Selasa, 14 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Anak Guru SLB

    Melihat Disabilitas dari Rumah: Cerita Anak Guru SLB

    The Personal is Political

    Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

    Makna Tahrīr

    Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

    Normal

    Ketika Normal Menjadi Diskriminasi

    Perempuan dalam Perkawinan

    Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kutil di Kelamin

    Kutil di Kelamin: Kenali Gejala, Cara Mengobati, dan Kapan Harus Waspada

    Alat Kelamin

    Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gatal dan Kutil di Alat Kelamin

    Cairan Vagina

    Apa Saja Penyebab Munculnya Cairan Vagina yang Tidak Normal?

    Cairan Vagina

    Kenali Penyebab Cairan Vagina yang Tidak Normal dan Cara Mewaspadainya

    Penyakit Menular Seksual

    Terlanjur Tertular Penyakit Seksual? Ini 6 Langkah yang Perlu Anda Lakukan

    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    Kitab Al-Ajurumiyah

    Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Anak Guru SLB

    Melihat Disabilitas dari Rumah: Cerita Anak Guru SLB

    The Personal is Political

    Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

    Makna Tahrīr

    Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

    Normal

    Ketika Normal Menjadi Diskriminasi

    Perempuan dalam Perkawinan

    Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kutil di Kelamin

    Kutil di Kelamin: Kenali Gejala, Cara Mengobati, dan Kapan Harus Waspada

    Alat Kelamin

    Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gatal dan Kutil di Alat Kelamin

    Cairan Vagina

    Apa Saja Penyebab Munculnya Cairan Vagina yang Tidak Normal?

    Cairan Vagina

    Kenali Penyebab Cairan Vagina yang Tidak Normal dan Cara Mewaspadainya

    Penyakit Menular Seksual

    Terlanjur Tertular Penyakit Seksual? Ini 6 Langkah yang Perlu Anda Lakukan

    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    Kitab Al-Ajurumiyah

    Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Film

Film Pesta Babi, Relasi Negara-Korporasi, dan Krisis Sosial-Ekologis Indonesia

Fenomena nobar film Pesta Babi dapat menunjukkan bahwa masyarakat mulai sadar bahwa krisis sosial-ekologis bukan persoalan yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Khairul Anwar by Khairul Anwar
28 Mei 2026
in Film, Publik
A A
0
Film Pesta Babi

Film Pesta Babi

26
SHARES
1.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Lima belas tahun lalu, tak banyak yang saya tahu soal Papua. Yang saya kenal hanya Persipura Jayapura dan pemain bintangnya, Boaz Solossa, yang sempat menari-nari saat berseragam Timnas Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, Papua dalam benak saya, bukan cuma sekadar talenta emas sepakbola.

Belakangan, wilayah di kawasan Indonesia Timur tersebut sedang jadi perbincangan masyarakat seantero Indonesia. Dari tukang koran, hingga kaum akademisi membicarakannya. Apalagi kalau bukan melalui film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.

Tak sedikit warga yang akhirnya tahu tentang kondisi sosial-ekologis Papua yang sebenarnya. Ini karena film dokumenter garapan Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale ini laris ditonton lebih dari 2 juta orang di Youtube dan ratusan ribu lainnya yang menyaksikan lewat nonton bareng. 

Film Pesta Babi dan Arah Pembangunan

Fenomena nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi dalam beberapa waktu terakhir memang mencuri perhatian publik di berbagai penjuru tanah air. Di kampus, komunitas literasi, organisasi mahasiswa, hingga ruang-ruang diskusi masyarakat sipil, film ini terputar beramai-ramai. 

Menariknya, antusiasme publik terhadap film ini justru semakin meningkat ketika sejumlah agenda pemutaran terkabarkan mengalami pembatasa. Bahkan pembubaran di beberapa daerah, seperti salah satunya di Universitas Mataram (NTB). Semakin dilarang, film ini pun saya amati semakin laris. Masyarakat, yang tadinya awam soal krisis sosial-ekologis yang menimpa Papua, lambat laun sedikit demi sedikit paham akan gejolak tersebut.

