Selasa, 17 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Guru Era Digital

    Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral

    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Konsep Fitnah

    Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik

    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Guru Era Digital

    Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral

    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Konsep Fitnah

    Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik

    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Menulis dengan Empati: Wajah Jurnalisme yang Seharusnya

Pada akhirnya, jurnalisme yang seharusnya adalah wajah yang memuliakan manusia. Setiap cerita punya subjek yang memiliki martabat.

Afiqul Adib by Afiqul Adib
2 Februari 2026
in Publik
A A
0
Jurnalisme

Jurnalisme

7
SHARES
357
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Secara konsep, kita perlu sepakat bahwa jurnalisme itu hadir untuk menyuarakan realitas, memperlihatkan yang sering luput dari penglihatan publik, serta mengabarkan kejadian yang berdampak pada kehidupan bersama. Namun dalam praktiknya, tidak semua yang kita beritakan memberi ruang yang manusiawi bagi pihak yang terlibat.

Iya, masih banyak pemberitaan yang menunjukkan bagaimana media kerap fokus pada sensasi, label, atau karakteristik personal seseorang yang tidak relevan dengan kasus yang terangkat. Oleh sebab itu, penting memahami jurnalisme yang berempati, yakni jurnalisme yang inklusif serta mampu memanusiakan subjek liputannya.

Salah satu pelajaran penting tentang hal ini semakin kuat terasa ketika mengikuti webinar Jurnalisme Inklusi yang menghadirkan Anita Dhewy pada November 2025 silam sebagai pembicara. Ia mengingatkan bahwa jurnalisme bukan sekadar soal menyampaikan fakta, tetapi juga menjaga martabat manusia.

Dan kalau diamati, kasus yang sering muncul adalah ketika media meliput isu difabel. Alih-alih fokus pada persoalan utama, justru disabilitas seseorang malah menjadi sorotan, bahkan dijadikan bahan dramatisasi. Padahal, difabel bukan elemen utama dari semua cerita yang mereka alami dalam hidup. Mereka bisa menjadi korban kekerasan, pelaku usaha, pendidik, atau profesional di berbagai bidang. Dan semua itu tak harus selalu kita kaitkan dengan kondisi fisiknya.

Media dan Upaya Mencari click-bait Buta

Ketika media memberitakan seseorang yang menjadi korban kecelakaan, misalnya, sering muncul narasi yang menonjolkan status difabel: “Seorang tuna netra ditabrak…”, atau “Korban cacat fisik mengalami…”. Pertanyaannya, apakah penyebutan kondisi tersebut relevan untuk menjelaskan kasus?

Jika tidak, penyebutan itu hanya menambah stigma dan memperkuat posisi minoritas sebagai objek belas kasihan. Di sisi lain, ada kecenderungan menjadikan difabilitas seseorang sebagai daya tarik berita agar lebih banyak dilihat dan dikomentari. Dalam kacamata jurnalisme inklusif, cara seperti itu tidak hanya keliru, namun juga tidak adil. Bahkan sejak dari pikiran.

Empati seharusnya menjadi panduan dalam proses menulis. Iya, empati harusnya bukan sekadar perasaan iba, melainkan kemampuan memahami sudut pandang subjek yang kita beritakan. Dengan empati, jurnalis akan lebih berhati-hati dalam menentukan sudut pandang, bahasa, dan cara penyampaian. Tidak semua hal yang kita ketahui perlu kita publikasikan. Tidak semua identitas harus kita buka ke publik. Dan tidak semua aspek personal relevan untuk diceritakan.

Jurnalisme Empati

Anita Dhewy menekankan bahwa jurnalis harus sadar diri dalam posisinya: ia seringkali bukan tokoh utama dalam cerita yang sedang kita tulis. Ketika meliput isu difabel, jurnalis berada dalam posisi outsider yang harus menghargai pengalaman hidup orang lain sebagai pengalaman yang valid dan utuh.

