Mubadalah.id – Karena Anda sempat menjalani hidup sebagai perempuan ‘normal’, Anda sempat pula menganggap diri sebagai sesosok manusia seksual — yang bisa bercintaan, kawin, dan melahirkan keturunan.
Namun disabilitas yang datang pada usia yang cukup dewasa bisa terasa sebagai pukulan dahsyat yang memporak-porandakan kepercayaan diri dan pandangan Anda semula tentang pribadi Anda sendiri.
Pukulan ini bisa menyebabkan Anda undur dari kenyataan, dan merasa kesempatan seksual telah hilang untuk selamanya. Barangkali Anda sudah tidak memiliki daya tarik yang dulu.
Pandangan itu keliru. Anda bisa menambah pengetahuan seksual dengan membaca buku-buku tentang seks — buku-buku yang juga dibaca banyak perempuan “normal”.
Bicarakan dengan sesama perempuan penyandang disabilitas dan dengan orang-orang lain yang bisa dipercaya — guru, pekerja kesehatan, dan teman-teman.
Anda dan pasangan Anda akan memerlukan percobaan-percobaan sebelum menemukan cara paling memuaskan dalam berhubungan seks.
Bila disabilitas Anda menyebabkan hilangnya kepekaan di tangan atau genital, masih banyak bagian-bagian tubuh yang bisa mendatangkan kenikmatan seksual: telinga, payudara, leher dan lain-lain.
Bila disabilitas menyebabkan senggama tidak enak, atau bahkan menyakitkan, cobalah berbagai posisi lain. Misalnya berbaring miring, atau duduk di ujung kursi. Ikatan seksual akan memuaskan bila Anda dan pasangan Anda saling jujur tentang apa yang benar-benar Anda inginkan dari yang lain.
Namun ingat, jangan sekali-kali merasa harus menerima hubungan seks yang tidak Anda kehendaki. Ini berlaku untuk semua perempuan, yang ‘normal’ maupun yang menyandang disabilitas.
Anda tidak perlu melakukan hubungan seks dengan orang yang hanya mengejar kesenangan seksualnya sendiri dan sama sekali tidak memedulikan perasaan Anda. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 186.








