Meskipun film ini tak menceritakan drama asmara atau kisah horor, tapi film ini nggak kalah dramatisnya. Ini bukan film horor yang bikin kita takut ke kamar mandi karena membayangkan ada pocong tiba-tiba muncul dari dalam bak mandi. Isu yang terangkat dalam film Pesta Babi bukan sekadar persoalan hiburan atau dokumentasi biasa. Akan tetapi telah menyentuh problem struktural yang dekat dengan realitas sosial masyarakat Indonesia.

Fenomena nobar film Pesta Babi ini menunjukkan adanya keresahan publik terhadap arah pembangunan Indonesia hari ini. Banyak masyarakat mulai mempertanyakan kebijakan pembangunan yang sering kali mengatasnamakan investasi, hilirisasi, ketahanan pangan, hingga transisi energi, tetapi pada saat bersamaan justru mendatangkan konflik agraria, kerusakan lingkungan, dan marginalisasi masyarakat adat. 

Film ini memang bukan film horor, namun tetap ada nuansa yang membikin bulu kuduk kita merinding ketika menontonnya. Horor tanpa makhluk gaib, mungkin itu istilah yang tepat. Kalau film horor biasa menghadirkan setan atau monster, maka “monster” dalam Pesta Babi adalah kolonialisme modern, ekspansi industri, dan ketimpangan kekuasaan. Karena berasal dari kenyataan, rasa seramnya justru terasa lebih dekat dan lebih mengganggu.

Film sebagai Medium Kritik Sosial

Nah, Pesta Babi hadir sebagai medium kritik sosial yang membongkar bagaimana praktik kolonialisme ternyata masih hidup dalam bentuk baru melalui penguasaan tanah, eksploitasi sumber daya alam yang membabi buta, dan dominasi kekuasaan ekonomi-politik.

Dalam film tersebut, Papua tergambarkan sebagai ruang hidup masyarakat adat yang perlahan berubah menjadi kawasan industri dan Proyek Strategis Nasional (PSN), padahal dalam film tersebut menegaskan “Papua Bukan Tanah Kosong”.

Hutan dibuka secara besar-besaran untuk kepentingan food estate, perkebunan, hingga proyek bioenergi. Negara dan korporasi hadir dengan membawa narasi pembangunan dan kesejahteraan. Tetapi di balik itu masyarakat adat justru kehilangan tanah, sumber pangan, identitas budaya, dan relasi spiritual dengan alam.

Secara simbolik, istilah “pesta babi” dalam budaya Papua sebenarnya merupakan ritual adat yang sarat makna persaudaraan dan kebersamaan sosial. Namun dalam film ini, istilah tersebut berubah menjadi metafora ironi. Pesta kekuasaan dan modal yang berlangsung di atas penderitaan masyarakat kecil. Tanah menjadi komoditas ekonomi, di sisi lain masyarakat lokal diposisikan hanya sebagai penonton di tanah kelahirannya sendiri.

Relasi Negara-Korporasi dan Warisan Kolonialisme

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kolonialisme sejatinya belum benar-benar berakhir. Jika dahulu kolonialisme dilakukan melalui penjajahan fisik oleh bangsa asing. Kini kolonialisme hadir melalui regulasi, investasi, dan proyek pembangunan yang lebih berpihak pada kepentingan modal dibandingkan kesejahteraan masyarakat luas. Dalam konteks ini, negara sering kali menjadi fasilitator ekspansi industri atas nama pertumbuhan ekonomi nasional.

Relasi antara negara dan korporasi inilah yang menjadi salah satu akar utama krisis ekologis di Indonesia. Pemerintah memiliki kekuasaan dalam membuat regulasi, memberikan izin usaha, menetapkan proyek strategis nasional, hingga menentukan tata ruang wilayah.

Sementara korporasi memiliki modal dan kepentingan ekonomi untuk mengeksploitasi sumber daya alam. Ketika keduanya menyatu seperti sepasang kekasih, dan saling bekerja sama tanpa kontrol yang kuat dari masyarakat sipil, maka yang terjadi adalah eksploitasi lingkungan secara masif dan sistematis.

