Mubadalah.id – Di sejumlah daerah atau menurut kebiasaan sebagian orang, hubungan seks melalui vagina dilakukan ketika vagina berada dalam kondisi sangat kering.
Karena itu, ada perempuan yang sengaja “menguras” kelembapan vaginanya sebelum berhubungan seks. Caranya beragam, mulai dari memasukkan rempah-rempah, menggunakan sejenis bedak, hingga merendam dan kemudian mengeringkan vagina.
Padahal, ketika vagina dalam kondisi kering, jaringan di dalamnya lebih mudah mengalami lecet, sobek, atau luka saat berhubungan seksual. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi.
Apa pun anggapan yang beredar—misalnya bahwa “seks kering” memberikan kepuasan yang lebih besar—praktik tersebut sebaiknya dihindari.
Sebaliknya, berikan waktu bagi vagina untuk menghasilkan pelumas alami, bukan mengeringkannya secara sengaja. Foreplay atau “pemanasan” yang cukup sebelum berhubungan seksual dapat membantu vagina menjadi basah secara alami.
Jika diperlukan, vagina juga dapat dibasahi dengan air liur (saliva), spermisida, atau cairan pelumas yang aman digunakan.
Namun, hindari penggunaan vaselin, minyak tanah, atau jenis minyak pelumas lain yang berbahan dasar minyak. Penggunaan bahan-bahan tersebut dapat merusak kondom sehingga lebih mudah sobek atau bocor, yang pada akhirnya mengurangi efektivitas perlindungannya.
Melakukan Hubungan Seks Lebih Aman
Sekalipun Anda merasa tidak menghadapi risiko apa pun—dan penting untuk mempertanyakan keyakinan tersebut secara jujur—tetap perlu memikirkan cara-cara agar hubungan seksual berlangsung lebih aman.
Kemampuan untuk melakukan perubahan tidak hanya bergantung pada diri sendiri, tetapi juga pada sikap pasangan seksual. Sebab, hubungan seksual melibatkan dua orang yang sama-sama memiliki peran dalam menjaga kesehatan dan keselamatan satu sama lain.
Jika Anda memiliki pasangan yang terbuka dan mendukung, cobalah membicarakan risiko penularan penyakit melalui hubungan seksual. Percakapan seperti ini dapat menjadi langkah penting untuk membangun hubungan yang lebih sehat dan saling menjaga.
Namun, pembicaraan semacam itu sering kali tidak mudah dilakukan. Banyak perempuan merasa segan memulainya karena khawatir pasangan akan tersinggung, merasa dituduh mengidap penyakit, atau menganggap dirinya dicurigai tidak setia. Dalam beberapa kasus, justru perempuan yang kemudian dicurigai oleh pasangannya.
Selain itu, sejak kecil banyak perempuan ajarkan bahwa membicarakan seks merupakan hal yang tabu, terutama dengan laki-laki, bahkan dengan suami sendiri.
Karena itu, membangun komunikasi yang terbuka mengenai kesehatan seksual sering kali membutuhkan keberanian dan proses yang tidak sederhana. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 245.








































