Mubadalah.id – Hari Raya Iduladha sangat identik dengan kegiatan menyembelih hewan ternak yang seringkali kita sebut dengan berkurban. Ritual berkurban sendiri merupakan salah satu rangkaian Ibadah di Hari Raya Iduladha yang terinspirasi dari kisah Nabi Ibrahim As. Umat Islam mempercayai bahwa Allah meminta Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih Nabi Ismail AS yang kemudian berganti menjadi kepala kambing. Sehingga, turun perintah Allah agar anak-cucu Nabi Ibrahim AS melaksanakan ibadah kurban.
Pada praktiknya, tak semua umat Islam wajib menunaikan ibadah kurban. Hukum Ibadah kurban menurut fikih adalah sunnah muakkad. Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam selalu melaksanakan ibadah kurban sejak pertama kali tersyariatkan hingga beliau wafat. Mayoritas ulama, seperti Imam Malik dan Imam al-Syafi’i, menetapkan hukum kurban sebagai sunnah muakkad atau sunnah yang sangat teranjurkan. Sementara itu, Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa kurban wajib dilakukan oleh orang yang mampu dan sedang tidak bepergian.
Merosotnya Ekonomi Kurban 2026
Pada bagian ini, saya meminta para pembaca untuk menenangkan hati sejenak dalam melihat perayaan Iduladha menggunakan perspektif ekonomi. Tidak mudah memang, menerima fakta bahwa keadaan ekonomi kita sedang sangat tidak baik-baik saja. Nilai tukar rupiah melemah, daya beli masyarakat menurun, harga barang-barang melonjak drastis, dan lemahnya pemerintah dalam menangani masalah yang ada membuat rakyat menjadi korban utama dalam perputaran ekonomi.
Lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memproyeksikan potensi ekonomi kurban nasional 2026 sebesar Rp26,89 triliun, turun Rp210 miliar dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi seiring melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah akibat kenaikan harga pangan dan biaya hidup yang terus meningkat.
Sebanyak 1,9 juta rumah tangga tercatat sebagai pekurban pada tahun ini, dengan total hewan yang tersembelih mencapai 1,59 juta ekor. Jumlah sapi turun sekitar 10.000 ekor, sementara kambing dan domba berkurang sekitar 3.400 ekor, sehingga pasokan daging kurban nasional menyusut sekitar 1.850 ton menjadi sekitar 99.000 ton.
Masyarakat pekurban pada tahun 2026 cenderung memilih hewan dengan harga lebih terjangkau, seperti kambing atau domba berbobot ringan 20 hingga 40 kilogram, atau memilih skema patungan sepertujuh sapi bersama peserta lain. Perubahan pilihan ini terjadi karena pendapatan masyarakat stagnan sementara harga kebutuhan hidup terus naik.
Di sisi distribusi, IDEAS mencatat penumpukan hewan kurban masih terjadi di kawasan perkotaan Pulau Jawa, dengan Jakarta Utara, Depok, dan Kabupaten Sleman sebagai wilayah surplus daging kurban tertinggi. Wilayah-wilayah dengan angka kemiskinan tinggi di luar Jawa justru mendapatkan pasokan daging kurban yang jauh lebih sedikit dari kebutuhannya.
Mayoritas Generasi Produktif Belum Mampu Membeli Hewan Kurban
Data ekonomi kurban telah saya coba jelaskan, namun salah satu hal yang begitu menyakitkan bagaimana dampaknya menyasar langsung pada generasi produktif Indonesia. Generasi Z atau Gen Z saat ini mendominasi jumlah populasi masyarakat Indonesia. Bonus demografi yang Indonesia miliki menempatkan negara memiliki generasi produktif terbesar yang pernah ada.
Sayangnya, tingkat demografi yang tinggi tak selaras dengan kekuatan ekonomi bangsa yang justru semakin hari semakin melemah. Jangankan untuk berkurban, bahkan untuk memandang hari besok atau lusa apakah masih cukup dengan penghidupan saat ini seringkali menghantui para Gen Z. pertanyaannya, seberapa besar Gen Z di Indonesia berkurban pada tahun 2026?
