Mubadalah.id – Naik turunnya Rupiah dan dampaknya bagi perempuan kembali menjadi pembicaraan setelah pidato Presiden Prabowo Subianto tentang masyarakat desa yang “tidak memakai dolar” memantik banyak perdebatan. Kalimat itu mungkin dimaksudkan untuk menenangkan rakyat di tengah melemahnya rupiah.
Namun persoalannya, ekonomi tidak pernah berhenti di layar bursa atau ruang rapat para elite. Dampaknya turun perlahan ke rumah-rumah kecil, ke dapur keluarga, dan paling sering jatuh di pundak perempuan.
Pernyataan itu terdengar sederhana. Tetapi justru di situlah persoalannya, tidak semua kalimat yang terdengar sederhana mampu menjelaskan realitas dengan utuh. Masyarakat desa memang tidak menggunakan dolar secara langsung dalam transaksi sehari-hari, tetapi perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar tetap memengaruhi banyak kebutuhan hidup mereka, seperti pupuk, BBM, obat-obatan, hingga beberapa bahan pangan tertentu.
Indonesia sendiri masih bergantung pada impor untuk berbagai kebutuhan strategis seperti gandum, kedelai, bahan baku farmasi, hingga alat kesehatan. Karena itu, pelemahan rupiah hampir selalu berdampak pada kenaikan biaya hidup masyarakat. Bahkan sebagian besar bahan baku obat di Indonesia masih berasal dari impor, sehingga ketika rupiah melemah, harga layanan kesehatan dan kebutuhan medis masyarakat ikut tertekan.
Ketika rupiah melemah, harga naik perlahan. Ongkos produksi membengkak. Daya beli menurun. Dan dampaknya tidak berhenti di pasar. Ia masuk ke ranah rumah.
Logical Fallacies: Ketika Bahasa Menyederhanakan Krisis
Saya pernah mempelajari logical fallacies dalam mata kuliah Logic and Critical Thinking saat kuliah S1. Dari sana, saya menyadari bahwa bahasa dan komunikasi bukan sekadar alat untuk menyampaikan pesan, tetapi juga cara membangun pola pikir melalui kata-kata. Dalam ilmu bahasa dan komunikasi, sebuah pernyataan bisa terdengar persuasif dan meyakinkan, tetapi tetap mengandung kekeliruan logika.
Pernyataan bahwa masyarakat desa tidak memakai dolar menunjukkan oversimplification fallacy atau penyederhanaan berlebihan. Pernyataan itu menyederhanakan persoalan ekonomi yang kompleks menjadi penjelasan sederhana sehingga mengaburkan dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
Selain itu, pidato semacam itu juga menciptakan false dichotomy dengan memisahkan masyarakat desa dan ekonomi global seolah keduanya tidak saling terhubung. Seakan-akan desa hidup di ruang yang terpisah dari gejolak ekonomi dunia. Padahal hari ini, bahkan desa terkecil sekalipun tetap terhubung dengan pasar global melalui harga pangan, pupuk, energi, dan teknologi.
Perempuan: Menteri Keuangan yang Tidak Pernah Disebut Negara
Ketika Rupiah melemah, yang pertama kali menghitung ulang pengeluaran rumah tangga sering kali adalah perempuan. Perempuan mungkin tidak berbicara tentang depresiasi rupiah atau neraca perdagangan. Tetapi merekalah yang paling cepat membaca tanda-tanda krisis kebutuhan pokok yang perlahan naik.
Dalam banyak keluarga, perempuan menjalankan invisible labor yang sering tidak dihitung negara. Mereka mengatur konsumsi rumah tangga, merawat anggota keluarga, menjaga stabilitas emosional rumah, hingga memastikan kehidupan tetap berjalan di tengah tekanan ekonomi.Bahkan banyak perempuan mengalami double burden atau beban ganda. Mereka bekerja membantu ekonomi keluarga sekaligus tetap dibebani tanggung jawab domestik.
