Mubadalah.id – Ketika Anda menua, otot-otot yang “memegang” atau “mengangkat” rahim akan melemah. Karena otot-otot tersebut tidak mampu lagi menopang rahim, rahim bisa “jatuh” atau melorot ke dalam vagina, bahkan sebagian dapat “mengintip” keluar di antara lipatan vulva sehingga terlihat dari luar.
Dalam kasus yang paling parah, seluruh rahim dapat keluar melalui vulva ketika Anda buang air besar, batuk, bersin, atau mengangkat beban berat.
Namun, rahim juga bisa melorot meski Anda masih muda. Penyebab yang paling umum adalah kerusakan saat persalinan, terutama bila sering melahirkan atau jarak antar-kelahiran terlalu dekat.
Rahim juga dapat melorot bila dahulu Anda mendorong bayi keluar terlalu dini, atau bila bidan maupun pembantu persalinan menekan perut untuk mempercepat keluarnya bayi. Ketika memasuki usia lanjut, atau jika sering mengangkat beban berat, kondisi rahim melorot dapat semakin parah.
Sering kali perempuan tidak menyadari bahwa rahimnya melorot sampai setelah menopause. Pada saat itulah tanda-tandanya mulai muncul dan biasanya sudah cukup parah karena otot-otot semakin melemah.
Tanda-tanda rahim melorot:
Pertama, sering buang air kecil, sulit buang air kecil, atau mengompol. Kedua, sakit pada bagian bawah punggung. Ketiga, merasa seolah-olah ada sesuatu yang keluar dari vagina. Keempat, semua gejala di atas hilang saat berbaring
Cara Mengatasinya:
Lakukan latihan pengencangan otot. Bila latihan tersebut dilakukan setiap hari selama 3 sampai 4 bulan tetapi tidak menunjukkan kemajuan, kunjungi tenaga kesehatan terdekat.
Selain itu, mungkin Anda membutuhkan alat penyangga rahim (vaginal pessary), yaitu alat berbentuk cincin yang terbuat dari karet. Jika alat tersebut juga tidak mampu menahan rahim tetap pada tempatnya, maka Anda mungkin memerlukan operasi.
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 170-171. []






































