Minggu, 7 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

    Nyai Luluk Farida

    Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

    Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan

    BuKUPI 2026, Nyai Badriyah Tegaskan “Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan”

    BuKUPI

    Pera Sopariyati: BuKUPI 2026 Perkuat Independensi Gerakan Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dunia Akademik

    Integritas Dunia Akademik Sedang Krisis

    Atlet Catur

    Atlet Catur Perempuan Disabilitas beserta Inspirasinya

    Pesantren

    Lima Langkah Pengelolaan Pesantren Putri agar Terhindar dari Kekerasan Seksual

    Apa yang Membedakan

    Apa yang Membedakan Saya dengan Mereka?

    Otokritik Pesantren

    Otokritik Pesantren: Mengurai Empat Akar Kekerasan Seksual yang Terus Berulang

    Transportasi Umum Surabaya

    Transportasi Umum Surabaya yang Belum Ramah, dan Disabilitas yang Sering Kita Lupakan

    Ableisme Jokes

    Ableisme Jokes, Nirempati Konten Kreator pada Penyandang Disabilitas

    Marwah Pesantren

    Di Tengah Krisis Kepercayaan, Ke Mana Marwah Pesantren akan Dibawa?

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Aktivasi Benteng Nilai Khas Pesantren untuk Pencegahan Kekerasan Seksual

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Beri-beri

    Kenali Tanda-tanda Beri-beri Sejak Dini

    Hadis Akṡaru Ahl al-Nār

    Dari Stigma Menuju Tahdzir, Menggeser Pemahaman Hadis Akṡaru Ahl al-Nār

    Anemia pada

    7 Cara Mencegah dan Mengatasi Anemia pada Perempuan

    Anemia

    Kenali Anemia, Penyakit Akibat Kekurangan Gizi yang Sering Menyerang Perempuan

    Makanan Perempuan

    Perempuan Berhak Mendapatkan Makanan yang Cukup dan Bergizi

    Kesehatan Perempuan

    Tiga Mitos yang Merugikan Kesehatan Perempuan dan Perlu Diluruskan

    Gizi

    Tips Memenuhi Gizi Keluarga

    Vitamin

    Pentingnya Yodium dan Vitamin A bagi Ibu Hamil dan Menyusui

    Vitamin

    Vitamin dan Mineral yang Penting bagi Tubuh Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

    Nyai Luluk Farida

    Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

    Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan

    BuKUPI 2026, Nyai Badriyah Tegaskan “Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan”

    BuKUPI

    Pera Sopariyati: BuKUPI 2026 Perkuat Independensi Gerakan Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dunia Akademik

    Integritas Dunia Akademik Sedang Krisis

    Atlet Catur

    Atlet Catur Perempuan Disabilitas beserta Inspirasinya

    Pesantren

    Lima Langkah Pengelolaan Pesantren Putri agar Terhindar dari Kekerasan Seksual

    Apa yang Membedakan

    Apa yang Membedakan Saya dengan Mereka?

    Otokritik Pesantren

    Otokritik Pesantren: Mengurai Empat Akar Kekerasan Seksual yang Terus Berulang

    Transportasi Umum Surabaya

    Transportasi Umum Surabaya yang Belum Ramah, dan Disabilitas yang Sering Kita Lupakan

    Ableisme Jokes

    Ableisme Jokes, Nirempati Konten Kreator pada Penyandang Disabilitas

    Marwah Pesantren

    Di Tengah Krisis Kepercayaan, Ke Mana Marwah Pesantren akan Dibawa?

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Aktivasi Benteng Nilai Khas Pesantren untuk Pencegahan Kekerasan Seksual

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Beri-beri

    Kenali Tanda-tanda Beri-beri Sejak Dini

    Hadis Akṡaru Ahl al-Nār

    Dari Stigma Menuju Tahdzir, Menggeser Pemahaman Hadis Akṡaru Ahl al-Nār

    Anemia pada

    7 Cara Mencegah dan Mengatasi Anemia pada Perempuan

    Anemia

    Kenali Anemia, Penyakit Akibat Kekurangan Gizi yang Sering Menyerang Perempuan

    Makanan Perempuan

    Perempuan Berhak Mendapatkan Makanan yang Cukup dan Bergizi

    Kesehatan Perempuan

    Tiga Mitos yang Merugikan Kesehatan Perempuan dan Perlu Diluruskan

    Gizi

    Tips Memenuhi Gizi Keluarga

    Vitamin

    Pentingnya Yodium dan Vitamin A bagi Ibu Hamil dan Menyusui

    Vitamin

    Vitamin dan Mineral yang Penting bagi Tubuh Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Film