Menuliskan cerita mereka tanpa pemahaman dan kepekaan hanya akan menambah luka dan memperlemah suara mereka. Sebaliknya, memberikan ruang bagi difabel untuk bersuara atas nama dirinya sendiri adalah prinsip paling mendasar dalam jurnalisme inklusif.

Menormalkan pemberitaan tentang difabel bukan berarti menghapus cerita mereka dari media. Justru sebaliknya, cerita mereka perlu tersampaikan agar publik semakin memahami keberagaman kondisi manusia. Namun cara penyampaianlah yang membedakan apakah sebuah berita menjadi suportif atau justru diskriminatif.

Menyebut nama, profesi, atau kontribusi yang mereka lakukan jauh lebih layak ketimbang menyoroti keterbatasannya. Fokusnya bukan pada apa yang hilang dari diri mereka, melainkan apa yang sedang mereka perjuangkan dan lakukan.

Jurnalisme yang berempati juga berarti menghapus bias pandangan bahwa difabel selalu berada pada posisi sebagai objek penderita. Banyak orang difabel yang justru menjadi pelopor perubahan sosial, berprestasi, atau menjadi pemecah stigma. Memberikan ruang pada keberhasilan mereka akan memperkaya narasi publik tentang disabilitas, bahwa difabel bukan monopoli kesedihan ataupun tragedi.

Lebih jauh lagi, pendekatan inklusif dalam jurnalisme sejalan dengan prinsip keadilan sosial. Media memiliki peran penting dalam membentuk opini publik, sehingga setiap kata yang kita pilih dapat menentukan bagaimana masyarakat memperlakukan saudara-saudara difabel di kehidupan sehari-hari. Pemberitaan yang adil dan empatik dapat menjadi jembatan menuju lingkungan sosial yang lebih ramah, terbuka, dan setara.

Mewujudkan Jurnalisme Inklusif Sebagai Ruang Suara Bagi Semua

Pada akhirnya, jurnalisme yang seharusnya adalah wajah yang memuliakan manusia. Setiap cerita punya subjek yang memiliki martabat. Menulislah dengan keberpihakan kepada kemanusiaan, karena berita bukan hanya informasi, tetapi juga wujud penghormatan terhadap mereka yang kita jadikan bagian dari cerita itu.

Jika media mampu menjadi ruang suara bagi semua, tanpa kecuali, maka jurnalisme sedang menjalankan tugasnya pada bentuk paling ideal. Memperkuat yang lemah, menampilkan yang tersembunyi, serta membuat setiap manusia terlihat sebagai manusia seutuhnya.

Sekali lagi, menulis dengan empati bukan tren sesaat. Melainkan tanggung jawab moral. Sebuah laku hidup yang menjadikan jurnalisme tetap relevan dan bermakna bagi siapa saja yang membacanya. []

Tags: Adil pada DifabelAksesibilitasHak Penyandang DisabilitasInklusi SosialJurnalismeJurnalisme EmpatiJurnalisme inklusi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

KUPI Tegaskan Menjaga Lingkungan Bagian dari Prinsip Dasar Islam

Next Post

Kerusakan Lingkungan Harus Dihentikan

Afiqul Adib

Afiqul Adib

Introvert garis keras. Tinggal di Lamongan.

Related Posts

Jalan Raya
Publik

Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

16 Februari 2026
Perda Inklusi
Disabilitas

Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

13 Februari 2026
Inpirasi Perempuan Disabilitas
Disabilitas

Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

7 Februari 2026
Difabel dalam Sejarah Yunani
Disabilitas

Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

5 Februari 2026
Disabilitas dan Dunia Kerja
Disabilitas

Disabilitas dan Dunia Kerja: Antara Regulasi dan Realita

3 Februari 2026
MBG
Disabilitas

MBG bagi Difabel: Pentingkah?

2 Februari 2026
Next Post
Kerusakan Lingkungan

Kerusakan Lingkungan Harus Dihentikan

No Result
View All Result

TERBARU

  • Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik
  • Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral
  • Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam
  • Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan
  • Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0