Mubadalah.id – Figur diplomat senior sekaligus mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Indonesia, Dino Patti Djalal tengah menjadi sorotan publik akhir-akhir ini. Dino mengemuka seusai kritiknya kepada Presiden Prabowo mengenai kunjungan kerja (kunker) ke luar negeri.
Kritik Dino mendapat balasan dari Seskab Teddy Indrayana Wijaya dan Ketua DPR RI Habiburokhman. Keduanya menanggapi Dino dengan nada sinis dan vonis tak etis, sekaligus menyentil perjalanan karier Dino sebagai diplomat ulung.
Seakan hendak menanggapi balasan dari dua pejabat publik itu, mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, membuat sebuah unggahan di media sosial. Lewat akun pribadinya, Anies menyebut prestasi gemilang Dino selaku diplomat yang bukan karbitan.
Arus diskursus publik seperti tampak pada situasi antara pemerintah kontra Dino Patti Djalal saat ini menunjukkan pentingnya peran seorang diplomat (atau mantan diplomat) dalam mewarnai kebijakan luar negeri suatu negara.
Tentu, diplomat Indonesia tak hanya Dino Patti Djalal ataupun figur ambassador pria lainnya. Indonesia memiliki sederet diplomat perempuan ulung yang tak kalah bersinar. Selain Retno Marsudi, ada sosok Bu Nyai Elizabeth, diplomat perempuan berdarah pesantren.
Rahim pesantren yang melahirkan Bu Nyai Elizabeth
Nama lengkapnya Elizabeth Diana Dewi. Perempuan kelahiran Jakarta, 12 Oktober 1980 ini kini mengemban amanah sebagai diplomat Indonesia di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Istanbul, Turki. Ia merupakan lulusan Pondok Pesantren Modern Gontor angkatan 1994.
Sebelum menempuh karir sebagai diplomat Indonesia di KJRI Istanbul, perempuan yang akrab dengan sapaan Ibeth ini pernah merintis karier di KBRI Bangkok, Tailan, sepanjang tahun 2013 hingga tahun 2016.
Minat diplomasi Bu Nyai Elizabeth telah tumbuh sedari berada di bangku kuliah Gontor. Ia menaruh minat yang tinggi pada masalah geopolitik global, utamanya hal-hal yang menyangkut bahasa Inggris dan bahasa Arab.
Menurut pengakuan Bu Nyai Elizabeth yang rilis pada salah sebuah media, pendidikan kepesantrenan yang ia terima di Gontor merupakan pondasi awal yang menguatkan karirnya saat ini. Aktivitas nyantri dan khidmah telah membentuk mental bajanya.
Bu Nyai Elizabeth juga meyakini betul didikan agama yang menyeru umat untuk melanglang buana (safir) dan merasakan kepayahan. Menurutnya, seseorang tak bakal merasakan manisnya kenikmatan sebelum mencecap pahitnya penderitaan.
Teladan untuk para santri perempuan
Kesuksesan karir Bu Nyai Elizabeth sebagai seorang figur diplomat perempuan merupakan bukti kemampuan perempuan dalam mengelola urusan publik. Perempuan tak cuma pandai dalam urusan domestik semata, tetapi juga cakap dalam dunia profesional.
Bu Nyai Elizabeth juga seorang ibu yang memiliki suami dan keluarga. Tanggung jawab selaku madrasah ula bagi anak-anaknya bukanlah kendala untuk tampil di ruang publik. Ia meyakini betul bahwa pendidikan pesantren berperan besar dalam hidupnya saat ini.
Sosok yang juga pernah merasakan magang di KBRI Den Haag, Belanda, itu memegang prinsip bahwa mendidik seorang perempuan berarti mendidik sebuah negara. Jika pendidikannya berhasil, maka akan berjaya pula negara tempatnya berada.
Prinsip Bu Nyai Elizabeth ini jelas layak untuk menjadi keteladanan bagi santri-santri perempuan di pesantren manapun. Santri perempuan memiliki hak yang sama untuk unjuk gigi dengan santri lelaki, tanpa boleh memperoleh sekat yang mengatasnamakan syariat.
Saat ini, jumlah diplomat Indonesia yang menduduki jajaran top position baru berada di kisaran sepuluh hingga sebelas persen dari total 95 kantor perwakilan luar negeri. Statistik ini jelas merupakan peluang bagi para calon diplomat-diplomat perempuan masa depan.
Jika Bu Nyai Elizabeth telah memberikan keteladanan, tiba saatnya bagi para santri perempuan untuk melanjutkan keteladanan itu. Dunia membutuhkan figur-figur diplomat perempuan untuk mewujudkan cita-cita perdamaian global yang berkeabadian. []












































