Mubadalah.id – Pernah nggak kita membayangkan bagaimana jika dunia dirancang sesuai dengan kebutuhan teman-teman disabilitas daripada orang tanpa disabilitas? Bayangkan jika kita pergi ke perpustakaan dan kita mendapati rak buku dan meja yang sangat rendah. Bahkan kita merasakan kesakitan untuk terus membungkuk dan menggunakan meja.
Bayangkan jika kehidupan sehari-hari seluruh komunikasi menggunakan bahasa isyarat sedangkan bagi kita yang orang tanpa disabilitas tak menggunakan itu. Jika kita mau empati, hal itulah yang sedang dirasakan teman-teman disabilitas ketika fasilitas yang ada tak inklusif.
Teman-teman yang menggunakan kursi roda tak dapat bermobilitas dengan baik karena tempat yang tersedia tak ramah kursi roda. Orang-orang tuli dapat memahami sebuah kelas yang tak dirancang dengan adanya orang yang menerjemahkan bahasa isyarat. Teman-teman tunanetra tak dapat berjalan dengan baik karena jalan dan trotoar tak punya guiding block Itulah yang mereka rasakan ketika dunia tak di desain secara inklusif. Desain fasilitas dan apapun yang ada di sekitar kita hanya di desain sesuai dengan orang tanpa disabilitas. Sungguh berat bagi mereka bukan?
Belum selesai negara membangun fasilitas publik dan akses yang inklusif. Justru, akhir-akhir ini kita harus menegur para influencer yang menggunakan jokes ableism dalam konten mereka. Para influencer dengan total follower yang amat sangat banyak menggunakan isu disabilitas sebagai bahan bercanda. Bahkan, jangankan pemerintah. Sesama warga negara, terlebih orang-orang yang dapat mempengaruhi orang lain (nfluencer) justru menjadi aktor utama yang menjatuhkan teman-teman disabilitas.
Mengapa Tak Boleh Menggunakan Candaan “Ableism?”
Candaan ableism adalah lelucon yang mengeksploitasi atau menjadikan keterbatasan fisik, mental, atau neurologis seseorang sebagai bahan tertawaan. Candaan tersebut secara langsung maupun tidak langsung menjadi bahan perundungan bagi orang lain, terutama orang-orang dengan disabilitas.
Teman-teman disabilitas tentu punya hak yang sama untuk diakui dan dihormati hak asasi kemanusiaannya. Termasuk, disabilitas yang ada pada diri teman-teman bukanlah suatu hal yang dapat menggugurkan hak asasi manusianya. Sehingga, seluruh manusia baik yang memiliki disabilitas atau tidak tetap mendapatkan penghormatan dari sesama.
Coba aja kita lihat, konten-konten dengan candaan ableism yang telah lewat dan kemudian banyak ditegur oleh masyarakat kita. Para influencer dengan jokes ableism hanya memikirkan diri mereka sendiri. Bagaimana caranya membuat konten yang viral sehingga engagement dapat bernilai tinggi dan menghasilkan uang.
Bahkan konten yang dibuat-buat tidak hanya sekali dua kali, namun berkali-kali. Beberapa influencer dengan pengikut yang banyak sudah menjadikan candaan ableism sebagai konten rutinan mereka. Sungguh hal yang sangat nirempati dan sangat disayangkan.
Mari Terlibat Menciptakan Lingkungan yang Aman dan Inklusif
Kita semua punya peran dalam menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi teman-teman disabilitas. Langkah paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah berhenti menertawakan candaan ableism, bahkan ketika kita sendiri yang menjadi audiensnya. Diam saat menyaksikan lelucon semacam itu sama artinya dengan memberikan persetujuan diam-diam.
Sebaliknya, kita bisa dengan tenang menegur siapa pun, termasuk influencer favorit kita, ketika mereka menggunakan disabilitas sebagai bahan bercanda. Suara kita di kolom komentar, di ruang diskusi, atau di kehidupan sehari-hari adalah kontribusi nyata yang dapat menggeser budaya nirempati menjadi budaya yang lebih menghargai sesama.
Selain bersuara, kita juga perlu secara aktif belajar memahami pengalaman teman-teman disabilitas. Banyak organisasi dan komunitas disabilitas yang terbuka bagi siapa pun yang ingin terlibat, belajar, dan berkontribusi.
Kita bisa mengikuti kampanye inklusivitas, membaca tulisan-tulisan dari perspektif teman-teman disabilitas, atau sekadar mendengarkan cerita mereka dengan penuh hormat. Dengan memahami realita yang mereka hadapi setiap hari, empati kita akan tumbuh secara organik dan mendorong kita untuk bertindak lebih bijak dalam berkata maupun bersikap di ruang publik maupun digital.
Perubahan besar selalu bermula dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten oleh banyak orang. Ketika kita memilih untuk menggunakan bahasa yang ramah disabilitas, mendukung kebijakan yang mendorong aksesibilitas, serta menolak konten yang merendahkan, kita sedang turut membangun peradaban yang lebih adil. Lingkungan yang inklusif merupakan hak seluruh manusia, termasuk teman-teman disabilitas yang selama ini terlalu seringtermarjinalkan.