Dalam banyak kasus, kebijakan pemerintah justru lebih berpihak pada kepentingan investasi alih-alih perlindungan lingkungan dan hak masyarakat adat. Pembukaan lahan hutan untuk industri seringkali dipermudah melalui regulasi yang longgar. Ini bukan omong kosong. WALHI, misalnya, mencatat sekitar 26 juta hektare hutan alam Indonesia terancam mengalami “deforestasi legal” melalui berbagai skema izin seperti PBPH, HGU, dan WIUP (Kompas, 2026).

Menyoal Konflik Agraria

Konflik agraria yang melibatkan perusahaan besar pun tidak jarang berujung pada kriminalisasi masyarakat lokal yang mempertahankan tanahnya. Situasi ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak selalu hadir sebagai pelindung rakyat, tetapi kadang menjadi bagian dari struktur kekuasaan yang memperkuat dominasi korporasi.

Kondisi tersebut sangat relevan dengan krisis ekologis yang sedang melanda Indonesia saat ini. Berbagai wilayah mengalami banjir, longsor, kebakaran hutan, pencemaran sungai, kekeringan, hingga hilangnya kawasan hutan adat. Seperti yang terjadi di Sumatera tahun lalu. Persoalan ini tidak dapat kita pahami semata-mata sebagai bencana alam, tetapi merupakan dampak dari kebijakan pembangunan yang eksploitatif dan tidak berkeadilan.

Pembukaan lahan besar-besaran untuk perkebunan, pertambangan, dan proyek industri telah mengubah fungsi ekologis alam. Hutan yang sebelumnya menjadi penyangga lingkungan dihabisi demi kepentingan investasi. Sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat tercemar limbah industri. Ironisnya, masyarakat kecil mulai dari anak-anak, perempuan, dan lansia, yang paling sedikit menikmati keuntungan pembangunan justru menjadi kelompok yang paling merasakan dampak kerusakan lingkungan tersebut.

Perspektif Sosial-Ekologis

Dalam perspektif sosial-ekologis, krisis lingkungan tidak hanya berbicara tentang kerusakan alam, tetapi juga tentang ketimpangan sosial dan relasi kuasa. Alam dan manusia dipandang sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan. Ketika lingkungan rusak, maka ruang hidup masyarakat juga ikut terganggu, bahkan tercerai berai. Tersebab itu, kerusakan hutan bukan hanya berarti hilangnya pohon, tetapi juga hilangnya sumber pangan, budaya, solidaritas sosial, bahkan identitas masyarakat adat.

Film Pesta Babi memperlihatkan bagaimana masyarakat adat Papua memiliki hubungan spiritual yang sangat kuat dengan tanah dan hutan. Alam dipandang bukan sekadar objek ekonomi, melainkan bagian dari kehidupan yang sakral. Hutan bukan semata pajangan pohon-pohon, tetapi hutan adalah “mama” (ibu) bagi masyarakat adat Papua, yang memberikan kehidupan, perlindungan, identitas, dan warisan leluhur.

Ketika tanah adat terampas atau hutan dihancurkan, masyarakat tidak hanya kehilangan sumber ekonomi, tetapi juga kehilangan ruang budaya dan memori kolektif mereka. Ironis dan yang lebih menyakitkan, masyarakat adat seringkali dicap sebagai penghambat pembangunan karena mempertahankan hutan dan menolak ekspansi industri. 

Padahal, banyak penelitian menunjukkan bahwa masyarakat adat justru menjadi kelompok yang paling konsisten menjaga keberlanjutan lingkungan. Wilayah adat terbukti menjadi benteng penting dalam memelihara kelestarian hutan dan ekosistem. Dalam Buku Reset Indonesia misalnya, ditegaskan bahwa komunitas adat memiliki sistem nilai, aturan, dan kearifan ekologis yang mampu menjaga keseimbangan hutan secara turun-temurun.

