Mubadalah.id – Secara konsep, kita perlu sepakat bahwa jurnalisme itu hadir untuk menyuarakan realitas, memperlihatkan yang sering luput dari penglihatan publik, serta mengabarkan kejadian yang berdampak pada kehidupan bersama. Namun dalam praktiknya, tidak semua yang kita beritakan memberi ruang yang manusiawi bagi pihak yang terlibat.
Iya, masih banyak pemberitaan yang menunjukkan bagaimana media kerap fokus pada sensasi, label, atau karakteristik personal seseorang yang tidak relevan dengan kasus yang terangkat. Oleh sebab itu, penting memahami jurnalisme yang berempati, yakni jurnalisme yang inklusif serta mampu memanusiakan subjek liputannya.
Salah satu pelajaran penting tentang hal ini semakin kuat terasa ketika mengikuti webinar Jurnalisme Inklusi yang menghadirkan Anita Dhewy pada November 2025 silam sebagai pembicara. Ia mengingatkan bahwa jurnalisme bukan sekadar soal menyampaikan fakta, tetapi juga menjaga martabat manusia.
Dan kalau diamati, kasus yang sering muncul adalah ketika media meliput isu difabel. Alih-alih fokus pada persoalan utama, justru disabilitas seseorang malah menjadi sorotan, bahkan dijadikan bahan dramatisasi. Padahal, difabel bukan elemen utama dari semua cerita yang mereka alami dalam hidup. Mereka bisa menjadi korban kekerasan, pelaku usaha, pendidik, atau profesional di berbagai bidang. Dan semua itu tak harus selalu kita kaitkan dengan kondisi fisiknya.
Media dan Upaya Mencari click-bait Buta
Ketika media memberitakan seseorang yang menjadi korban kecelakaan, misalnya, sering muncul narasi yang menonjolkan status difabel: “Seorang tuna netra ditabrak…”, atau “Korban cacat fisik mengalami…”. Pertanyaannya, apakah penyebutan kondisi tersebut relevan untuk menjelaskan kasus?
Jika tidak, penyebutan itu hanya menambah stigma dan memperkuat posisi minoritas sebagai objek belas kasihan. Di sisi lain, ada kecenderungan menjadikan difabilitas seseorang sebagai daya tarik berita agar lebih banyak dilihat dan dikomentari. Dalam kacamata jurnalisme inklusif, cara seperti itu tidak hanya keliru, namun juga tidak adil. Bahkan sejak dari pikiran.
Empati seharusnya menjadi panduan dalam proses menulis. Iya, empati harusnya bukan sekadar perasaan iba, melainkan kemampuan memahami sudut pandang subjek yang kita beritakan. Dengan empati, jurnalis akan lebih berhati-hati dalam menentukan sudut pandang, bahasa, dan cara penyampaian. Tidak semua hal yang kita ketahui perlu kita publikasikan. Tidak semua identitas harus kita buka ke publik. Dan tidak semua aspek personal relevan untuk diceritakan.
Jurnalisme Empati
Anita Dhewy menekankan bahwa jurnalis harus sadar diri dalam posisinya: ia seringkali bukan tokoh utama dalam cerita yang sedang kita tulis. Ketika meliput isu difabel, jurnalis berada dalam posisi outsider yang harus menghargai pengalaman hidup orang lain sebagai pengalaman yang valid dan utuh.
Menuliskan cerita mereka tanpa pemahaman dan kepekaan hanya akan menambah luka dan memperlemah suara mereka. Sebaliknya, memberikan ruang bagi difabel untuk bersuara atas nama dirinya sendiri adalah prinsip paling mendasar dalam jurnalisme inklusif.
Menormalkan pemberitaan tentang difabel bukan berarti menghapus cerita mereka dari media. Justru sebaliknya, cerita mereka perlu tersampaikan agar publik semakin memahami keberagaman kondisi manusia. Namun cara penyampaianlah yang membedakan apakah sebuah berita menjadi suportif atau justru diskriminatif.
Menyebut nama, profesi, atau kontribusi yang mereka lakukan jauh lebih layak ketimbang menyoroti keterbatasannya. Fokusnya bukan pada apa yang hilang dari diri mereka, melainkan apa yang sedang mereka perjuangkan dan lakukan.
Jurnalisme yang berempati juga berarti menghapus bias pandangan bahwa difabel selalu berada pada posisi sebagai objek penderita. Banyak orang difabel yang justru menjadi pelopor perubahan sosial, berprestasi, atau menjadi pemecah stigma. Memberikan ruang pada keberhasilan mereka akan memperkaya narasi publik tentang disabilitas, bahwa difabel bukan monopoli kesedihan ataupun tragedi.
Lebih jauh lagi, pendekatan inklusif dalam jurnalisme sejalan dengan prinsip keadilan sosial. Media memiliki peran penting dalam membentuk opini publik, sehingga setiap kata yang kita pilih dapat menentukan bagaimana masyarakat memperlakukan saudara-saudara difabel di kehidupan sehari-hari. Pemberitaan yang adil dan empatik dapat menjadi jembatan menuju lingkungan sosial yang lebih ramah, terbuka, dan setara.
Mewujudkan Jurnalisme Inklusif Sebagai Ruang Suara Bagi Semua
Pada akhirnya, jurnalisme yang seharusnya adalah wajah yang memuliakan manusia. Setiap cerita punya subjek yang memiliki martabat. Menulislah dengan keberpihakan kepada kemanusiaan, karena berita bukan hanya informasi, tetapi juga wujud penghormatan terhadap mereka yang kita jadikan bagian dari cerita itu.
Jika media mampu menjadi ruang suara bagi semua, tanpa kecuali, maka jurnalisme sedang menjalankan tugasnya pada bentuk paling ideal. Memperkuat yang lemah, menampilkan yang tersembunyi, serta membuat setiap manusia terlihat sebagai manusia seutuhnya.
Sekali lagi, menulis dengan empati bukan tren sesaat. Melainkan tanggung jawab moral. Sebuah laku hidup yang menjadikan jurnalisme tetap relevan dan bermakna bagi siapa saja yang membacanya. []




















































