: 38)
Ketakutan yang melumpuhkan, rasa bersalah yang keliru karena manipulasi pelaku, hingga mengalami trauma. Ini adalah luka batin yang sering kali terpendam sendiri oleh korban dalam diam. Akibatnya, mereka rentan mengalami gangguan kecemasan, serangan panik, dan depresi akut. Bahkan memunculkan dorongan untuk menyakiti diri sendiri atau mengakhiri hidup.
Kehancuran batin yang tak terperi ini semakin parah dan terlanggengkan oleh stigma dari masyarakat. Kenyataan ini justru membuat korban merasa malu, hina, atau takut untuk menceritakan penderitaan mereka dan mencari pertolongan.
Mengenal Virginia Woolf
Membaca realitas ini, kita mungkin mudah berasumsi bahwa kebejatan moral semacam ini adalah kegagalan masyarakat modern. Kemerosotan nilai agama, atau sekadar fenomena di negara berkembang yang gagap menghadapi perubahan zaman. Namun, sejarah manusia membuktikan sebaliknya. Kekerasan seksual dalam keluarga adalah penyakit purba berurat akar yang telah melintasi batas-batas ruang, waktu, geografi, dan kelas sosial yang paling elite sekalipun.
Ratusan tahun yang lalu, di jantung peradaban Barat yang terkenal karena etiket dan intelektualitasnya, seorang perempuan muda yang kelak tumbuh menjadi salah satu penulis paling berpengaruh abad ke-20. Ia juga harus melewati lorong gelap yang sama di rumahnya sendiri. Perempuan itu adalah Virginia Woolf.
Pengalamannya sebagai penyintas kekerasan seksual sedarah adalah contoh bagaimana trauma difasilitasi oleh struktur sosial. Bagaimana perempuan, dengan segala kerentanan dan kelemahannya, berjuang mati-matian merebut kembali tubuh dan hidupnya sendiri.
Virginia Woolf hidup di era Victoria Inggris. Masyarakat Victoria pada paruh kedua abad ke-19 terkenal dengan standar moralitasnya yang ketat, kaku, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan di ruang publik. Namun, di balik fasad keluarga kelas menengah atas yang tampak sempurna, harmonis, dan terhormat, ada dinamika kekuasaan yang sangat patriarkal, menindas, dan sangat eksploitatif.
Dalam bukunya yang bertajuk ‘Family Likeness: Sex, Marriage, and Incest from Jane Austen to Virginia Woolf’, Mary Jean Corbett mengurai kompleksitas hubungan keluarga abad ke-19 ini. Corbett menjelaskan bahwa saat itu, ada kecenderungan yang kuat untuk membangun hubungan emosional dengan figur-figur familial dan kerabat.
Kecenderungan mengisolasi diri dalam kepompong keluarga ini lahir dari ketakutan terhadap bahaya dan ketidakpastian hubungan dengan orang asing di luar keluarga. Hingga kemudian memunculkan daya tarik bagi para perempuan untuk tetap berada di dalam struktur keluarga inti yang sudah mereka kenal dengan baik.
Namun, pemusatan keintiman yang tertutup dan kedekatan emosional di dalam lingkup keluarga ini justru membawa bahaya tersendiri yang tidak tersadari. Corbett menyoroti bahwa di akhir abad 19, seiring dengan perubahan sosial, diskusi mengenai keuntungan sekaligus bahaya hubungan intim di dalam keluarga meningkat.
Menilik Paradigma Masyarakat Victoria
Paradigma masyarakat Victoria saat itu menempatkan laki-laki—baik itu dalam perannya sebagai ayah, suami, ataupun saudara laki-laki yang lebih tua—sebagai penguasa mutlak yang tak terbantahkan di dalam ruang domestik rumah tangga. Perempuan, sejak lahir, mereka ajarkan untuk tunduk, patuh, dan menginternalisasi perannya sebagai “Malaikat di dalam Rumah”. Peran malaikat ini menuntut perempuan untuk selalu tulus, rela berkorban, dan melayani kebutuhan laki-laki. Selain itu menjaga keharmonisan keluarga tanpa boleh menyuarakan keinginan pribadinya.
Lebih jauh lagi, ketika definisi mengenai inses mulai terbatasi secara sosiologis hanya pada konteks masyarakat kelas pekerja, kelas menengah bawah, atau suku-suku yang terlabeli sebagai kelompok primitif. Lantas keluarga kelas atas Inggris yang mapan merasa diri mereka beradab, kebal hukum, dan terpisah dari praktik-praktik menjijikkan semacam itu.
