Mubadalah.id – Tekadku sudah bulat. Mimi Monalisa. Malam ini aku akan menemuinya sebab Mama telah menelantarkanku. Tukang ojek langganan Mama akhirnya datang. Kaus oblongnya lusuh, rokok murahan menempel di bibirnya.
“Leherku bisa digorok mamamu jika dia tahu aku mengantarmu ke Mimi,” ungkapnya menghampiriku.
“Aku bisa mati kelaparan jika Mamang tidak mengantarku,” kataku.
Ia membawa motornya pelan-pelan. Dalam perjalanan ia masih mencoba mengingatkan.
“Sudah kamu pikirkan?”
“Seribu kali.”
“Aku tidak ingin kamu menyesal nanti. Coba ditimbang sekali lagi.”
“Keburu mati jika harus berpikir sekali lagi.”
Kafe Mimi Monalisa
Sore itu, selepas magrib, jalan provinsi yang membelah kampung tampak tak seperti biasanya. Para lelaki berseliweran. Di antara mereka ada yang menenteng bendera, ada pula yang membawa spanduk tergulung. Mereka bercengkrama di warung-warung, sebagian berdiri di tepi jalan, sebagian lain baru berdatangan. Kepala mereka dililit kain putih dengan tulisan yang tak jelas terbaca dari kejauhan.
“Jalan ramai begini. Ada apa, Mang?” tanyaku.
“Dengar-dengar, mereka akan demo di balai desa,” jawabnya.
“Oh …” gumamku.
Ia tiba-tiba menginjak rem. “Gawat! Mereka demo tentang … Sial! kita putar balik saja, bahaya!”
“Tidak, Mang! Sebentar lagi kita sampai,” sergahku sambil menepuk pundaknya. “Lagian demonya di balai desa, bukan di kafe Mimi Monalisa.” Mamang pun memutar gas lagi.
Setiba di Mimi Monalisa Caffe, kami disambut dentuman musik pantura dan gemerlap lampu warna-warni. Campuran aroma parfum yang berpadu dengan minuman anggur menyapa penciumanku. Dan itu menyeret ingatanku pada Mama; bayangannya berkelebat, menyesakkan dada.
Ketika menunggu Mamang berbicara dengan seorang perempuan, seseorang memintaku duduk di sofa paling pojok. Di sebelahku, sekelompok lelaki berbadan gempal mengenakan setelan celana dan jaket jins membicarakan sesuatu yang tampak serius dan genting. Terdengar samar, mereka seperti membahas para pendemo yang kutemui di jalan.
Tentang Mama, Ibuku Itu
Sesaat kemudian Mamang menghampiriku. Ia mengajakku masuk ke ruangan khusus. Ia pun mengangguk pamit pada perempuan gembrot berambut merah menyala, Mimi Monalisa. Matanya mengulitiku dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Ketika mata kami bertemu pandang, ia berdecak sumringah. Kemudian, tangannya yang penuh perhiasan berukuran besar menepuk bahuku.
“Selain butuh tenaga, kamu juga perlu terlihat segar dan menarik. Nanti akan kubuatkan ramuan ajaib. Sama seperti yang pernah ibumu lakukan ketika baru datang ke sini.” Mimi tiba-tiba terdiam, seolah menyesal telah mengatakannya. Asap rokoknya yang semula berputar lambat kini menggantung di antara kami. Aku menahan batuk, dadaku seketika merasa sesak. “Apakah dia di sini?” tanyaku dengan intonasi lebih pelan.
Bibirnya yang berlipstik tebal bergerak, tetapi tak mengeluarkan suara. Matanya menatap tajam ke arah pintu, lalu perlahan berpaling padaku. “Kalau dia di sini tentu dia akan menyambutmu,” jawabnya seketika ketus. “Kau ke sini mau mencarinya atau menemuiku?” Kedua bola matanya menginterogasiku.
“Aku ingin menemuimu, Mi,” jawabku mantap.
“Bagus. Sebaiknya begitu. Ibumu itu pembangkang, makanya dia sudah tidak di sini. Dia juga meninggalkanmu, bukan?” Aku mengangguk, mencoba mencerna apa yang sebenarnya ia maksudkan.
“Paling-paling sekarang dia tengah tertawa menjadi simpanan seorang bos. Makanya dia meninggalkanmu dan tempat ini,” jawabnya meyakinkan.
Ritual Khusus
Seketika dadaku berdesir menahan marah.
Seolah puas dengan ekspresiku, Mimi tersenyum sambil mengajakku keluar dari ruangan besar itu melalui pintu samping. Terlihat deretan pintu kamar memanjang.
“Kamu perlu tiga hari untuk mempersiapkan diri. Aku akan membimbingmu melakukan ritual khusus,” ucapnya sambil membuka pintu kamar paling ujung.
Aku mengangguk mantap. Namun, mendengarnya menyebut Mama membuatku ragu tentang alasanku datang kemari. Perasaanku gamang. Aku membaringkan tubuh di kasur.
Seketika bau apak menusuk hidung. Kepalaku sedikit pusing karena silau lampu warna-warni yang tadi begitu lama kupandangi. Di kamar sebelah terdengar jelas seorang pemandu karaoke sedang menyanyikan lagu khas pantura “Ngaplang-Ngaplang[1]”:
“Cinta kadang butuh rayuan gombal.
Malah luwih enak entas tukaran.
