Mubadalah.id – Salah satu ulama yang dibacakan dalam kegiatan “Diskusi Serial Biografi Ulama Perempuan” sesi ke-4 di tanggal 5 Mei 2026 adalah ibu Nyai Setyarti. Beliau adalah akademisi sekaligus ulama perempuan yang menjejakkan kiprah juangnya dengan menggabungkan ilmu, dakwah, dan kerja pemberdayaan yang kongkrit.
Perjalanan akademik Nyai Setyarti berawal dari menempuh pendidikan tingkat sarjana di STIB Satya Widya Surabaya. Melanjutkan studi magister di Universitas Udayana di bidang linguistik. Saat ini beliau sedang menyelesaikan Pendidikan doctoral. Pendidikan bagi Nyai Setyarti bukan hanya sekedar gelar, namun juga alat untuk memahami realitas social dan jembatan untuk pengabdian.
Di tengah lanskap Bali yang terkenal dengan pariwisata, budaya, dan dinamika social yang komplek, Nyai Setyarti bergulat dengan kegelisahan: Bagaimana masyarakat local bisa tetap berdaya di tengah arus besar pariwisata global? Bagaimana perempuan dan keluarga tetap memiliki daya tahan di tengah perubahan ekonomi dan sosial?
Kegelisahan inilah yang kemudian mendorong Nyai Setyarti untuk mengambil peran dengan turun langsung membaur dengan masyarakat Bali.
Penggerak Ekonomi Berbasis Komunitas
Bagi banyak orang, Bali membawa ingatan akan keindahan dan pusat wisata internasional. Namun bagi Nyai Setyarti, ada sisi lain dari Bali yang sering luput dari perhatian. Yakni ketimpangan ekonomi dan tekanan terhadap masyarakat local. Parisiwata dalam perspektif Nyai Setyarti nyatanya tidak selalu membawa pada kesejahteraan yang merata.
Dari fakta inilah, Nyai Setyarti menggagas inisiatif pemberdayaan ekonomi. Salah satunya dengan menggunakan pendekatan ekowisata. Sebuah pendekatan dalam ekonomi yang berorientasi pada keuntungan dengan tetap menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Untuk mendukung langkahnya, Nyai Setyarti menjalin kerjasama dengan multipihak. Baik dengan organisasi keagamaan maupun pemerintahan. Tujuan beliau adalah bagaimana masyarakat local Bali tidak hanya menjadi penonton dalam industri wisata Bali namun juga menjadi bagian dari subjek pelaku ekonomi.
Saat pandemi covid-19 melanda, Nyai Setyarti menghadapi tantangan yang lebih berat. Banyak masyarakat yang kehilangan penghasilan sehingga ekonomi keluarga rapuh. Di tengah kondisi ini, ia mengajak masyarakat untuk mengelola sampah rumah tangga, memanfaatkan pekarangan untuk kebutuhan pangan, dan juga memanfaatkan teknologi digital untuk mendorong usaha kecil.
Selain untuk bertahan hidup, gerakan pemberdayaan ini mampu membangun kembali rasa percaya diri masyarakat. Mereka merasa mampu dan resilience bahkan dalam kondisi yang kritis sekalipun.
Merawat Lingkungan sebagai Implementasi Keimanan
Dalam konteks Bali, isu lingkungan sangat erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Tekanan dari industri pariwisata sering kali berdampak pada kondisi alam. Nyai Setyarti melihat ini dengan kacamata yang berbeda. Permasalahan ini bukan hanya persoalan ekologis, namun juga persoalan moral dan akhlak.
Untuk membangun kesadaran masyarakat akan potensi kerusakan alam akibat pariwisata, Nyai Setyarti erlibat dalam berbagai forum keagamaan untuk memperkuat pesan bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah. Ibadah tidak hanya sholat, puasa, zakat, namun menjaga alam juga bagian dari implementasi keimanan.
Pendekatan yang diterapkan oleh Nyai Setyarti ini membuat isu lingkungan menjadi lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Isu lingkungan tidak lagi menjadi konsep abstrak, tetapi sudah melekat dengan praktik sehari-hari yang bermakna.
Perempuan, Keulamaan, dan Perubahan Sosial
Perjuangan Nyai Setyarti adalah bukti tentang bagaimana seorang perempuan mengambil peran di ruang publik tanpa kehilangan akar nilai yang ia pegang. Di tengah masyarakat Bali yang multikultural, ia mampu menjembatani berbagai kepentingan antara agama, budaya, ekonomi, dan lingkungan.
Ia menunjukkan bahwa ulama perempuan tidak hanya berbicara di mimbar, tetapi juga hadir di tengah masyarakat, bekerja bersama, dan menjadi bagian dari solusi. Dengan perjuangan dan komitmennya, ia menginspirasi banyak orang, terutama generasi muda, untuk tidak ragu mengambil peran sekecil apapun yang bisa dilakukan di sekitar kita.
Nyai Setyarti mengajarkan kepada kita semua bahwa perubahan tidak selalu berawal dari hal besar. Ia bisa dimulai dari langkah kecil: dari halaman rumah, dari ruang belajar sederhana, dari kesadaran untuk peduli. Dan dari Bali, Nyai Saryati membuktikan bahwa ketika ilmu bertemu dengan kepedulian, lahirlah gerakan yang mampu merawat manusia sekaligus alam. []











