Ironisnya, kebutaan budaya dan arogansi kelas inilah yang justru memberikan ruang aman (tapi gelap) bagi laki-laki di keluarga-keluarga terpandang. Yakni untuk mengeksploitasi anggota keluarga perempuan mereka dengan leluasa. Tanpa sedikit pun tercurigai atau dihukum oleh masyarakat yang menganggap mereka sebagai orang-orang terhormat.
Di dalam kemunafikan sosial inilah Virginia Woolf tumbuh dan menghabiskan masa remajanya. Woolf lahir di lingkungan keluarga intelektual kelas menengah atas yang sangat dihormati di London. Ayahnya, Leslie Stephen, adalah seorang kritikus sastra, sejarawan, dan tokoh literatur terkemuka di zamannya. Namun, kehidupannya hancur berkeping-keping ketika ibunya, Julia Stephen, wafat pada 1895.
Mimpi Buruk Seorang Anak Perempuan
Peristiwa ini menjadi awal dari mimpi buruknya, yang saat itu baru menginjak usia 13 tahun. Dalam kekosongan perlindungan dari sang ibu, dan di tengah seorang ayah yang tenggelam dalam kesedihan narsistik yang abai terhadap anak-anak perempuannya, Virginia dan saudari perempuannya, Vanessa, jatuh ke cengkeraman saudara laki-laki mereka, George dan Gerald Duckworth.
Pelecehan yang Woolf remaja alami berlangsung selama bertahun-tahun di rumah mereka yang megah di kawasan Kensington. George Duckworth, yang di mata publik dan lingkaran sosial London selalu tampil memukau sebagai pria mapan yang sangat sopan. Menjadi pelindung keluarga, dan dermawan, menggunakan otoritas dan posisinya untuk melecehkan Virginia.
Ia sering kali menyelinap dan mendatangi kamar Virginia di tengah malam. Lalu ia bersembunyi di balik dalih memberikan pelukan kasih sayang persaudaraan atau sekadar menghibur adiknya yang berduka. Dalam kondisi masyarakat di mana menjaga reputasi dan nama baik keluarga adalah segalanya, dan di mana kata-kata serta tindakan laki-laki kelas atas jauh lebih mereka percaya daripada keluhan gadis remaja yang rapuh. Virginia pun terpaksa bungkam dalam ketakutan.
Pengalaman inses yang brutal namun tak kasat mata ini meninggalkan luka batin yang amat dalam. Membentuk pola pikirnya, dan terus berdarah di dalam diri Woolf sepanjang hidupnya. Karena itu, Woolf harus menghabiskan sisa hidupnya bertarung melawan masalah mental yang parah. Ia mengalami gangguan jiwa. Di mana sering kali tertandai dengan halusinasi, depresi yang membuatnya tak mampu beranjak dari tempat tidur, keengganan untuk makan, dan bahkan serangkaian percobaan bunuh diri.
Perasaan najis terhadap tubuhnya sendiri, dan rasa bersalah yang ditanamkan pelaku. Seain itu rasa muak dan ketakutan terhadap hal yang berhubungan dengan seksualitas terus menghantuinya. Ia merasa bahwa ruang privatnya, baik jiwa dan raganya, sudah terampas dan ternodai secara paksa oleh orang-orang yang seharusnya menjadi garda terdepan untuk melindunginya dari marabahaya.
Meskipun trauma itu menghancurkan mentalnya, Virginia Woolf tetap menolak untuk menyerah.
Titik balik pertamanya terjadi setelah kematian sang ayah pada 1904. Kematian ayahnya memang memicu krisis mental yang besar bagi Woolf akibat emosi yang campur aduk. Tetapi pada saat yang sama, kepergian ayahnya itu juga membebaskan Woolf dan Vanessa dari belenggu figur otoritas tertinggi di rumah tersebut, sekaligus memutus rantai kekuasaan George Duckworth.
Segera setelah itu, Virginia bersama saudarinya meninggalkan rumah dan pindah ke Bloomsbury. Kepindahan mereka ini adalah bentuk deklarasi kemerdekaan. Baik secara intelektual, sosial, maupun emosional. Di rumah baru mereka, kakak beradik ini mulai membentuk apa yang kemudian terkenal dalam sejarah literatur sebagai Grup Bloomsbury.
Lingkaran ini terdiri dari para penulis, filsuf, pelukis, dan kritikus seni yang menolak nilai-nilai Victoria yang kaku, munafik, dan represif. Di dalam lingkaran inilah Woolf akhirnya menemukan keluarga baru. Diskusi-diskusi terbuka yang mereka lakukan mengenai seni, seksualitas, serta kritik tajam terhadap lembaga pernikahan tradisional dan tatanan keluarga patriarkal menjadi terapi penyembuhan tersendiri bagi Woolf.