Beyond Survival: Merayakan Empati Disabilitas dari Serial Twinkling Watermelon

Twinkling Watermelon mengajarkan kita cara paling untuk peduli terhadap isu disabilitas, yaitu lewat pengalaman langsung merasakan sudut pandang mereka.

Layyin Lala by Layyin Lala
7 Juni 2026
in Film, Rekomendasi
A A
0
Twinkling Watermelon

Twinkling Watermelon

8
SHARES
419
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Pernah nggak kita membayangkan bagaimana jika dunia dirancang sesuai dengan kebutuhan teman-teman disabilitas daripada orang tanpa disabilitas? Bayangkan jika kita pergi ke perpustakaan dan kita mendapati rak buku dan meja yang sangat rendah. Bahkan kita merasakan kesakitan untuk terus membungkuk dan menggunakan meja.

Bayangkan jika kehidupan sehari-hari seluruh komunikasi menggunakan bahasa isyarat sedangkan bagi kita yang orang tanpa disabilitas tak menggunakan itu. Jika kita mau empati, hal itulah yang sedang dirasakan teman-teman disabilitas ketika fasilitas yang ada tak inklusif. 

Teman-teman yang menggunakan kursi roda tak dapat bermobilitas dengan baik karena tempat yang tersedia tak ramah kursi roda. Orang-orang tuli dapat memahami sebuah kelas yang tak dirancang dengan adanya orang yang menerjemahkan bahasa isyarat. Teman-teman tunanetra tak dapat berjalan dengan baik karena jalan dan trotoar tak punya guiding block Itulah yang mereka rasakan ketika dunia tak di desain secara inklusif. Desain fasilitas dan apapun yang ada di sekitar kita hanya di desain sesuai dengan orang tanpa disabilitas. Sungguh berat bagi mereka bukan?

Belum selesai negara membangun fasilitas publik dan akses yang inklusif. Justru, akhir-akhir ini kita harus menegur para influencer yang menggunakan jokes ableism dalam konten mereka. Para influencer dengan total follower yang amat sangat banyak menggunakan isu disabilitas sebagai bahan bercanda. Bahkan, jangankan pemerintah. Sesama warga negara, terlebih orang-orang yang dapat mempengaruhi orang lain (nfluencer) justru menjadi aktor utama yang menjatuhkan teman-teman disabilitas. 

Mengapa Tak Boleh Menggunakan Candaan “Ableism?”

Candaan ableism adalah lelucon yang mengeksploitasi atau menjadikan keterbatasan fisik, mental, atau neurologis seseorang sebagai bahan tertawaan. Candaan tersebut secara langsung maupun tidak langsung menjadi bahan perundungan bagi orang lain, terutama orang-orang dengan disabilitas.

Teman-teman disabilitas tentu punya hak yang sama untuk diakui dan dihormati hak asasi kemanusiaannya. Termasuk, disabilitas yang ada pada diri teman-teman bukanlah suatu hal yang dapat menggugurkan hak asasi manusianya. Sehingga, seluruh manusia baik yang memiliki disabilitas atau tidak tetap mendapatkan penghormatan dari sesama.

Coba aja kita lihat, konten-konten dengan candaan ableism yang telah lewat dan kemudian banyak ditegur oleh masyarakat kita. Para influencer dengan jokes ableism hanya memikirkan diri mereka sendiri. Bagaimana caranya membuat konten yang viral sehingga engagement dapat bernilai tinggi dan menghasilkan uang.

Bahkan konten yang dibuat-buat tidak hanya sekali dua kali, namun berkali-kali. Beberapa influencer dengan pengikut yang banyak sudah menjadikan candaan ableism sebagai konten rutinan mereka. Sungguh hal yang sangat nirempati dan sangat disayangkan.

