Mubadalah.id – Peran-peran gender diajarkan secara turun-temurun dalam keluarga, dari orang tua kepada anak-anak mereka. Sejak anak masih balita, orang tua sering kali memperlakukan mereka secara berbeda berdasarkan jenis kelaminnya. Sering kali orang tua tidak menyadari bahwa mereka melakukan hal tersebut.
Di rumah, sejak kecil, anak mengamati perilaku ayah dan ibu, nenek dan kakek, paman dan bibi, serta kakak-kakaknya. Cara bersikap, bertindak, dan pola hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari meresap ke dalam benak anak. Dari situlah anak mempelajari peran-peran yang berlaku dalam masyarakat.
Ayah dan ibu memegang peran yang paling penting dalam proses pembelajaran ini. Ketika anak tumbuh semakin dewasa, ia menerima peran yang diberikan kepadanya karena ingin menyenangkan hati orang tua.
Selain itu, orang tua memiliki kewenangan yang lebih besar untuk mengatur, menegur, memarahi, atau mengoreksi perilaku anak yang mereka anggap keliru.
Peran-peran tersebut membantu anak mengenali siapa dirinya, perilaku seperti apa yang diterima oleh lingkungan sekitarnya, dan perilaku mana yang tidak diterima.
Dengan demikian, anak-anak belajar mengenai gender mereka dengan cara yang hampir sama seperti ketika mereka belajar mengenali nama mereka sendiri.
Ketika zaman berubah, peran gender pun ikut berubah. Banyak orang muda, baik perempuan maupun laki-laki, yang ingin menjalani cara hidup yang berbeda dari pola kehidupan orang tua mereka.
Namun, perubahan ini sering kali sulit ia lakukan karena masyarakat terus menghendaki agar generasi muda mengikuti kebiasaan lama.
Padahal, melalui perubahan tersebut, perempuan muda dapat memperjuangkan pemaknaan kembali terhadap gendernya dan memperoleh kendali yang lebih besar atas kehidupannya. Sehingga kesehatan seksualnya dapat terjaga. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 234.










