Lingkungan inilah yang membantu Woolf memvalidasi rasa sakitnya. Membuktikan kepadanya bahwa ia tidak gila, dan bahwa masyarakatlah yang selama ini sakit.
Selain dukungan dari keluarga barunya itu, senjata utama dan paling transformatif yang Woolf gunakan untuk bertahan hidup, melawan balik, dan mengelola traumanya adalah pena. Bagi Woolf, menulis adalah tindakan pembebasan batin. Ia berhasil mengubah rasa sakit yang selama bertahun-tahun membungkam mulutnya menjadi bahasa yang lantang dan indah.
Membongkar Pelecehan Seksual
Melalui tulisan dan esai-esainya, yang berjudul ‘Moments of Being’ (termasuk esai ‘A Sketch of the Past’ dan ‘22 Hyde Park Gate’), Woolf tanpa ragu membongkar pelecehan yang dilakukan oleh saudaranya, George dan Gerald Duckworth. Ia menelanjangi kemunafikan era Victoria dan menunjukkan bagaimana etiket sosial yang dipaksakan kepada perempuan justru menciptakan kondisi yang membuat kekerasan seksual itu terjadi di lingkungan keluarga kelas atas.
Kritik tajam Woolf terhadap struktur opresif ini tidak berhenti pada memoar saja, tapi juga pada tulisan-tulisan fiksinya. Dalam karyanya seperti ‘The Years’, ‘To the Lighthouse’, dan ‘Mrs Dalloway’, Woolf membedah tirani domestik, dominasi karakter laki-laki yang memaksakan kehendak mereka, dan pengorbanan tragis karakter perempuan yang dipaksa menjadi martir hanya demi menjaga fasad keharmonisan keluarga yang palsu.
Ia menunjukkan betapa bahayanya ketimpangan kekuasaan di dalam keluarga. Ia menganggap bahwa kekerasan seksual yang menghancurkan masa kecilnya bukanlah kebetulan apalagi takdir. Akan tetapi sesuatu yang telah difasilitasi dan dilanggengkan oleh masyarakat patriarkal yang memang sejak awal terancang untuk menindas kehendak perempuan dan selalu memberikan kekebalan bagi laki-laki.
Relasi Kuasa yang Timpang
Jika kita menarik kisah Virginia Woolf, saya melihat bahwa paradigma masyarakat dan struktur kekuasaan keluarga di Indonesia belum begitu beranjak dari abad ke-19. Relasi kuasa yang sangat timpang di dalam rumah tangga hari ini, di mana seorang anak sering kali diajarkan secara dogmatis untuk tunduk tanpa syarat kepada orang tua, kepatuhan buta yang kemudian dieksploitasi oleh “predator.”
Selain itu budaya yang membuat korban merasa bahwa aib itu adalah kesalahan mereka. Hal ini merupakan sisa-sisa paradigma patriarki kolot yang terbukti masih hidup, bernapas, dan membunuh di tengah-tengah kita.
Kasus-kasus memilukan hari ini kembali menegaskan peringatan Woolf bahwa rumah tangga tidak menjadi tempat suci yang aman dari kejahatan. Ketika masyarakat kita masih mengagungkan citra kesempurnaan “keluarga harmonis” dan menganggap apa pun yang terjadi di rumah adalah urusan privat, maka tepat di celah gelap itulah para predator menemukan tempat persembunyian terbaik mereka.
Rasa malu, pengucilan, dan stigma yang sering kali masyarakat timpakan kepada korban kekerasan seksual—dengan menganggap mereka telah rusak, kotor, atau pembawa aib yang merusak nama baik keluarga—adalah racun sosial yang persis sama dengan yang dahulu menakut-nakuti Woolf untuk mengunci mulutnya rapat-rapat.
Meskipun Woolf tidak sepenuhnya sembuh total dari bayang-bayang masa lalunya yang kelam. Cara ia melawan balik, menyuarakan kebenaran, dan menggunakan tulisan sebagai ruang perlawanan adalah warisan monumental bagi kemanusiaan, terutama bagi para korban. []
Daftar Pustaka
Mary Jean Corbett. Family Likeness: Sex, Marriage, and Incest from Jane Austen to Virginia Woolf. Cornell University Press: New York, 2008.
Simona Argentieri. “Incest yesterday and today: from conflict to ambiguity”. Dalam On Incest: Psychoanalytic Perspectives (Ed. Giovanna Ambrosio). Karnac Books: Great Britain, 2005.







































