Mubadalah.id– Setiap tahun, peringatan International Day of Women and Girls in Science kembali mengingatkan kita pada satu pertanyaan mendasar: mengapa perempuan masih menjadi minoritas di dunia sains, meskipun akses pendidikan terbuka lebar terus meningkat? Di Indonesia, paradoks ini terlihat jelas. Partisipasi perempuan dalam pendidikan tinggi relatif membaik, tetapi representasi mereka di dunia riset terutama pada bidang sains justru tertinggal.
Secara global, data UNESCO menunjukkan bahwa perempuan hanya mencakup sekitar 30% dari total periset di seluruh dunia. Angka ini mencerminkan bahwa sains, sebagai ekosistem pengetahuan dan inovasi, belum menjadi ruang yang setara secara gender. Laki-laki masih mendominasi dunia riset nasional , baik dari sisi jumlah maupun posisi strategis.
Di Indonesia gambaran ini tercermin dari data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dari sekitar 12.672 pegawai BRIN saat ini, 65% adalah laki-laki dan hanya 35 persen perempuan. Komposisi ini menunjukkan bahwa ketimpangan gender tidak hanya terjadi di tingkat global, tetapi juga mengakar dalam institusi riset utama di Indonesia. Ketimpangan tersebut semakin menguat ketika fokus diarahkan pada bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Di sektor ini, perempuan berada pada posisi yang jauh lebih rentan. Saat ini, hanya sekitar 19% periset perempuan yang berkarier di bidang STEM.
Persentase ini sering kali tampak secara sederhana sebagai persoalan minat atau pilihan individu. Anggapan bahwa perempuan kurang tertarik pada sains atau tidak bertahan karena preferensi pribadi. Namun, penjelasan ini mengabaikan persoalan yang lebih mendasar: dunia sains tidak pernah benar-benar netral gender. Dunia Sains memiliki wajah maskulin, di atas struktur, norma, dan kebijakan yang secara sistematis lebih menguntungkan laki-laki.
Partisipasi Pendidikan Naik, tapi Representasi Riset dan Jenjang Karier Lanjut Menurun
Fenomena ini kerap disebut dengan konsep leaky pipeline. Sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, anak perempuan dan perempuan muda tidak tertinggal secara signifikan dalam capaian akademik.
Bahkan, di beberapa jenjang, justru menunjukkan performa yang lebih baik. Namun, seiring naiknya jenjang pendidikan dan karier dari S2, S3, hingga peneliti aktif dan peneliti utama jumlah perempuan menyusut drastis. Mereka tidak “gugur” karena kurang kompeten, melainkan karena sistem yang ada tidak untuk mempertahankan mereka.
Salah satu faktor utama adalah desain karier riset yang mengasumsikan jalur kerja linear dan tanpa jeda. Produktivitas ilmiah terlihat publikasi, mobilitas, dan ketersediaan waktu yang tinggi, tanpa mempertimbangkan siklus hidup peneliti sebagai seorang perempuan.
Kehamilan, melahirkan, dan pengasuhan yang dalam praktik sosial masih menjadi beban domestik terutama bagi perempuan tidak dipandang sebagai bagian dari kehidupan akademik, melainkan sebagai gangguan terhadap produktivitas. Sistem ini tampak netral di atas kertas, tetapi diskriminatif dalam praktik.
Beban Ganda dan Bias Gender yang Membatasi Ruang Gerak Perempuan
Selain itu, norma gender di luar institusi akademik turut mempersempit ruang gerak perempuan di dunia sains. Perempuan peneliti kerap memikul beban ganda: tuntutan profesional di satu sisi dan ekspektasi sosial sebagai pengasuh utama di sisi lain. Ketika negara dan institusi riset menganggap pengasuhan sebagai urusan privat, mereka secara tidak langsung menyingkirkan perempuan dari jalur karier ilmiah. Dalam kondisi ini, bertahan di dunia riset bukan semata persoalan kapasitas individual, tetapi negosiasi terus-menerus dengan struktur yang timpang.
Bias gender juga bekerja pada level simbolik. Sains, khususnya STEM, masih menjadi domain maskulin. Representasi ilmuwan dalam buku ajar, media, dan kepemimpinan riset lebih sering menampilkan figur laki-laki. Minimnya role model perempuan membuat banyak perempuan muda merasa bahwa dunia sains bukan ruang yang sepenuhnya “dimiliki” oleh mereka. Akibatnya, sebagian memilih menarik diri secara perlahan, bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak merasa diakui.
Ketimpangan gender dalam sains bukan sekadar isu keadilan, tetapi juga persoalan kualitas pembangunan. Ketika perempuan tersingkir dari dunia riset, Indonesia kehilangan potensi ilmiah yang signifikan. Agenda riset menjadi kurang inklusif dan berisiko mengabaikan perspektif serta pengalaman perempuan dan kelompok rentan lainnya.
Dalam konteks jangka panjang, hal ini dapat berdampak pada kualitas inovasi, kebijakan berbasis bukti, dan kemampuan negara menjawab persoalan kompleks, mulai dari kesehatan hingga lingkungan khususnya program dan kebijakan yang terkait dengan perempuan dan anak perempuan.
Perubahan Struktural dan Membangun Vibes Sains yang Ramah Perempuan
Oleh karena itu, upaya mendorong keterlibatan perempuan di bidang sains tidak bisa berhenti pada sebatas semangat atau ajakan untuk “lebih percaya diri”. Terpenting adalah adanya perubahan struktural, dengan merancangk ebijakan riset yang mempertimbangkan siklus hidup peneliti, evaluasi kinerja harus lebih kontekstual, dan penyajian data riset perlu secara terpilah gender.
Hal ini juga menjadi poin penting untuk mendorong keterlibatan perempuan mengambil peran sebagai pengambil kebijakan di ranah publik. Sebab jika ruang untuk mengembangkan potensi diri bagi perempuan lebih terbuka dan ramah, tentu menjadikan peluang yang lebih besar untuk mereka mengambil peran.
Peringatan Hari Perempuan dan Anak Perempuan di Bidang Sains menjadi momentum untuk merefleksikan ulang bagaimana mendefinisikan dan membangun vibes sains yang lebih ramah perempuan. Selama keunggulan ilmiah terlihat dari siapa yang mampu bekerja tanpa jeda dan tanpa beban sosial, sains akan terus menjadi ruang eksklusif yang memarginalkan perempuan. Membuat sains lebih adil gender bukan berarti menurunkan standar, melainkan memperluas definisi keunggulan itu sendiri. []



















































