Mubadalah.id – Sejak anak perempuan lahir, ayah dan ibu mulai mengajarkan banyak hal tentang tubuhnya. Biasanya orang tua tidak menyampaikan pesan-pesan tersebut secara langsung. Namun, seorang bayi belajar tentang tubuhnya melalui cara ayah dan ibu menggendongnya, memperlakukannya, serta melalui nada suara yang mereka gunakan.
Anak perempuan yang sedang tumbuh memiliki rasa ingin tahu tentang tubuhnya. Ia ingin mengetahui nama bagian-bagian tubuhnya dan mengapa genital atau alat kelaminnya berbeda dengan anak laki-laki.
Namun, tidak seperti anak laki-laki, ia sering dimarahi ketika mengajukan pertanyaan semacam itu. Ia akan diberi tahu bahwa “anak perempuan yang baik tidak akan bertanya-tanya seperti itu”.
Jika ia menyentuh genitalnya sendiri dan ketahuan, ia juga akan dimarahi. Ayah, ibu, atau anggota keluarga lainnya mengajarkan bahwa alat kelamin perempuan adalah sesuatu yang “kotor” atau “memalukan”, sehingga harus selalu disembunyikan dan tidak boleh disentuh.
Tanggapan orang tua terhadap rasa ingin tahu anak perempuan tersebut membuatnya merasa bahwa tubuhnya adalah sesuatu yang memalukan.
Dampak
Akibatnya, ia akan kesulitan menanyakan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya ketika memasuki masa pubertas. Termasuk tentang haid dan seksualitas. Ia juga dapat merasa malu untuk menanyakan hal-hal tersebut kepada tenaga kesehatan, atau bahkan tidak mengetahui apa yang seharusnya ia tanyakan.
Perempuan yang tumbuh dengan keyakinan bahwa tubuhnya memalukan, atau bahwa persoalan tubuh tidak pantas ia tanyakan kepada siapa pun, lebih mungkin menjalani hubungan seksual tanpa memahami bagaimana tubuhnya merasakan kenikmatan.
Ia bisa saja menjalani kehidupan pernikahan selama bertahun-tahun dan mengira bahwa hubungan seksual memang harus selalu tidak menyenangkan. Ia tidak mengerti bagaimana memperbaikinya dan tidak menyadari bahwa hidupnya belum pernah mengalami hubungan seksual yang sehat serta memuaskan kedua belah pihak.
Selain itu, ia mungkin juga tidak memahami cara mencegah penularan penyakit maupun cara mencegah kehamilan.
Dampak dari keyakinan yang keliru ini sangat merugikan perempuan. Namun, tidak pernah terlambat untuk menyadari bahwa tubuh bukanlah sumber “kekotoran” ataupun sesuatu yang memalukan.
Kesenangan seksual merupakan bagian yang dapat manusia alami dan bukan sesuatu yang terlarang. Karena itu, kita perlu belajar mengenali, mencintai, dan menghargai tubuh kita sendiri. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 239.






































