Mubadalah.id – Meskipun selalu banyak yang belum terpenuhi terkait ruang gerak teman difabel di negara ini, capaian-capaian baru selalu ia lukiskan dengan gigih dan tanpa butuh validitasi dari orang lain. Maka tulisan ini hadir dengan nuansa optimis yang lebih reflektif.
Islam, sebagai agama yang tidak hanya bersifat performatif tetapi juga transformatif, menempatkan manusia sebagai makhluk paling mulia yang memiliki akal dan tanggung jawab kemanusiaan.
Namun, tidak sedikit manusia yang gagal menjadikan Islam sebagai jalan keselamatan dunia dan akhirat. Akibatnya, nilai-nilai yang diajarkan agama tidak bersemayam dalam hati, sehingga melahirkan sikap yang jauh dari rasionalitas, empati, kebijaksanaan, dan semangat kemanusiaan.
Hal serupa rentan terjadi ketika melirik teman difabel dengan paradigma ‘kesempurnaan fisik’.
Sementara itu, saat ini ruang-ruang gerak teman difabel semakin luas dan melebar, dengan hadirnya dunia digital, mereka mulai beradaptasi serta berinteraksi dengan banyak watak manusia. Tentu saja ini tantangan berat bagi teman penyandang disabilitas maupun yang non disabilitas. Tantangannya hanya satu, berpikir adil atas nama kemanusiaan.
Di balik tantangan tersebut, terungkap masih banyak penyandang disabilitas yang semakin upgrade dan improve skill dan tampil maksimal ketika berinteraksi langsung. Baik dunia kerja, wahana, wisata, pendidikan, agama, dan sebagainya.
Saya menyaksikan sendiri berbagai prestasi signifikan yang difabel raih, mulai dari atlet panahan yang meraih podium di SEA Games, mahasiswa yang lulus pendidikan tinggi dengan gemilang, hingga kreator konten yang mengedukasi publik tentang isu disabilitas melalui media digital.
Saya rasa capaian-capaian ruang berekspresi difabel merupakan sinyal penanda bahwa kesempatan yang lebih inklusif mampu melahirkan potensi-potensi luar biasa.
Ruang Gerak Digital
Lompatan yang cukup fantastis bagi peradaban modern adalah aktivitas semu dalam dunia digital. Ini juga menjadi lompatan paling nyata dalam perluasan ruang berekspresi teman difabel. Dulu, banyak ruang publik mensyaratkan kehadiran fisik, dan mobilitas tertentu dalam hal apapun, hari ini, internet bekerja sebagai medium kehadiran yang tak kasat mata menyambungkan manusia tanpa melihat fisik dahulu.
Bagaimana difabel bergerak dalam ruang digital? Hemat saya, ada beberapa hal umum yang muncul, seperti sejauh apa dunia digital aksesibel terhadap penyandang disabilitas? Bagaimana wajah inklusif digital terhadap kehadirannya? Pertanyaan-pertanyaan ini selalu terpampang dalam teks saja, tapi minim aksi.
Meskipun begitu, jamak kita temui penyandang disabilitas mulai berani beradaptasi dengan kemajuan zaman. Mereka menjadi creator konten, youtuber, podcaster, pebisnis digital, hingga penggerak komunitas yang memanfaatkan teknologi sebagai sarana berekspresi dan berdaya.
Menariknya, ruang digital juga memungkinkan penyandang disabilitas membangun identitasnya sendiri tanpa harus terus-menerus terbingkai oleh narasi belas kasihan. Bahkan kebalikannya, banyak dari non-difabel menjual konten “welas-asih” yang tujuannya apresiasi orang lain bernilai rupiah, miris.
Maka, cara pandang kita terhadap penyandang disabilitas harus berubah. Dari melihat difabel sebagai subjek yang perlu dikasihani, menuju melihat mereka sebagai individu yang perlu didengar, dilibatkan, dan mendapatkan ruang yang setara. Secara perlahan, mereka menormalisasikan keberadaannya dalam dunia digital, dan ini harus kita segerakan.
Dalam konteks demikian, normalisasi itu penting. Sebab selama difabel hanya muncul di layar kita dalam konteks kesedihan atau keharuan, kita tidak pernah benar-benar mengenalnya sebagai manusia seutuhnya.
Kuasa Infrastruktur
Setelah bicara ruang digital, kini berbicara sesuatu yang jujur bagi peradaban, ialah infrastruktur. Ketika gedung pemerintah tanpa jalur khusus kursi roda, stasiun kereta tanpa kursi roda, pedagang kaki lima menguasai akses difabel, rumah ibadah tanpa kasih sayang, pesannya sungguh telanjang; publik ini tidak terrancang untukmu.
Meski demikian, perubahan itu perlahan terasa lebih baik. Penyandang disabilitas mulai menjadi barista, pelatihan advokasi bagi difabel lebih merata, dan ruang-ruang berkembang semakin terbuka. Karena infrastruktur bukan hanya soal bangunan. Infrastruktur juga berarti sistem hukum yang melindungi, kebijakan anggaran yang berpihak, dan prosedur layanan publik yang tidak mempersulit.
Tentu saja, terpenuhinya fasilitas bagi difabel merupakan harapan besar kedepannya, namun langkah awal bukanlah membenahi infrastruktur berupa bangunan, tapi sejauh apa infrastruktur kemanusiaan terbangun dan tergapai dengan sempurna.
Agama Yang Hadir
Di antara semua ruang yang berisikan aktifitas difabel, ruang agama mungkin yang paling sarat makna sekaligus kontradiksi. Satu sisi, Islam menganjurkan saling memuliakan antara manusia tanpa berpikiran buruk. Dengan Karramna Banii Adam, Islam lebih universal melegitimasi kemanusiaan melalui isyarat Ilahi.
Akan tetapi dalam praktiknya, ruang-ruang keagamaan masih kerap menjadi momok mengerikan bagi teman difabel karena kurang aksesibel dan inklusif. Padahal agama tidak melulu berbicara ketuhanan, ia juga mengintimkan praktik sosial. Seperti apa yang Daniel Dennet sebutkan, Agama bukan sekadar kumpulan ajaran, melainkan sistem sosial yang diikuti dengan kesetiaan oleh para pemeluknya sehingga membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
Secara hakikat, agama yang hadir adalah agama yang turun ke lapangan. Ia datang bukan dengan tatapan iba, melainkan penuh rahmatan lil alaamiin. Misalnya kegiatan buka bersama saat bulan puasa, tempat ibadah Pura di Bali mulai menerapkan akses idabah bagi difabel, dan gereja yang inklusif atas penyandang disabilitas.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa agama yang hidup bukan hanya berbicara tentang pahala, tetapi juga memastikan setiap manusia dapat beribadah dengan bermartabat. Pada akhirnya, ruang digital, infrastruktur, dan agama menegaskan bahwa yang terpenting adalah kualitas kemanusiaan itu sendiri.
Oleh karena itu, semakin terang ruang berekspresi difabel hari ini bukan semata karena perjuangan mereka yang tak pernah padam, tetapi juga karena sebagian dari kita mulai memilih untuk menjadi bagian dari terang itu, bukan dari kegelapan yang pura-pura tidak tahu. []










































