Ada satu di antara sekian ayat yang dikumandangkan saat khutbah Idul Adha: Lan yanâlallâha luhûmuhâ wa lâ dimâ’uhâ, wa lâkin yanâluhut taqwâ minkum. Artinya: Tidak akan sampai kepada Allah daging-dagingnya, tidak pula darahnya—yang sampai adalah ketakwaan dari dirimu.
(QS. Al-Hajj: 37)
Mubadalah.id – Syariat kurban tetaplah ibadah yang sakral. Ia bukan sekadar simbol, melainkan bentuk penghambaan yang nyata sekaligus praktik berbagi yang memiliki dimensi sosial yang besar. Namun Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa ritual ini tidak berhenti pada darah dan daging semata. Ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang diarahkan kepada manusia: ketakwaan, kerelaan, dan kemampuan untuk melepaskan keterikatan kerap mengambil alih pusat hidup kita.
Ibrahim dan Pembebasan Diri dari Keterikatan
Kita terlalu lama membaca kisah Ibrahim sebagai cerita tentang kepatuhan. Padahal lebih dari itu, kisah Ibrahim bisa kita maknai sebagai simbol pelepasan. Sesuatu yang secara psikologis jauh lebih berat dari sekadar patuh dan tunduk.
Kita semua memahami bahwa bagi Ibrahim, Ismail bukan sekadar anak. Ismail adalah puncak dari seluruh doanya yang panjang, bukti bahwa langit mendengar, tanda bahwa ia tidak sia-sia. Ia adalah identitas Ibrahim sebagai ayah, sebagai nabi, dan sebagai manusia yang akhirnya terpilih. Ketika Ismail lahir, Ibrahim telah berusia lanjut setelah penantian panjangnya yang tak sanggup kita bayangkan.
Dan itulah yang diminta untuk terlepaskan. Bukan Ismail-nya. Tapi keterikatannya pada Ismail.
Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa puncak dari cinta sejati adalah ridha: kesediaan melepaskan bahkan yang paling dicintai, ketika Tuhan menghendakinya, tanpa kehilangan ketenangan. Bukan ketenangan yang dipaksakan, tapi ketenangan yang lahir dari keyakinan bahwa kecintaan pada Tuhan harus lebih besar dari kecintaan pada segala bukti diri kita.
Menyembelih Ego dan Keterikatan
Kita, tentu saja, tidak diminta menyembelih anak.
Tapi kita diminta hal-hal yang tidak kalah beratnya: Melepaskan keterlekatan pada ambisi yang tanpa sadar menjadi identitas diri.
Pekerjaan yang mula-mula kita sebut sebagai panggilan, tetapi perlahan menjadi penjara yang tampak terhormat. Jabatan yang terus kita pertahankan karena ketakutan pada pertanyaan “apalah diri kita tanpa sebuah titel”
Kita bukan lagi sekadar menjalankan peran. Sedikit demi sedikit, hati kita melekat padanya. Hingga ketika semua itu hilang, kita juga kehilangn seluruh rasa diri kita.
Pengurbanan Ibrahim juga mengajarkan kita melepaskan dendam yang kita rawat bak taman pribadi. Ada orang-orang yang kita simpan di dalam dada bukan karena cinta. Tapi karena amarah yang belum sempat selesai, seolah melepaskan marah kita bisa mengkhianati diri sendiri yang pernah terluka. Kita menyebutnya prinsip. Kita menyebutnya integritas. Jangan-jangan itu adalah ego yang bersembunyi di balik kata martabat.
Berkurban juga berarti melepaskan keharusan untuk selalu benar. Ini mungkin yang paling berat. Ego kita hari ini tidaklah tinggal di istana atau di atas singgasana. Ego kota terbentuk Di dalam debat yang kita perpanjang bukan untuk mencari kebenaran, tapi untuk memastikan kita yang menang.
Ibn ‘Arabi dalam Fusus al-Hikam, menggarisbawahi bahwa pengetahuan tentang Tuhan yang sejati (ma’rifah) tidak bisa kita capai hanya melalui kecerdasan akal. Mereka yang merasa paling paham tentang Tuhan, justru seringkali paling jauh dari-Nya, karena mereka menjadikan pengertian mereka sendiri sebagai batas dari yang ilahi. Hijab terbesar bukan kemaksiatan saja, namun kesombongan intelektual yang samar-samar hidup di dalam pikiran kitab.
Semua itu adalah Ismail-Ismail kita kita hari ini. Dan semuanya harus kita letakkan di atas batu.