Mari Terlibat Menciptakan Lingkungan yang Aman dan Inklusif

Kita semua punya peran dalam menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi teman-teman disabilitas. Langkah paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah berhenti menertawakan candaan ableism, bahkan ketika kita sendiri yang menjadi audiensnya. Diam saat menyaksikan lelucon semacam itu sama artinya dengan memberikan persetujuan diam-diam.

Sebaliknya, kita bisa dengan tenang menegur siapa pun, termasuk influencer favorit kita, ketika mereka menggunakan disabilitas sebagai bahan bercanda. Suara kita di kolom komentar, di ruang diskusi, atau di kehidupan sehari-hari adalah kontribusi nyata yang dapat menggeser budaya nirempati menjadi budaya yang lebih menghargai sesama.

Selain bersuara, kita juga perlu secara aktif belajar memahami pengalaman teman-teman disabilitas. Banyak organisasi dan komunitas disabilitas yang terbuka bagi siapa pun yang ingin terlibat, belajar, dan berkontribusi.

Kita bisa mengikuti kampanye inklusivitas, membaca tulisan-tulisan dari perspektif teman-teman disabilitas, atau sekadar mendengarkan cerita mereka dengan penuh hormat. Dengan memahami realita yang mereka hadapi setiap hari, empati kita akan tumbuh secara organik dan mendorong kita untuk bertindak lebih bijak dalam berkata maupun bersikap di ruang publik maupun digital.

Perubahan besar selalu bermula dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten oleh banyak orang. Ketika kita memilih untuk menggunakan bahasa yang ramah disabilitas, mendukung kebijakan yang mendorong aksesibilitas, serta menolak konten yang merendahkan, kita sedang turut membangun peradaban yang lebih adil. Lingkungan yang inklusif merupakan hak seluruh manusia, termasuk teman-teman disabilitas yang selama ini terlalu seringtermarjinalkan.

Isu Disabilitas dalam Serial Twinkling Watermelon

Salah satu cara agar kita mudah memahami bagaimana kondisi teman-teman disabilitas ialah dengan melihat dan meresapi sebuah film. Saya ingin membawa serial kesayangan saya, Twinkling Watermelon. Serial tersebut mengisahkan seorang remaja bernama Ha Eun Gyeol yang tumbuh dalam keluarga dengan kedua orang tua tuli.

Eun Gyeol sebagai anak yang sangat fasih berbahasa isyarat dan menjadi jembatan komunikasi bagi keluarganya. Melalui perjalanan hidupnya, penonton merasakan langsung bagaimana rasanya berada pada tengah dunia yang sama sekali tak sesuai untuk orang-orang tuli. Serial ini dengan lembut mengajak kita untuk memahami dan bertanya, sudahkah kita cukup peduli? 

Alur Kisah Serial Twinkling Watermelon

Ha Eun Gyeol tumbuh sebagai anak mendengar di tengah keluarga tuli. Ayah dan ibunya sama-sama tuli sejak lahir, sehingga bahasa isyarat menjadi bahasa utama rumah tangga mereka. Eun Gyeol fasih berkomunikasi lewat tangan, ekspresi wajah, dan gerak tubuh jauh sebelum ia benar-benar memahami betapa berbedanya keluarganya di mata dunia luar.

Ia kerap menjadi interpreter bagi kedua orang tuanya, mulai urusan belanja, pertemuan sekolah, percakapan tetangga, semua ia tangani sendiri. Peran itu ia emban tanpa keluhan, karena baginya itulah cara ia mengungkapkan rasa sayangnya kepada orang tua tercinta.

Seiring beranjak remaja, Eun Gyeol mulai merasakan tekanan ganda. Di satu sisi ia ingin mengejar mimpinya sebagai musisi, di sisi lain tanggung jawab sebagai penghubung keluarganya terasa semakin berat. Suatu ketika, ia menemukan gitar tua milik ayahnya, Ha Yi Chan, sosok yang ternyata punya masa lalu penuh gejolak di era 1990-an.

Eun Gyeol pun secara ajaib terlempar ke masa lalu dan bertemu ayahnya saat masih muda, jauh sebelum Yi Chan kehilangan pendengarannya akibat sebuah kecelakaan tragis. Pertemuan lintas waktu tersebut membuka mata Eun Gyeol. Soal betapa besar pengorbanan sang ayah lakukan demi keluarga mereka.