Di desa-desa, perempuan berdagang kecil-kecilan, menjadi buruh, membantu mengelola hasil tani, atau menjalankan UMKM rumahan. Ketika harga bahan baku naik akibat melemahnya rupiah, usaha kecil mereka ikut terdampak.
Namun, banyak orang masih menganggap kerja keras itu sekadar “membantu”, bukan sebagai fondasi penting ketahanan ekonomi keluarga. Banyak orang tidak menyadari bahwa perempuan memegang peran penting dalam care economy, yaitu sistem ekonomi perawatan yang menopang keberlangsungan kehidupan masyarakat setiap hari.
Krisis Ekonomi Selalu Pulang ke Dapur
Krisis ekonomi tidak selalu datang dalam bentuk angka besar di televisi media bisnis. Kadang ia hadir dalam bentuk perempuan yang tetap tersenyum sambil menyembunyikan kecemasan soal biaya sekolah dan kebutuhan rumah. Dalam bentuk istri yang menjadi tempat pulang keluarga ketika keadaan sedang runtuh.
Ironisnya, dalam banyak pembicaraan ekonomi, perempuan justru nyaris tak terlihat. Banyak pihak hanya membicarakan angka pertumbuhan, investasi, dan stabilitas pasar. Padahal di balik semua statistik itu ada perempuan-perempuan yang setiap hari memikul kecemasan paling nyata tentang bagaimana memastikan keluarganya tetap hidup layak.
Karena itu, ketika membicarakan kurs, kita sebenarnya sedang membicarakan kehidupan perempuan. Tulisan ini menyoroti kerja domestik yang sering diabaikan dalam perhitungan negara. Selain itu, pembahasan ini juga menunjukkan bagaimana perempuan menjaga ketahanan keluarga setiap hari melalui kerja-kerja yang kerap tidak terlihat.
Mungkin benar masyarakat desa tidak memegang dolar di tangan mereka. Tetapi mereka memegang akibatnya setiap hari: pada harga sembako, biaya sekolah, harga obat, dan kecemasan tentang masa depan keluarga.
Sebab krisis ekonomi tidak pertama kali terlihat di layar bursa.
Rakyat Kecil tidak Bisa Terus Dipandang Sederhana
Pidato pejabat sering menyebut rakyat kecil, tetapi hanya menjadikan mereka sebagai gambaran sederhana untuk mendukung sebuah narasi. Kalimat “orang desa tidak pakai dolar” mungkin terdengar ringan bagi sebagian orang. Namun bagi banyak masyarakat kecil, ada perasaan seperti sedang dipandang dari jauh, bukan dipahami dari dekat.
Seolah-olah hidup rakyat kecil sesederhana itu. Seolah mereka tidak mengerti keadaan. Seolah karena mereka tidak memegang dolar secara langsung, maka mereka tidak merasakan tekanan ekonomi yang sedang terjadi. Padahal rakyat kecil hidup dengan kecemasan yang sangat nyata.
Masyarakat desa bukan manusia yang hidup jauh dari realitas ekonomi. Mereka justru orang-orang yang paling dekat dengan kerasnya kehidupan. Petani tahu harga pupuk yang naik. Nelayan tahu biaya solar yang berubah. Pedagang kecil tahu ketika pembeli mulai berkurang karena daya beli melemah. Buruh tahu bagaimana rasanya gaji tetap sama sementara kebutuhan hidup terus bertambah.
Narasi bahwa mereka tidak terdampak hanya karena tidak memakai dolar seolah memperkecil pengalaman hidup mereka. Padahal, rakyat kecil mampu bertahan selama ini bukan karena kebal terhadap krisis, melainkan karena keadaan sulit terus memaksa mereka untuk bertahan. Mereka belajar mengurangi kebutuhan sendiri agar keluarga tetap makan. Mereka belajar menahan lelah karena hidup tidak memberi banyak pilihan.
Para pemegang kekuasaan mungkin sering tidak benar-benar melihat bahwa rakyat kecil tetap merasakan dampak krisis. Mereka hanya terlalu terbiasa menanggungnya. []












































