Mubadalah.id – Adat-istiadat atau keyakinan masyarakat sering melahirkan pandangan yang keliru tentang penyandang disabilitas. Contohnya, di masyarakat tertentu perempuan penyandang disabilitas dianggap sebagai titisan seseorang yang dahulu berbuat jahat dalam hidupnya, dan kini, sebagai hukumannya, dilahirkan kembali sebagai penyandang disabilitas.
Ada juga masyarakat yang menyangka disabilitas itu menular, hingga mereka tidak mau dekat-dekat dengan perempuan penyandang disabilitas.
Namun, seseorang tidak menjadi penyandang disabilitas karena ia berbuat salah. Banyak kondisi disabilitas yang disebabkan oleh kemiskinan, kecelakaan, atau peperangan yang mustahil dapat dikendalikan oleh perorangan. Contohnya:
Pertama, bila ibu kekurangan makanan selama masa kehamilan, bayinya bisa lahir dengan disabilitas bawaan.
Kedua, bila bayi atau balita kekurangan gizi, bisa saja ia mengalami gangguan penglihatan atau hambatan intelektual.
Ketiga, banyak kondisi disabilitas akibat dari sanitasi yang buruk, lingkungan tempat tinggal yang padat dan tidak sehat, kekurangan gizi, kurangnya layanan kesehatan dasar, serta rendahnya cakupan vaksinasi.
Bahkan, banyak negara hingga kini masih mengalami perang saudara maupun perang antarbangsa. Salah satu ciri peperangan modern adalah lebih banyak perempuan dan anak-anak yang mengalami disabilitas sepanjang hidup daripada jumlah tentara atau laki-laki yang mengalami kondisi serupa.
Andai berbagai penyebab disabilitas di atas dapat Anda lenyapkan sekalipun, akan selalu ada penyandang disabilitas di tengah masyarakat. Disabilitas merupakan bagian alamiah dari keragaman kehidupan manusia. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 180.












































