Mubadalah.id – Majelis Musyawarah (MM) Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) resmi meluncurkan Atlas Ulama Perempuan KUPI dalam Hari Puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BuKUPI) 2026 yang berlangsung di Masjid Cut Nyak Dien, Minggu (24/5/2026).
Peluncuran atlas tersebut menjadi langkah penting dalam mendokumentasikan sekaligus mengakui kiprah ulama perempuan Indonesia yang selama ini kerap luput dari catatan sejarah dan referensi keilmuan.
Peluncuran Atlas Ulama Perempuan KUPI diumumkan langsung oleh anggota Majelis Musyawarah Dr. Iklilah Muzayyanah, di hadapan para nyai, kyai, akademisi, aktivis, jaringan komunitas. Serta KUPI Muda yang hadir dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam sambutannya, Iklilah menegaskan bahwa suara ulama perempuan selama ini selalu hadir dan menjadi bagian penting dalam berbagai ruang kehidupan masyarakat.
“Selama ini kita semua menjadi saksi, bahkan menjadi bagian dari sejarah itu sendiri, bahwa suara perempuan ulama selalu menjadi bagian penting di berbagai ruang, baik di masjid, pesantren, kampus, media sosial, terlebih lagi di berbagai ruang kultural yang ada di kampung-kampung dan desa-desa,” ujar Iklilah.
Meski memiliki kontribusi besar dalam kehidupan sosial, keagamaan, dan kebangsaan, menurutnya peran ulama perempuan masih jarang mendapatkan apresiasi yang layak. Nama-nama mereka kerap tidak tercatat dalam berbagai referensi maupun buku sejarah.
Bahkan, pemikiran dan gerakan mereka sering kali belum diakui sebagai bagian penting dari tradisi keilmuan dan gerakan keulamaan di Indonesia.
“Peran mereka jarang mendapatkan apresiasi. Nama-nama mereka jarang tertulis dalam berbagai referensi dan buku. Pemikiran serta gerakan mereka juga jarang menjadi diskursus yang diakui dan direkognisi sebagai kontribusi keilmuan dan pemikiran. Serta gerakan keulamaan dalam penguatan umat,” katanya.
Atlas Ulama Perempuan
Karena itu, melalui momentum Puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia, Majelis Musyawarah KUPI mengambil langkah strategis dengan meluncurkan Atlas Ulama Perempuan KUPI sebagai sumber referensi hidup mengenai kiprah para ulama perempuan Indonesia.
Iklilah menjelaskan, atlas tersebut bukan sekadar kumpulan nama tokoh perempuan. Atlas KUPI dirancang sebagai peta jejak perjuangan ulama perempuan yang selama hidupnya berdiri di garis depan dalam memperjuangkan keadilan dan kemaslahatan umat.
“Atlas KUPI bukan sekadar daftar nama. Ia adalah peta jejak perjuangan ulama perempuan, baik yang berjenis kelamin perempuan maupun laki-laki, yang peran-perannya tidak dapat dipungkiri,” ungkapnya.
Di dalam atlas itu, lanjutnya, tersimpan berbagai profil ulama perempuan yang selama ini aktif mendampingi perempuan penyintas kekerasan dan korban perkawinan usia anak. Juga termasuk korban sunat perempuan, pekerja migran, masyarakat adat, hingga kelompok rentan yang kerap terabaikan suaranya.
Menurut Iklilah, Atlas KUPI juga menjadi ruang dokumentasi yang memperlihatkan keberagaman identitas dan ruang perjuangan ulama perempuan di Indonesia. Para tokoh yang masuk dalam atlas berasal dari berbagai wilayah, latar sosial, dan medan perjuangan yang berbeda-beda.
“Melalui Atlas KUPI, kita bisa menelusuri tokoh-tokoh ulama perempuan Indonesia dari seluruh penjuru negeri. Mereka dapat kita lihat dari berbagai identitas yang beragam, baik dari wilayah kelahiran, domisili perjuangan, maupun ruang hikmahnya. Baik di perguruan tinggi, pesantren, komunitas, kelompok muda, maupun majelis-majelis,” jelasnya.
Tidak hanya itu, atlas tersebut juga memperlihatkan kiprah ulama perempuan dalam berbagai ruang kehidupan. Mulai dari keluarga, masyarakat, gerakan sosial, negara, hingga isu-isu lingkungan dan kemanusiaan. KUPI juga mencatat kesejarahan ulama perempuan berdasarkan karakter keulamaan mereka, baik dalam studi keislaman, pemberdayaan masyarakat, maupun pengembangan pengetahuan.
Kupipedia.id
Saat ini, kata Iklilah, profil-profil ulama perempuan dalam Atlas KUPI masih terus diperbarui dan dikembangkan melalui platform digital Kupipedia.id agar dapat diakses publik secara lebih luas.
Ia berharap kehadiran Atlas Ulama Perempuan KUPI dapat menjadi langkah nyata untuk menghadirkan pengakuan yang lebih luas terhadap kontribusi ulama perempuan dalam membangun kehidupan yang berkeadilan dan berkeadaban.
“Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, Majelis Musyawarah Kongres Ulama Perempuan Indonesia meluncurkan Atlas Ulama Perempuan KUPI sebagai langkah nyata agar dunia menyadari dan mengakui keulamaan mereka dalam membangun kerja-kerja kemanusiaan yang tidak pernah berhenti,” ujarnya.
Ia menambahkan, kerja-kerja ulama perempuan selama ini tidak hanya melalui dakwah dan pendidikan agama. Tetapi juga melalui pembangunan pengetahuan, pengajaran nilai-nilai kesetaraan, keadilan, kemaslahatan, serta perjuangan sosial yang terus berlangsung di berbagai lapisan masyarakat.
Peluncuran Atlas Ulama Perempuan KUPI menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian BuKUPI 2026 yang tahun ini mengangkat semangat Indonesia tanpa kekerasan.
Acara tersebut juga menjadi ruang konsolidasi gerakan ulama perempuan Indonesia untuk terus memperkuat perjuangan kemanusiaan dan keadilan gender. Serta kebangsaan di tengah berbagai tantangan sosial yang masyarakat hadapi saat ini. []












