Pisau sebagai Simbol Kesediaan
Yang menarik dari sejarah kurban adalah: pisau itu tidak jadi digunakan. Sejak awal, tujuan kisah ini memang bukan kematian, melainkan momen ketika Ibrahim memilih untuk tidak menjadikan Ismail sebagai pusat gravitasi hidupnya. Ketika pilihan itu sudah dibuat sepenuhnya di dalam hati, seekor domba menjadi cukup sebagai simbol.
Menyembelih seekor hewan mungkin mudah. Tetapi melepaskan keterikatan—bukan sekadar berpura-pura ikhlas—adalah pekerjaan seumur hidup. Pisau hanyalah alat. Yang teruji bukan kekuatan tangan, melainkan kedalaman kerelaan hati.
Maka menjadi dangkal ketika ritual kurban dkita aksanakan dengan khidmat setiap tahun. Sementara pada saat yang sama kita mempertahankan keangkuhan, memelihara permusuhan, dan menggenggam kekuasaan dengan cara-cara yang melukai orang-orang terdekat kita. Darah mengalir. Tetapi pelepasan yang diminta tidak pernah benar-benar kita laksanakan
Dimensi Sosial di Balik Praktik Qurban
Di balik ritual kurban terdapat dimensi sosial yang sering kita lewatkan.
Ketika seseorang berhasil melepaskan ego dan keterikatan, ia berhenti menjadi sumber bahaya bagi orang-orang di sekitarnya. Ia berhenti membutuhkan pengakuan dari siapa pun. Bahkan, ia tak lagi menjadikan pasangan sebagai cermin untuk memantulkan kebesarannya. Ia berhenti menjadikan anak sebagai proyek ambisi dan validasi diri. Ia berhenti menjadikan murid atau bawahan sebagai instrumen kepentingannya.
Sebaliknya, orang yang belum berhasil menyembelih egonya, betapa pun banyak hewan yang ia kurbankan setiap Iduladha, akan terus menguliti orang-orang terdekatnya dengan cara-cara lebih menyakitkan dari pisau mana pun. Kata-kata yang merendahkan. Harapan yang tidak pernah cukup. Cinta yang bersyarat.
Dalam proses belajar ini, saya melihat bahwa pengorbanan sejati, tidak terhenti pada membebaskan diri sendiri. Ada tanggung jawab sosial yang membawa kita untuk melakukan pembebaskan terhadap orang-orang yang selama ini terpaksa menanggung beban ego kita. Dan inilah dimensi kurban yang cukup sering absen terbacakan dalam khutbah-khutbah Iduladha. Bahwa menyembelih keterikatan pada diri sendiri adalah juga tindakan keadilan terhadap orang lain.
Merayakan Idul Adha dengan Ikrar Pembebasan
Setiap Iduladha, jutaan pisau terangkat. Aroma daging memenuhi udara pagi. Anak-anak berlarian di halaman, dengan antusiaa menyaksikan proses penyembelihan yang sakral. Tetangga saling berbagi. Ada kegembiraan yang nyata dan tidak perlu kita remehkan.
Jadi, bagaimana dengan kita? Apa yang tahun ini akan kita kita ‘letakkan’ di atas batu?
Dendam yang terlalu lama kita bungkus dengan rapat?
Keyakinan yang kita pegang begitu erat hingga tak menyisakan ruang untuk belajar?
Harta benda yang diam-diam menentukan nilai diri kita?
Jabatan yang membuat kita lupa bagaimana hidup tanpa pengakuan?
Atau bahkan, harga diri yang kita pertahankan sedemikian keras sampai sulit sekali menerima gagal, dan menjadi manusia biasa?
Malam kemarin, takbir mengalun melalui toa masjid di latar rumah. Lalu pisau-pisau ditajamkan, hewan-hewan akan dikurbankan, dan daging akan terbagi-bagikan kepada tetangga.
Mungkin, masih belum ada jawaban yang benar-benar memuaskan tentang apa yang akan kita kurbankan esok hari. Dan saya masih di sini, belajar tentang apa artinya menyembelih sesuatu yang lebih berat daripada seekor kambing.
Wallahu a’lam. []
Daftar Rujukan
Al-Qur’an al-Karim: QS. Al-Hajj [22]: 37.
Abu Hamid al-Ghazali. Ihya’ Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Ma‘rifah.
Ibn Arabi. Fusus al-Hikam. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi.
- Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.
Fazlur Rahman. Major Themes of the Qur’an. Chicago: University of Chicago Press.
William C. Chittick. The Sufi Path of Knowledge. Albany: SUNY Press.












