Diambung batuke dijamin pasrah ngaplang-ngaplang…”
Lirik-lirik itu membuatku bergidik. Harusnya aku senang berada di kamar itu, tetapi dentang waktu menyeret perasaanku kian gelisah. Aku tak bisa memejamkan mata. Hingga menjelang dini hari, kudengar suara gaduh.
“Cepat keluar! Ada keributan!” Suara gedoran di pintu membuat dadaku seperti terguncang. Segera kubuka pintu. Orang-orang berhamburan; ada yang lari terbirit-birit, bahkan ada yang nekat kabur telanjang hanya dengan tas selempang di tangan. Aku pun tak sempat berpikir. Kaki ini langsung mbrisat, mengikuti arus manusia yang tunggang-langgang.
Kebakaran di Kafe
Saat pelarianku sampai di kebun singkong, kakiku kian gemetar, tenagaku seolah habis direnggut kepanikan. Napasku tersengal tak beraturan. Aku ingin terus berlari, tetapi tubuh tak lagi mau kompromi. Aku tetap memaksa hingga akhirnya kakiku tersandung sesuatu. Tubuhku terhuyung, lalu terjerembab. Seketika rasa perih menyalak di jempol kaki. Darah merembes keluar dari kuku yang terkelupas.
Aku duduk di antara batang singkong, mengadu gigi, menahan sakit yang menusuk sampai ulu hati. Menoleh ke tempat asal pelarianku, terlihat jelas hamparan padi menguning bergoyang diinjak siluet manusia yang berhamburan melarikan diri. Suara dentuman petasan bersahutan, menyayat telinga. Api mulai berkobar, asap hitam membubung ke langit.
“Tampaknya kafe itu dibakar,” gumamku. Aku menata napas, mengedarkan pandangan sekali lagi. Setelah merasa aman, aku beringsut menyeret kaki. Kupandangi langit kelabu berhamburan bintang. “Apakah Tuhan sedang menyelamatkanku?” pikirku tiba-tiba.
Aku teringat Mimi Monalisa. Bagaimana dengan dia? Aku pun teringat perkataan Mimi. Ke mana Mama sebenarnya? Apakah benar dia sudah menjadi simpanan seorang bos?
Ah! Bukankah itu yang ia inginkan sejak dahulu?
Seketika kekecewaan menjalar di seluruh tubuhku. Aku merebah, berbantal gundukan tanah yang masih gembur ketika suara keributan perlahan kabur tersapu angin. Sejurus kemudian bayangan tentang Mama berkelindan.
Anak Telembuk
Aku lelah dianggap anak sial oleh Mama. Ya, dia ibu kandungku sendiri. Katanya, sejak aku hadir di rahimnya, ia tak lagi bisa menjadi gendakan[2] perangkat desa yang boral[3] itu.
Sejak kecil, aku menelan mentah-mentah seluruh makiannya. Toh, kendati selalu jadi bulan-bulanan, dia tetap menghidupiku.
Namun, selepas Mama dipanggil guru BK minggu lalu, aku benar-benar menjadi muak dengan kemarahannya.
“Mau jadi apa kamu, hah?!” bentaknya sambil menendang pintu rumah.
Aku hanya menatap ponsel, bergeming.
“Tahu-tahu begini, tak usah capek-capek kusekolahkan! Dasar anak tak tahu diuntung!”
“Aku memang tak mau sekolah! Tak sudi bertemu mereka yang sok alim, padahal tukang bully. Semuanya brengsek!” bentakku balik.
“Oh, begitu rupanya maumu! Kujual kamu pada Mimi Monalisa!” Ucapnya sambil memutus batang rokok yang masih menyala pada tembok.
“Jual saja! Aku tak punya teman, tidak ada alasan kuat yang dapat membuatku malu. Persetan dengan semuanya!” teriakku sambil melempar ponsel.
“Aku lupa, anak telembuk[4] sepertimu sampai kapan pun tak akan mungkin menjelma putri, bisanya buat malu saja!”
“Mama yang membuatku malu!” makiku tak kalah geram.
Tangis di Bawah Purnama
Mukanya kian merah padam mendengar itu. Ia keluar dengan membanting pintu keras. Sejak itu, tujuh hari sudah Mama tak lagi pulang dan berkabar. Ah! Dia benar-benar telah meninggalkanku.
Mengingat itu desiran getir kian membuatku gemetar. Hampir saja aku menggadaikan seluruh diriku hanya demi membuktikan sesuatu. Kukira, barangkali dengan melihat Mama menyaksikan langsung saat aku menyerahkan diri pada Mimi Monalisa, aku akan merasa puas.
Kutelan perih di kaki, tubuh, dan jiwaku, namun semuanya termuntahkan. Air mataku jatuh. Aku pun menelungkupkan wajah ke tanah gembur itu, berderai air mata.
Di saat pikiranku begitu berkecamuk, senyuman Mama menyapaku. Senyum hangat itu kusaksikan sekali; ketika ia mengenakan gelang manik-manik pemberianku. Dadaku berdegup lebih kencang mengingat itu. Antara sakit, rindu, dan sesuatu yang tak mampu kujelaskan menyergapku. Tangisku kian menjadi di bawah bulan yang bulat penuh. []
[1] Ngaplang-Ngaplang Ciptaan Emek Aryanto
[2] Simpanan.
[3] Suka memberi uang.
[4] Pekerja seksual.









































