Mubadalah.id – Perkembangan buku bacaan anak pasca Reformasi mengalami peningkatan yang signifikan. Buku bacaan anak kini tidak sekadar menginformasikan persoalan visualitas dan karakter tokoh yang kuat, tetapi juga menjadi ruang pertarungan doktrin ideologi keislaman.
Fragmentasi ini bisa kita cermati dari kemasan yang menampilkan tokoh-tokoh tanpa wajah dan ada juga tokoh-tokoh memiliki wajah yang ceria. Narasi keislaman yang lebih dominan dalam buku bacaan anak mencerminkan sikap kepada para penulis yang lebih mementingkan persoalan akidah, ibadah, dan narasi ideologi.
Namun di balik itu semua, terkadang para penulis buku bacaan anak melupakan betapa pentingnya anak-anak juga perlu kita ajarkan sikap empati, kesadaran bersosial, kesadaran akan lingkungan, dan kesalingan memahami antar manusia sejak dini. Mengajarkan anak untuk memahami agama secara komunal itu sangat penting. Akan tetapi, peran orangtua atau orang dewasa juga tidak boleh melupakan konsep fundamental Islam yaitu mengajarkan hubungan horizontal (habluminanas).
Dari sekian banyak buku bacaan anak yang sudah tercetak, saya mencoba mencari buku-buku bacaan anak yang tidak tendensius mengajarkan perihal akidah keagamaan semata. Saya menemukan buku anak berjudul Perangkap Hebat Soma (2019), penulisnya adalah Yovita Siswati dan ilustraror Hanny Juwita.
Buku ini mengisahkan perjuangan Soma seorang penyandang disabilitas yang sedang bermain di sawah dengan teman-temannya. Mereka tampak sangat bahagia bermain di sawah. Tidak hanya bermain, mereka juga berusaha menangkap belut dengan alat tradisional yang hanya menggunakan bambu. Soma, meski ia seorang tuna daksa, dengan kegigihan usahanya serta dukungan dari teman-temannya, dapat memperoleh belut yang cukup banyak. Belut dari hasil tangkapannya kemudian menjadi lauk makan bersama keluarganya.
Menumbuhkan Rasa Empati
Jika kita cermati kisah Soma yang ditulis Yovita Siswati mungkin terlihat tampak sederhana. Namun di balik kisah Soma, anak-anak yang sedang membaca buku tersebut menjadi paham, bahwa nilai-nilai kesetaraan dan kesalingan memahami antar manusia tumbuh dari imajinasi sejak dini. Dampaknya akan berlanjut pada tumbuhnya rasa empati dan saling menghargai sesama.
Jika kesadaran kesetaraan dan rasa empati tersebut sudah tumbuh, maka konsekuensi logisnya adalah meminimalisir diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Barangkali pesan tersebut yang ingin Yovita Siswati sampaikan pada anak-anak Indonesia lewat kisah anak disabilitas (Soma). Saya kira pesan dalam buku anak ini tidak hanya itu saja, tetapi bagaimana anak-anak Indonesia juga harus mencintai negaranya sebagai negara agraris.
Seperti yang Soma lakukan, yaitu bermain bersama-sama teman-temannya di sawah. Meski kotor berlumuran lumpur, alam serta lingkungan pertanian hijau menjadi sarana yang baik dalam menumbuhkan kognitif anak. Hal itu jauh lebih baik kita lakukan daripada anak hanya bermain screen time setiap hari. Sehingga dari kisah anak disabilitas (Soma) kita belajar kesederhanaan dalam hidup, mencintai alam (pertanian), dan menumbuhkan rasa empati terhadap sesama manusia.
Perubahan Zaman
Di tengah modernitas dan sistem kapitalisme yang kian berkembang pesat di Indonesia, menyebabkan perubahan pembangunan kian tak terbendung. Salah satu contoh konkritnya adalah perubahan tanah pertanian yang kian habis tergantikan oleh perumahan-perumahan elit. Di sadari atau tidak, ruang pertanian yang dulunya tempat bermain anak-anak, kini berubah menjadi bangunan perumahan yang merajalela.
Meski dalam ilustrasi buku tampak berlatar perdesaan, namun dalam realitas sosial di perdesaan pun juga mengalami perubahan yang nyata. Banyak proyek peralihan tanah pertanian menjadi perumahan yang terjadi di desa-desa. Hal tersebut bisa jadi lantaran orang-orang desa sudah mulai jenuh untuk melanjutkan hidup bekerja sebagai petani. Mereka meninggalkan pekerjaan sebagai petani dan anak-turunnya juga tidak mau melanjutkan profesi seorang petani.