Film Pesta Babi ini juga menunjukkan bagaimana regulasi dan kekuasaan sering digunakan untuk memperkuat kepentingan investasi. Dalam banyak konflik agraria, masyarakat lokal tidak memiliki posisi tawar yang kuat ketika berhadapan dengan negara dan korporasi. Akibatnya, pembangunan lebih banyak melahirkan ketimpangan sosial daripada kesejahteraan bersama.

Kritik Paradigma Pembangunan Modern

Lebih jauh, film Pesta Babi menjadi kritik terhadap paradigma pembangunan modern yang terlalu menekankan pertumbuhan ekonomi tanpa mempertimbangkan keadilan sosial-ekologis. Pembangunan semacam ini melahirkan paradoks: angka investasi meningkat, tetapi kualitas lingkungan menurun dan konflik sosial semakin meluas.

Fenomena nobar film Pesta Babi dapat menunjukkan bahwa masyarakat mulai sadar bahwa krisis sosial-ekologis bukan persoalan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Kerusakan lingkungan, konflik agraria, ketimpangan sosial, dan hilangnya ruang hidup masyarakat adat adalah bagian dari problem sosial yang nyata di Indonesia. Film ini menjadi pengingat bahwa pembangunan yang mengabaikan keadilan sosial dan ekologis hanya akan melahirkan kolonialisme baru dengan wajah yang lebih seram, modern dan sistematis.

Negeri ini membutuhkan paradigma pembangunan yang lebih berorientasi pada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah perlu menempatkan masyarakat adat dan kelompok rentan sebagai subjek pembangunan. Bukan sekadar objek kebijakan.

Selain itu, relasi negara dan korporasi harus kita awasi secara ketat agar kebijakan pembangunan tidak hanya berfaedah untuk elite ekonomi, tetapi juga melindungi kelestarian alam dan hak hidup masyarakat. Jika tidak, maka krisis sosial-ekologis akan terus membesar, sementara masyarakat kecil tetap menjadi korban utama dari pesta kekuasaan dan eksploitasi sumber daya alam. []

Tags: EkologisFenomena SosialFilm Pesta Babimasyarakat adatProyek PSNTanah Papua
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Trio Pelaku Sejarah Iduladha

Next Post

Mengenali Anemia dan Gangguan Haid pada Perempuan Usia 40–50 Tahun

Khairul Anwar

Khairul Anwar

Akademisi, penulis, peneliti, dan aktivis media. Saat ini aktif di ISNU, LTNNU Kab. Pekalongan, GP Ansor, Gusdurian serta kontributor NU Online Jateng. Bisa diajak ngopi via ig @anwarkhairul17

Related Posts

Film Pesta Babi
Film

Film Pesta Babi: Saat Pembangunan Merampas Identitas Masyarakat Adat

11 Juni 2026
Film Pesta Babi
Film

Film Pesta Babi dan Martabat dalam Perspektif Iman Katolik

2 Juni 2026
Pesta Babi
Aktual

Nobar Film “Pesta Babi” di ISIF Cirebon, Soroti Perlawanan Perempuan Adat Papua

2 Mei 2026
Silaturahmi Lebaran
Kolom

Silaturahmi Lebaran, Hierarki Sosial, dan Logika Untung-Rugi

29 Maret 2026
Lebaran
Personal

Berlebaran dengan Baju Lama dan Kaleng Biskuit Isi Rengginang

20 Maret 2026
rahmatan lil ‘alamin sebagai
Pernak-pernik

Rahmatan lil ‘Alamin sebagai Landasan Perdamaian dan Tanggung Jawab Ekologis

1 Maret 2026
Next Post
Anemia

Mengenali Anemia dan Gangguan Haid pada Perempuan Usia 40–50 Tahun

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Melihat Disabilitas dari Rumah: Cerita Anak Guru SLB
  • Kutil di Kelamin: Kenali Gejala, Cara Mengobati, dan Kapan Harus Waspada
  • Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gatal dan Kutil di Alat Kelamin
  • Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0