Hilangnya minat perempuan pada sains bukanlah karena otak mereka tidak mampu memahami rumus matematika, tapi karena krisis kepercayaan diri yang tertanamkan lingkungannya sejak kecil
Mubadalah.id – Pernahkah kamu berjalan menyusuri rak-rak toko mainan anak-anak? Tanpa perlu membaca petunjuk atau tanda apapun, kamu bisa langsung menebak mana mainan perempuan dan mana mainan laki-laki. Rak yang satu didominasi warna merah muda, penuh dengan boneka, peralatan masak mini, dan pernak-pernik berdandan. Sementara rak lainnya didominasi warna biru tua atau merah terang, sesak dengan mobil-mobilan, robot, pahlawan, dan lego.
Sejak sebelum kita lahir, dunia sudah menyiapkan kotak-kotak rapi untuk kita tempati. Kotak itu bukan hanya menentukan warna baju atau jenis mainan. Tetapi juga menentukan ekspektasi, karakter, dan masa depan kita. Laki-laki dianggap terlahir logis, kompetitif, dan rasional. Cocok menjadi ilmuwan, insinyur, atau pemimpin. Sedangkan perempuan dicap terlalu emosional, perasa, dan telaten. Sangat pas untuk peran-peran pengasuhan, guru, atau pekerjaan yang menuntut empati.
Selama berabad-abad, kita menelan mentah-mentah narasi ini. Kita percaya bahwa perbedaan nasib dan kecenderungan antara laki-laki dan perempuan adalah takdir, bahkan terpatri kuat di dalam struktur otak kita sejak lahir. Namun, benarkah begitu? Apakah benar ada yang namanya “otak laki-laki” dan “otak perempuan”?
Dalam bukunya, ‘Gender and Our Brains’, Gina Rippon, seorang profesor neuroimaging kognitif, membongkar tuntas keyakinan yang sudah mendarah daging ini. Di buku ini Rippon bukan hanya melempar opini atau bernarasi lewat kacamata sosiologis saja. Ia juga membuktikan secara saintifik (wa bil khusus dari sudut pandang neurosains modern) bahwa gagasan tentang adanya otak yang “berjenis kelamin” adalah mitos belaka.
Sejarah Sains Disetir oleh Prasangka
Melalui buku Gender and Our Brains itu, Rippon menunjukkan bagaimana sejarah panjang sains sering kali disetir oleh prasangka zamannya. Ia menceritakan betapa terobsesinya para ilmuwan di masa lalu—yang mayoritas adalah laki-laki kulit putih—untuk mencari bukti fisik yang membenarkan hierarki sosial. Di abad ke-19.
Bahkan banyak ahli yang repot-repot menimbang berat otak, mengukur tengkorak, hingga meneliti lekukan-lekukan otak. Upaya itu hanya untuk membuktikan bahwa perempuan secara biologis memang lebih inferior, dan berkecerdasan rendah. Karena itu tidak pantas mendapatkan hak politik atau pendidikan.
Ya memang, di era modern ini, kita akan menertawakan metode ukur tengkorak itu. Tapi, Rippon mengingatkan kalau pencarian tentang perbedaan biologis itu tidak pernah mati. Sebaliknya, ia hanya berganti baju. Sekarang, narasi itu bersembunyi di balik jas lab modern dan mesin fMRI yang canggih. Inilah yang Rippon sebut dengan “neuroseksisme.” Yaitu praktik di mana penemuan-penemuan neurosains yang sebenarnya cacat metodologis media lebih-lebihkan demi membenarkan stereotip gender.
Misalnya, pernah ada klaim populer yang mengatakan bahwa otak laki-laki punya lebih banyak koneksi dari depan ke belakang. Konon membuat laki-laki lebih baik dalam hal motorik dan navigasi. Sementara otak perempuan diklaim punya koneksi menyilang antara belahan kanan dan kiri. Situasi tersebut menyebabkan mereka jago multitasking dan berempati.
Klaim semacam ini laku keras. Padahal, menurut Rippon, jika kita menelaah metodologi penelitiannya, sampel yang digunakan sering kali terlalu kecil. Kesimpulan yang ambil jelas terlalu dipaksakan. Saat penelitian serupa berulang dengan sampel yang jauh lebih besar dan terkontrol, perbedaan mencolok tersebut pun menguap begitu saja.
Konsep Kunci: Neuroplastisitas
Lalu, apa yang sebenarnya membentuk otak kita jika bukan jenis kelamin? Di sinilah Rippon memperkenalkan konsep kunci yang ada di dalam bukunya: neuroplasticity atau neuroplastisitas.
Banyak orang yang masih percaya bahwa otak manusia bekerja seperti perangkat keras komputer atau cetakan semen yang sudah kering dan kaku sejak lahir. Padahal, penemuan neurosains terbaru menunjukkan bahwa otak manusia itu sangat plastis. Layaknya tanah liat yang terus-menerus terbentuk oleh pengalaman, lingkungan, dan kebiasaan. Otak adalah organ yang sangat reaktif. Ia terus beradaptasi dengan apa pun yang dunia berikan padanya.
Jika kamu memberikan seorang anak mainan lego dan peta sejak ia balita, menyuruhnya berlari-lari di luar ruangan, dan memujinya ketika ia berhasil merakit sesuatu, otak anak tersebut akan merespons dengan memperkuat jalur saraf yang berkaitan dengan keterampilan spasial dan navigasi.