Center for Sharia Economic Development (CSED) Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) melalui berita Tempo mencatat tingkat partisipasi kurban dari Generasi Z (lahir 1997–2012) baru mencapai sekitar 5 persen, berdasarkan data survei Social Trust Fund (STF) UIN Jakarta. Angka ini jauh lebih rendah ketimbang generasi milenial sekitar 8 persen, Gen X sekitar 14 persen, dan baby boomer sekitar 15 persen.
Kepala CSED INDEF, Nur Hidayah, menyebut rendahnya partisipasi Gen Z terjadi karena sebagian besar dari mereka masih berusia di bawah 29 tahun dan baru memulai karier profesional, sehingga kondisi keuangan mereka belum cukup stabil untuk berkurban.
Luka-luka Gen Z di Balik Perayaan Iduladha
Boleh saja kita melihat angka-angka yang telah saya sebutkan sebagai gambaran statistik. Namun, ada luka-luka yang mungkin tak akan pernah kita bisa pahami dibalik angka-angka yang besar tersebut. Lagi-lagi, saya akan menyalahkan pemerintah yang tak bertanggungjawab atas fenomena gunung es yang dirasakan oleh Gen Z dalam menghadapi perayaan Iduladha.
Kemarin saat malam takbiran, sebuah diskusi di aplikasi threads muncul membahas apakah netizen Gen Z sudah mulai membeli hewan kurban? diskusi tersebut menyorot minat saya untuk terjun ke dalam percakapan yang sebetulnya semakin dibaca semakin pelik dan mengiris hati. Sebagain besar, hampir 90% netizen Gen Z yang menjawab belum memiliki cukup uang untuk berkurban.
Beberapa diantaranya bertanya, mengapa harga hewan kurban semakin mahal namun gaji yang ia dapatkan tak pernah naik atau bertambah. Jangankan untuk berkurban, rasanya hari ini netizen Gen Z dapat makan dan mencukupi kehidupan sudah sangat Alhamdulillah. Adapun yang bisa berkurban, perlu mengeluarkan uang yang hampir setahun ia kumpulkan. Hatinya senang saat hewan kurbannya datang, namun juga terselip pertanyaan mengapa hewan kurbannya kurus tak berisi ataupun kecil mungil.
Kalau kita mau berempati, masalah seperti ini adalah bentuk kegagalan bagaimana pemerintah yang belum bisa memberikan keamanan ekonomi kepada masyarakat. Kalau kita mau berempati, apa yang para gen Z sedang khawatirkan merupakan maslaah-masalah valid yang justru dapat menyerang siapa saja. Bahkan jika terus dibiarkan maka akan mengancam generasi Alpha Indonesia. Lalu apakah kita akan terancam dalam hal seperti ini terus menerus?
Jangan Meromantisasi Sikap Beragama yang Tak Berempati
Salah satu hal yang perlu saya soroti ialah respon-respon terhadap apa yng sedangmuslim Gen Z hadapi saat ini. Generasi Milenial atau Baby Boomer utamanya, beberapa kali saya lihat melontarkan respon tak berempati terhadap gen Z yang tidak dapat berkurban.
Misalnya, gen Z dianggap kurang berdoa dan beribadah agar dapat melaksanakan kurban sehingga Allah belum memberikan rezeki untuk Gen Z berkurban. Respon-respon inilah yang ingin saya highlight dan diskusikan. Respon-respon tak berempati inilah yang memperburuk kita, sebagai generasi muslim untuk dapat meningkatkan kemampuan beribadah. Khususnya ibadah-ibadah yang memang kemudian membutuhkan kemampuan finansial.
Kita semua setuju, bahwa dalam hidup ini, Allah menghendaki siapa saja yang berkurban dan tidak. Seringkali, respon yang ada selalu mengatakan, “meskipun uang banyak, kalau Allah tidak menghendaki maka ya gabisa berkurban” atau sebaliknya. Kemudian kalimat-kalimat tersebut tertuju sebagai senjata untuk menyakiti orang lain. Pendapat yang memang benar. Namun, tak berempati jika terlontar kepada teman muslim Gen Z yang memang memiliki keinginan berkurban.