Bahkan hal-hal fundamental pun juga terjadi di perdesaan, seperti menjual sawah untuk menjadikan anaknya sebagai pegawai negeri. Lantas orangtuanya kian bangga jika anaknya memiliki pekerjaan yang lebih mapan ketimbang seorang petani. Sebenarnya pendapat ini sangat subjektif, seolah pekerjaan petani menjadi pekerjaan kasta terendah yang tidak layak kita sandingkan.
Padahal menjadi petani adalah pekerjaan mulia serta garda terdepan bagi ketahanan pangan masyarakat Indonesia. Jika lahan pertanian kian menyempit, masihkah ada ruang untuk padi akan tumbuh di negeri agraris ini?
Mencintai Alam, Melawan Kekuasaan
Buku bacaan anak yang bagus tidak hanya sekadar menyampaikan gagasan pokok, tetapi juga memuat pesan secara implisit sebagai bahan perenungan pembacanya, terutama anak-anak. Selain buku anak yang tergarap Yovita Siswati mengisahkan Soma sebagai anak penyandang disabilitas, saya juga membaca buku anak yang pernah tergarap Fatwa Amalia yang berjudul Pohon Terakhir Leda (2025).
Buku bacaan anak yang Fatwa Amalia tulis mengisahkan perjuangan Leda. Ia seorang anak perempuan penyandang disabilitas yang berani serta gigih melindungi pohon di desanya karena proyek deforestasi pemerintah. Leda dan musang peliharaannya selalu menolak proyek pembabatan hutan, penebangan pohon atas dalih pembangunan dan kesejahteraan ekonomi.
Namun dengan kekuasaan dan otoritas pemerintah, Leda dan musang peliharaannya tak kuasa mempertahankan pohon-pohon terakhir di desanya. Pohon-pohon yang memberikan sumber kehidupan mulai tergantikan dengan proyek pohon sawit (pemerintah) sebagai ilusi ketahanan pangan.
Sebagai pembaca, buku anak yang Fatwa Amalia tulis ini sangat menarik. Sebab pembaca pada akhirnya menghadapi persoalan penting yaitu bagaimana menjaga lingkungan: pohon, hutan, dan makhluk hidup lainnya. Ekosistem yang tidak terjaga pada akhirnya dapat menciptakan bencana alam.
Keserakahan dan eksploitasi lingkungan secara berlebihan oleh pemerintah, memberikan dampak kerusakan lingkungan yang dapat membahayakan warga sekitar. Kesadaran serta kecintaan terhadap lingkungan inilah yang memunculkan kritik dari Leda, bahwa pembabatan hutan secara massif akan merugikan umat manusia dan menambah krisis iklim yang terjadi.
Mendengar Kata Ilmuwan
Ilmuwan terkemuka, Jared Diamond pernah menulis buku berjudul Collapse: (2014) . Diamond yang menjelaskan, kehancuran suatu peradaban bangsa dapat terjadi karena penggundulan hutan. Kita bisa menyimaknya “masalah keruntuhan akibat penggundulan hutan di kepulauan Pasifik.
Penduduk Pasifik prasejarah menggunduli pulau-pulau mereka dengan berbagai tingkatan, berkisar dari ringan saja sampai penggundulan total, dan dengan akibat yang berkisar dari masyarakat yang bertahan lama sampai keruntuhan paripurna yang menewaskan semua orang” (hlm. 23).
Kutipan di atas menunjukan, bahwa begitu rapuhnya suatu bangsa jika hanya mengandalkan usaha ekstraktif yang pemerintah lakukan ataupun masyarakat yang tidak mencintai lingkungan. Dampak kegiatan usaha ekstraktif yang mengambil sumber daya alam dari lingkungan hutan suatu saat dapat menjadi bencana.
Jared Diamond sudah mengingatkan jauh-jauh hari. Pada zaman modernitas, masalah-masalah lingkungan jika tidak tertangani secara serius, baik para pemimpin negera maupun warga negara, bisa memberikan timbal balik yaitu kepunahan massal (hancur).
Barangkali kekhawatiran itulah yang ingin Leda sampaikan sebagai seorang aktivis perempuan penyandang disabilitas yang menyayangi pohon, hutan, dan bumi. Ia tidak sekadar melawan kekuasaan, tapi juga menyampaikan kebenaran.
Kisah Soma dan Leda dalam buku bacaan anak mencerminkan kritik ekologis yang kian mengalami kerusakan. Mereka tidak sekadar membawa pesan penting yaitu menjaga kesetaraan, saling memahami antar sesama, akan tetapi juga memuat pesan jagalah alam untuk generasi yang akan mendatang. []




















