Isu Disabilitas dalam Serial Twinkling Watermelon
Salah satu cara agar kita mudah memahami bagaimana kondisi teman-teman disabilitas ialah dengan melihat dan meresapi sebuah film. Saya ingin membawa serial kesayangan saya, Twinkling Watermelon. Serial tersebut mengisahkan seorang remaja bernama Ha Eun Gyeol yang tumbuh dalam keluarga dengan kedua orang tua tuli.
Eun Gyeol sebagai anak yang sangat fasih berbahasa isyarat dan menjadi jembatan komunikasi bagi keluarganya. Melalui perjalanan hidupnya, penonton merasakan langsung bagaimana rasanya berada pada tengah dunia yang sama sekali tak sesuai untuk orang-orang tuli. Serial ini dengan lembut mengajak kita untuk memahami dan bertanya, sudahkah kita cukup peduli?
Alur Kisah Serial Twinkling Watermelon
Ha Eun Gyeol tumbuh sebagai anak mendengar di tengah keluarga tuli. Ayah dan ibunya sama-sama tuli sejak lahir, sehingga bahasa isyarat menjadi bahasa utama rumah tangga mereka. Eun Gyeol fasih berkomunikasi lewat tangan, ekspresi wajah, dan gerak tubuh jauh sebelum ia benar-benar memahami betapa berbedanya keluarganya di mata dunia luar.
Ia kerap menjadi interpreter bagi kedua orang tuanya, mulai urusan belanja, pertemuan sekolah, percakapan tetangga, semua ia tangani sendiri. Peran itu ia emban tanpa keluhan, karena baginya itulah cara ia mengungkapkan rasa sayangnya kepada orang tua tercinta.
Seiring beranjak remaja, Eun Gyeol mulai merasakan tekanan ganda. Di satu sisi ia ingin mengejar mimpinya sebagai musisi, di sisi lain tanggung jawab sebagai penghubung keluarganya terasa semakin berat. Suatu ketika, ia menemukan gitar tua milik ayahnya, Ha Yi Chan, sosok yang ternyata punya masa lalu penuh gejolak di era 1990-an.
Eun Gyeol pun secara ajaib terlempar ke masa lalu dan bertemu ayahnya saat masih muda, jauh sebelum Yi Chan kehilangan pendengarannya akibat sebuah kecelakaan tragis. Pertemuan lintas waktu tersebut membuka mata Eun Gyeol. Soal betapa besar pengorbanan sang ayah lakukan demi keluarga mereka.
Di masa lalu, Eun Gyeol menyaksikan langsung bagaimana Yi Chan muda berjuang keras mempertahankan mimpi musiknya sembari menghadapi ancaman kehilangan pendengaran. Yi Chan muda jatuh cinta, bersahabat, berkonflik, dan akhirnya membuat keputusan besar yang mengubah seluruh arah hidupnya.
Eun Gyeol yang menyaksikan semua itu perlahan memahami mengapa ayahnya tumbuh menjadi sosok yang ia kenal, seorang pria tuli penuh kasih sayang yang tak pernah sekalipun menunjukkan penyesalan. Perjalanan lintas waktu itu akhirnya membawa Eun Gyeol pulang membawa kedewasaan baru, keberanian mengejar mimpi, sekaligus rasa syukur yang jauh lebih dalam atas keluarganya.
Belajar Berempati dari Serial Twinkling Watermelon
Twinkling Watermelon mengajarkan kita cara paling untuk peduli terhadap isu disabilitas, yaitu lewat pengalaman langsung merasakan sudut pandang mereka. Saat menonton Eun Gyeol berjuang menjadi interpreter bagi kedua orang tuanya, kita seolah ikut merasakan lelahnya menanggung peran itu sejak kecil.
Penonton diajak masuk ke dalam keseharian keluarga tuli yang kerap diabaikan masyarakat sekitar. Kepedulian dapat kita tumbuhkan ketika kita mau meletakkan diri di posisi orang lain, dan merasakan beban yang mereka pikul setiap harinya. Serial ini memberi kita ruang aman untuk melakukan proses itu tanpa tekanan.
Empati pun tumbuh ketika kita menyaksikan Yi Chan muda berjuang mempertahankan identitasnya di tengah ancaman kehilangan pendengaran. Ia tetap mencintai musik, tetap menjalin persahabatan meski dunia seolah menutup pintu satu per satu untuknya.
Kita belajar memahami bahwa disabilitas tak pernah menghapus mimpi, ambisi, ataupun kemanusiaan seseorang. Justru, ketangguhan para tokoh tuli dalam serial ini mengajarkan kita untuk berhenti memandang disabilitas sebagai keterbatasan semata. Sebaliknya, kita terdorong melihat mereka sebagai manusia utuh yang layak mendapat ruang dan kesempatan setara. []










































