Mubadalah.id – Masih belum lekang dari ingatan, kala di Ahad pagi saya perlu merogoh sekian rupiah untuk membiayai ‘ziarah‘ saya ke SaRanG Building. Sebuah tempat, di mana saya dan teman-teman Maarif Institute akan berkumpul dan bersama-sama napak tilas sosok Buya Syafi’i lewat kegiatan Tour de Buya (TdB).
Usai pembagian atribut dan wejangan ini itu, kami pun beranjak. Sebagaimana telah panitia atur, destinasi ziarah kami tiga tempat: Makam Husnul Khatimah—rumah abadi Buya Syafi’i, Madrasah Mu’allimin Sedayu, serta Serambi Buya Syafi’i (SBS) Nogotirto.
Sebagai seorang NU—meski tanpa KartaNU—saya amat antusias mengikuti ziarah ini. Setidaknya, saat tahlilan atau nyadran kelak, saya bisa berkelakar kepada teman-teman PMII dan IPNU bahwa ‘anak-cucu Mbah Dahlan’ kini juga gemar ziarah kubur. Bayangan saya, mungkin mereka akan menimpali begini, “Semua akan NU pada waktunya.”
Sepanjang perjalanan, juga di setiap destinasi, kami mendapat suguhan beragam life story seorang Buya Syafi’i. Adalah Mas Erik—tangan kanan Buya—menceritakan beragam sisi-sisi kehidupan Buya Syafi’i. Saya melihat Mas Erik bak seorang Anas bin Malik, sementara Buya laksana figur Nabi Muhammad—pribadi anggun, sejuk, nan penuh inspirasi.
Potret Buya di mata ‘pendherek’
Mas Erik amat beruntung karena takdir Tuhan menitahkannya untuk membersamai Buya dalam periode yang panjang. Mengamini adagium “witing tresna jalaran saka kulina” kebersamaan itulah yang agaknya menjadikan Mas Erik dan Buya saling menyatu dalam bui emosionalitas.
Saking intimnya emotional relationship antara keduanya, Mas Erik bahkan bisa menangkap tiap jengkal bayangan laku Buya yang kemudian ia tuangkan dalam bukunya, Mozaik Keteladanan Buya Syafii Maarif. Sebuah catatan yang menjadi bacaan populer baru di kalangan siswa Mu’allimin.
Selain Mas Erik, ada juga Mas Sidik, si ‘Anak Panah’ yang Buya kirim untuk mengabdi di tanah tumpah darah Buya: Sumpur Kudus, Sijunjung, Sumatera Barat. Mas Sidik berkisah tentang bagaimana kecintaan Buya pada tempat kelahirannya.
Kata Mas Sidik, berkat ‘karomah’ Buya lah tanah Sumpur Kudus itu kini bisa terang oleh listrik. Mungkin, tak berlebihan bila Buya beroleh julukan ‘walinya Muhammadiyah’ yang berhasil menghabisi kegelapan dan menerbitkan keterang-benderangan.
Nalar kemanusiaan Buya Syafi’i
Ada banyak kisah lain yang amat menggugah nalar kemanusiaan saya. Ketergugahan itu semacam komplemen atas nalar materi ala Descartes yang beberapa hari terakhir ini saya kagumi lewat beberapa tulisan lawas.
Kemanusiaan Buya adalah kemanusiaan abadi yang melintas dwi dimensi, yakni dunia dan pasca-dunia. Bagaimana mungkin kemanusiaan seperti itu hadir kala kita tengah pikuk-hiruk segregasi antara ‘yang dunia’ dan ‘yang setelah dunia’? Jawabannya saya temui dalam komitmen dan konsistensi Buya.
Meski serangkaian khidmah telah ia torehkan sepanjang hidup, ia enggan apabila rantai-rantai pengabdiannya itu pupus manakala ajal menjemput. Pada usia sepuhnya, Buya Syafi’i berani mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Panitia Pengembangan Madrasah Mu’allimin tanpa bayaran.
Ini adalah satu contoh fragmen konsistensi dan komitmen Buya dalam memperjuangkan pendidikan berkualitas bagi anak negeri. Bagaimanapun, saya pikir Buya adalah seorang pendukung tesis Nelson Mandela bahwa pendidikan adalah the most powerful weapon to change the world.
Buya Syafi’i dan after life
Fragmen lain dari manifestasi konsistensi dan komitmen Buya tampak dari kejeliannya menata kehidupan ‘pasca dunia’. Di penghujung usia, Buya telah mempersiapkan segala-galanya dengan matang nan penuh perhitungan.
‘Honor’ Mas Sidik serta rekannya di Sumpur Kudus telah Buya ‘tabungkan’ dari saku pribadinya untuk durasi 4-5 tahun kedepan. Tentu luar biasa, betapa Buya masih begitu peduli pada liyan yang bahkan bukan apa-apanya sendiri.
Sebelum pergi, Buya juga telah memesan makam untuk keluarganya sendiri. Mungkin bagi sebagian kita, hal ini tampak b aja, tapi saya melihat warna lain yang tak biasa. Orang-orang top seperti Buya umumnya akan mewariskan setumpuk harta benda bagi keluarganya. Namun, Buya Syafi’i justru mewariskan makam yang tak lain adalah rumah abadi.
Kepergian Buya pada 27 Mei tahun 2022 silam sejatinya tak berarti bahwa Buya telah sirna jalma. Figur Buya Syafi’i masih hidup di tengah-tengah kita dengan beragam warisan monumentalnya dalam bentuk keteladanan maupun intelektualitas.
Kini, tugas kita bersama untuk melanjutkan selusupan-selusupan benang yang telah disulamkan Buya di hamparan rendaan dunia ini. Sebagaimana pesan Mas Erik yang tertatah di buku ‘hadiah’ yang ia berikan, “Jadilah Buya-buya yang lain!”
—Yogyakarta, Juni 2026. []











