Sebaliknya, jika kamu memberi seorang anak mainan boneka yang menuntut interaksi sosial, membacakan dongeng tentang perasaan, dan memintanya untuk bersikap manis dan peka terhadap orang lain. Maka otak anak itu akan menumbuhkan sirkuit yang memungkinkan dia ahli dalam membaca isyarat emosional dan bahasa.
Masalahnya adalah dunia kita adalah dunia yang sangat bias gender. Sejak bayi, perlakuan yang anak perempuan dan laki-laki terima, sudah sangat berbeda. Nada suara orang tua saat berbicara dengan bayi perempuan cenderung lebih lembut dan penuh kosa kata emosi. Sementara kepada bayi laki-laki lebih menekankan ketangkasan fisik. Ketika mereka masuk sekolah, guru secara tidak sadar mungkin lebih memaklumi anak laki-laki yang berisik dan menuntut anak perempuan untuk tenang dan lebih rapi.
Dunia yang Bias Gender, Menghasilkan Otak yang Bias Gender
Jika otak terus-menerus digempur oleh ekspektasi dan perlakuan yang berbeda ini dari hari ke hari, tahun ke tahun, tentu saja pada akhirnya akan terlihat ada perbedaan pada sirkuit otak manusia dewasa. Namun, perbedaan itu bukanlah setelan pabrik (biologis), melainkan bentukan lingkungan (sosial). Rippon bahkan mengatakan, “Dunia yang bias gender akan menghasilkan otak yang bias gender pula.”
Gagasan yang Rippon tuangkan dalam buku ini memang cukup segar sekaligus menampar. Selama ini, argumentasi “memang sudah dari sononya begitu” sering kali menjadi alasan yang mewajarkan ketimpangan gender di berbagai sektor.
Jika perempuan jumlahnya sangat sedikit di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), banyak yang buru-buru menyimpulkan, “Oh, itu karena otak perempuan lebih condong ke arah empati, bukan analisis.” Rippon menelanjangi logika cacat ini. Ia membuktikan bahwa hilangnya minat perempuan pada sains bukanlah karena otak mereka tidak mampu memahami rumus matematika, tapi karena krisis kepercayaan diri yang lingkungannya tanamkan sejak kecil.
Anak perempuan yang sejak kecil terus menerus kita jejali stereotip bahwa “matematika itu untuk anak laki-laki”, secara psikologis akan mengalami stereotype threat (ancaman stereotip).
Beban mental karena takut membenarkan stereotip buruk tersebut justru menguras energi kognitif mereka saat mengerjakan ujian. Hingga pada akhirnya benar-benar menurunkan kemampuan mereka. Lingkaran setan ini terus berputar hingga merembes ke budaya kerja di mana perempuan sering kali dinilai kurang pantas menjadi pemimpin hanya karena menganggapnya terlalu emosional.
Menjadi Pembaca yang Kritis
Rippon menempatkan diri bukan sebagai seorang feminis buta yang membenci sains, tetapi sebagai ilmuwan tulen yang marah karena sains—bidang yang begitu ia cintai—disalahgunakan untuk mempertahankan ketidakadilan sosial. Ia meminta siapapun yang membaca bukunya agar menjadi konsumen yang kritis. Tidak mudah takjub hanya karena melihat gambar pindaian otak beraneka warna di artikel berita. Ia menantang langsung dogma-dogma yang selama ini kita anggap sebagai kebenaran universal.
Di Indonesia, di mana sekat-sekat peran gender sering kali masih dipertegas atas nama budaya, tradisi, dan tafsir-tafsir agama yang mainstream, kita layak bertanya. Berapa banyak potensi manusia—baik perempuan maupun laki-laki—yang telah kita kebiri hanya karena kita memasukkan mereka ke dalam kotak yang salah?
Berapa banyak anak perempuan yang gagal menjadi insinyur hebat karena sejak kecil hanya diberi sapu mini, wajan, dan boneka? Dan berapa banyak anak laki-laki yang tumbuh menjadi manusia krisis empati karena terlarang menangis dan bermain masak-masakan?
Untunglah, penemuan-penemuan mutakhir di bidang neurosains merombak konsepsi lama itu dengan menampilkan fakta bahwa otak kita sebenarnya terlahir fleksibel. Sangat siap berubah tanpa henti oleh navigasi sosial dari lingkungan. Puncak dari penemuan ilmiah ini adalah terkuaknya misteri mengapa ilusi tentang tendensi perempuan yang emosional dan penalaran logis laki-laki tampak meyakinkan bagi awam. Semua ini adalah hasil dari bentukan interaksi antara otak kita dengan tradisi dan ekspektasi gender yang tak kenal jeda.
Segala balutan pakaian berwarna merah muda dan baju biru tua sejak bayi mungil itu menatap sinar matahari adalah awal mula penancapan pedoman sosial yang harus terarsipkan oleh otak agar bisa berjalan di tengah rimba masyarakat. Otak tidak lebih dari cermin kehidupan yang ia jalani bertahun-tahun di dalam penjara budaya. Ini membuktikan bahwa dunia yang kita warnai dengan aturan yang bias gender akan menciptakan sel-sel otak yang sama biasnya. []












