Di masa lalu, Eun Gyeol menyaksikan langsung bagaimana Yi Chan muda berjuang keras mempertahankan mimpi musiknya sembari menghadapi ancaman kehilangan pendengaran. Yi Chan muda jatuh cinta, bersahabat, berkonflik, dan akhirnya membuat keputusan besar yang mengubah seluruh arah hidupnya.

Eun Gyeol yang menyaksikan semua itu perlahan memahami mengapa ayahnya tumbuh menjadi sosok yang ia kenal, seorang pria tuli penuh kasih sayang yang tak pernah sekalipun menunjukkan penyesalan. Perjalanan lintas waktu itu akhirnya membawa Eun Gyeol pulang membawa kedewasaan baru, keberanian mengejar mimpi, sekaligus rasa syukur yang jauh lebih dalam atas keluarganya.

Belajar Berempati dari Serial Twinkling Watermelon

Twinkling Watermelon mengajarkan kita cara paling untuk peduli terhadap isu disabilitas, yaitu lewat pengalaman langsung merasakan sudut pandang mereka. Saat menonton Eun Gyeol berjuang menjadi interpreter bagi kedua orang tuanya, kita seolah ikut merasakan lelahnya menanggung peran itu sejak kecil.

Penonton diajak masuk ke dalam keseharian keluarga tuli yang kerap diabaikan masyarakat sekitar. Kepedulian dapat kita tumbuhkan ketika kita mau meletakkan diri di posisi orang lain, dan merasakan beban yang mereka pikul setiap harinya. Serial ini memberi kita ruang aman untuk melakukan proses itu tanpa tekanan.

Empati pun tumbuh ketika kita menyaksikan Yi Chan muda berjuang mempertahankan identitasnya di tengah ancaman kehilangan pendengaran. Ia tetap mencintai musik, tetap menjalin persahabatan meski dunia seolah menutup pintu satu per satu untuknya.

Kita belajar memahami bahwa disabilitas tak pernah menghapus mimpi, ambisi, ataupun kemanusiaan seseorang. Justru, ketangguhan para tokoh tuli dalam serial ini mengajarkan kita untuk berhenti memandang disabilitas sebagai keterbatasan semata. Sebaliknya, kita terdorong melihat mereka sebagai manusia utuh yang layak mendapat ruang dan kesempatan setara. []

Tags: AksesibilitasBahasa IsyaratHak Penyandang DisabilitasTeman TuliTwinkling Watermelon
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kenali Tanda-tanda Beri-beri Sejak Dini

Next Post

Integritas Dunia Akademik Sedang Krisis

Layyin Lala

Layyin Lala

A Student, Santri, and Servant.

Related Posts

Atlet Catur
Disabilitas

Atlet Catur Perempuan Disabilitas beserta Inspirasinya

6 Juni 2026
Transportasi Umum Surabaya
Disabilitas

Transportasi Umum Surabaya yang Belum Ramah, dan Disabilitas yang Sering Kita Lupakan

5 Juni 2026
Anak Berkebutuhan Khusus
Disabilitas

Mencintai Tanpa Membatasi: Belajar Melepas Anak Berkebutuhan Khusus untuk Mandiri

2 Juni 2026
Membumikan Pancasila
Disabilitas

Membumikan Pancasila melalui Masyarakat yang Ramah Disabilitas

1 Juni 2026
Perempuan Disabilitas
Disabilitas

Perjuangan Panjang Pendampingan Perempuan Disabilitas Mental Korban Kekerasan

30 Mei 2026
Mahasiswa Disabilitas
Disabilitas

Kisah Mahasiswa Disabilitas Kuliah di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

29 Mei 2026
Next Post
Dunia Akademik

Integritas Dunia Akademik Sedang Krisis

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Integritas Dunia Akademik Sedang Krisis
  • Beyond Survival: Merayakan Empati Disabilitas dari Serial Twinkling Watermelon
  • Kenali Tanda-tanda Beri-beri Sejak Dini
  • Dari Stigma Menuju Tahdzir, Menggeser Pemahaman Hadis Akṡaru Ahl al-Nār
  • 7 Cara Mencegah dan Mengatasi Anemia pada Perempuan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0