Mubadalah.id – Memenuhi peran-peran yang diharapkan masyarakat memang dapat memberikan rasa puas, rasa memiliki, serta membuat seseorang tidak merasa terkucil atau kesepian. Namun, peran yang dibebankan masyarakat kepada perempuan dapat menjadi merugikan. Apabila didasarkan pada anggapan bahwa perempuan memiliki status yang lebih rendah daripada laki-laki.
Akibatnya, pilihan hidup dan ruang gerak perempuan menjadi terbatas. Ketika hal ini terjadi, yang dirugikan bukan hanya perempuan. Melainkan juga keluarga dan masyarakat secara keseluruhan.
Dalam banyak masyarakat, perempuan merekan harapkan menjadi istri dan ibu. Banyak perempuan merasa puas menjalankan peran tersebut karena memberikan pengakuan dan status sosial dalam lingkungan mereka.
Namun, ada pula perempuan yang ingin mengikuti minat dan cita-citanya sendiri, atau tetap menjalankan peran sebagai istri dan ibu tetapi memilih memiliki jumlah anak yang lebih sedikit serta ingin turut mencari nafkah.
Keinginan semacam ini sering kali menghadapi hambatan dari keluarga maupun masyarakat. Mereka kerap tidak diberi pilihan selain menjadi istri dan ibu dengan jumlah anak sebanyak mungkin. Bahkan lebih dihargai apabila anak-anak tersebut berjenis kelamin laki-laki.
Padahal, perempuan yang memiliki terlalu banyak anak cenderung menghadapi berbagai persoalan kesehatan. Mereka lebih mudah mengalami kelelahan karena sebagian besar waktunya ia habiskan untuk hamil, melahirkan, dan membesarkan anak.
Akibatnya, hampir tidak ada waktu tersisa untuk mempelajari keterampilan baru atau menempuh pendidikan. Situasi ini menjadi lebih berat apabila perempuan juga harus mengurus rumah tangga besar, merawat orang tua, mertua.
Bahkan kakek-nenek yang masih hidup, serta membantu menanggung kebutuhan hidup adik-adik maupun kerabat lainnya.
Sementara itu, apabila seorang perempuan tidak dapat memiliki keturunan, baik karena hidupnya maupun suaminya mengalami masalah kesuburan, ia sering lebih rendah daripada perempuan lain yang memiliki banyak anak. Inilah salah satu contoh peran gender yang merugikan perempuan.
Pekerjaan Perempuan
Di sisi lain, banyak masyarakat menilai bahwa “pekerjaan laki-laki” lebih penting dan lebih bernilai daripada “pekerjaan perempuan”. Misalnya, seorang perempuan bekerja tanpa henti sepanjang hari: memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, mengasuh anak, merawat anggota keluarga, hingga menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah tangga pada malam hari.
Namun karena pekerjaan suaminya, misalnya sebagai mandor pabrik, ia anggap lebih penting, perempuan tersebut sering kali lebih memprioritaskan kebutuhan istirahat suaminya daripada kebutuhan istirahat tubuhnya sendiri. Padahal jam kerja yang ia jalaninya hampir berlangsung sepanjang hari.
Akibatnya, anak-anak tumbuh dengan pelajaran bahwa pekerjaan laki-laki lebih penting dan harus ia hormati. Sementara pekerjaan perempuan kurang bernilai sehingga tidak perlu mendapat perhatian yang sama. Pandangan seperti ini kembali melanggengkan ketidakadilan dan merugikan generasi berikutnya. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 237.






