Seringkali yang terucap juga respon menyalahkan Gen Z yang tidak sepenuhnya percaya pada kekuatan rezeki dari Tuhan. Wah, saat saya membaca respon-respon yang demikian, jatuhnya lebih kepada gaslighting. Daripada memberi solusi yang memang dapat berimpact. Menyalahkan keimana Gen Z atas ketidak mampuannya dalam memenuhi kegiatan kurban menurut saya adalah respon paling tidak berempati yang saya baca. Seakan-akan seluruh gen Z yang tidak dapat berkurban memang demikian (tidak percaya dengan rezeki Tuhan).
In This Economy, Semakin Kesini Semakin Kapitalis!
Perlu kita pahami, bahwa salah satu faktor mengapa gen Z belum bisa berkurban adalah daya beli yang melemah di tengah-tengah krisis ekonomi yang memang sedang terjadi. Penyebab daya beli lemah oleh kebijakan moneter dan fiskal negara yang terpuruk. Nilai mata uang yang anjlok, dan meningkatnya harga-harga kebutuhan yang tidak diimbangi dengan kenaikan penghasilan. Sehingga, fenomena ini tidak hanya membuat satu atau dua masyarakat yang kesusuahan tapi hampir seluruh rakyat yang menanngggung dampaknya.
Kita tidka bisa menyalahkan atau menyebutkan bahwa daya beli masyarakat Indonesia turun karena Allah. Bukan, bukan seperti itu konsepnya. Allah selalu memberikan rezeki kepada seluruh hambanya. Allah selalu menjamin rezeki setiap hambanya, dan kita mempercayai hal tersebut sepenuhnya. Rezeki datang dari Allah, namun cara Allah mendistribusikan rezeki kepada manusia salah satunya melalui sistem ekonomi dan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.
Maka, ketika kebijakan pemerintah gagal menjaga daya beli masyarakatnya, kita tidak boleh pasrah begitu saja dan menerimanya sebagai takdir yang tidak bisa diubah. Pasrah kepada Allah berbeda dengan pasrah kepada kegagalan pemerintah. Kita justru diwajibkan untuk terus bersuara, menuntut, dan mendorong pemerintah agar mampu menciptakan kondisi ekonomi yang layak bagi seluruh rakyatnya.
Coba kita lihat negara-negara tetangga kita. Malaysia dan Brunei Darussalam, dua negara dengan mayoritas penduduk muslim, justru memperlihatkan gambaran yang berbeda. Masyarakat di kedua negara tersebut masih mampu menunaikan ibadah kurban dengan lebih luas dan merata, karena pemerintah mereka berhasil menjaga stabilitas ekonomi, daya beli masyarakat, dan nilai mata uang dengan lebih baik.
Itu justru membuktikan bahwa kemampuan berkurban bukan semata-mata soal keimanan seseorang. Tetapi juga soal bagaimana negara hadir dan bertanggung jawab atas kesejahteraan warganya. Gen Z Indonesia bukan generasi yang lemah imannya. Mereka merupakan generasi yang tumbuh di bawah sistem yang memang belum berpihak kepada mereka.
Memangnya Apa yang Sedang Pemerintah Lakukan?
Di tengah lesunya ekonomi kurban 2026, berita terbaru justru menampilkan pemandangan yang semakin menyakitkan. Pemerintah melalui anggaran negara (APBN) mengalokasikan sekitar Rp100 miliar untuk menyalurkan 1.098 ekor sapi kurban pada Iduladha 1447 Hijriah. Uang sebesar itu berasal dari pajak dan iuran rakyat. Termasuk dari jutaan Gen Z yang bekerja keras setiap hari namun belum mampu berkurban atas namanya sendiri.
Ironi terbesar dari kebijakan ini adalah bantuan kurban senilai Rp100 miliar tersebut tersalur atas nama pribadi pejabat negara. Bukan atas nama rakyat Indonesia. Pertanyaan yang wajar kemudian muncul: mengapa uang rakyat hanya untuk membangun citra pribadi? Kami para rakyat sudah cukup muak dengan kurban perasaan tiap tahunnya!
Tenangin dirimu, Gen Z! []












































