Mubadalah.id – Membaca Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah karya Aurélie Moeremans bukan pengalaman yang nyaman. Saya membacanya di perjalanan, di dalam bus, di sela-sela aktivitas yang seharusnya biasa saja. Tulisannya ringan, mengalir, mudah dipahami.
Namun justru karena itu, ceritanya cukup masuk tak berjarak. Ada bagian-bagian yang membuat saya menutup layar, lalu menarik napas dalam-dalam. Sedikit mual. Entah karena guncangan bus, atau karena kisah yang terlalu berat untuk saya cerna sambil lalu.
Ada semacam ketidakmampuan dalam diri saya untuk membayangkan sepenuhnya apa yang Aurélie alami. Kekerasan sering kali memang melampaui daya imajinasi orang-orang yang tidak mengalaminya secara langsung.
Memoar ini bukan sekadar cerita tentang relasi abusif. Catatan yang tertuliskan dengan pendek dan tanpa ledakan emosi ini menjelaskan dengan cukup stabil, tentang bagaimana kekerasan terhadap perempuan bekerja secara perlahan, sistematis, dan rapi.
Broken Strings mengaskan bahwa kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasar dan terbuka. Ia kerap terbungkus sebagai cinta, perhatian, dan bahkan legitimasi moral yang tampak masuk akal, wajar, dan karenanya sulit tertolak.
Relasi Kuasa yang Timpang
Sejak awal, Aurélie berada dalam posisi yang sangat rentan. Ia masih sangat belia, belum memiliki bahasa yang cukup untuk mengenali dan menegosiasikan batas tubuhnya sendiri, serta berada dalam relasi kuasa yang timpang.
Pada bagian ini, saya cukup tertegun membaca prinsip hidup yang ia pegang kuat: keinginannya untuk tetap menjadi gadis hingga menikah, seperti ibunya ketika menikah dengan ayahnya. Di tengah zaman yang serba permisif dan serba cepat hari ini, prinsip itu terasa mulia bahkan seolah langka untuk dipertahankan.
Namun justru di sanalah kegelisahan saya sebagai pembaca muncul. Prinsip yang sering terpuji secara moral itu, ketika dihidupi oleh seorang gadis belia dalam relasi kuasa yang tidak setara, ternyata tidak mampu menjadi pelindung. Ia bisa berubah menjadi titik rawan, terutama ketika berhadapan dengan tekanan, manipulasi, dan pemaksaan yang menyamar sebagai cinta.
Di titik inilah saya mulai memahami mengapa dalam teori consent feminisme kontemporer berkali-kali mengingatkan satu hal mendasar: persetujuan tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia selalu berkelindan dengan usia, ketergantungan emosional, tekanan psikologis, norma moral yang terinternalisasi, serta ketakutan akan kehilangan cinta, penerimaan, dan rasa aman. Ketika semua itu hadir bersamaan, maka pilihan menjadi ilusi belaka.
Ketika Diam Menjadi Satu-satunya Cara untuk Hidup
Di buku ini tergambarkan bagaimana situasi dan keadaan membuat Aurélie terhimpit dan nyaris tak memiliki ruang untuk memilih. Tubuhnya tidak hanya tersakiti, tetapi juga dipertanyakan. Foto-foto intim yang diambil dalam relasi penuh tekanan justru berbalik menjadi senjata yang mengancamnya. Ketika ia mencari keadilan, pertanyaan yang muncul bukan “apa yang dilakukan pelaku?”, melainkan penghakiman: “mengapa kamu bersedia melakukan ini dan itu?”
Terasa familiar, bukan? Familiar karena budaya kita sering kali lebih sibuk mengaudit tubuh korban daripada mengadili kekerasan itu sendiri.
Sebagai pembaca, saya pun tak sepenuhnya bebas dari dorongan bertanya: mengapa ia tidak pergi lebih awal? Bagaimana ia bisa tetap bertahan? Namun Broken Strings secara perlahan mematahkan pertanyaan-pertanyaan itu. Diamnya Aurélie bukan ketidakberdayaan, melainkan strategi bertahan. Ia bertahan karena ia sadara bahwa melawan tidak selalu aman. Dalam situasi tertentu, diam justru menjadi satu-satunya cara untuk tetap hidup.
Saya sangat yakin buku ini tidak hanya tentang Aurélie. Ia tentang banyak perempuan lain yang tidak pernah menulis buku, tidak pernah diberi mikrofon, dan tidak pernah dipercaya ketika bersuara. Ada begitu banyak “Aurélie lain” di sekitar kita. Mereka ada di rumah, di sekolah, di tempat ibadah yang terpaksa diam karena takut, karena tidak punya dukungan, atau karena tahu bahwa berbicara justru hanya menambah luka.
Bertentangan dengan Prinsip Dasar Kemanusiaan
Dalam kerangka mubādalah, kekerasan semacam ini jelas bertentangan dengan prinsip dasar kemanusiaan. Relasi yang sehat mensyaratkan penghormatan, bukan dominasi. Cinta yang adil tidak pernah meminta penghapusan diri, apalagi pemaksaan atas tubuh. Jika sebuah relasi dibangun di atas ketakutan dan rasa bersalah, maka yang hadir bukan cinta, melainkan kekuasaan.
Hal lain yang membuat Broken Strings penting adalah kejujurannya tentang trauma setelah kekerasan. Buku ini tidak menjual narasi “selamat lalu sembuh”. Aurélie mengakui bahwa setelah keluar dari relasi abusif, ia masih terjebak dalam pola relasi yang menyakitkan. Bukan karena ia bodoh atau lemah, tetapi karena pengalaman pertamanya tentang cinta telah merusak kompas batinnya. Kekerasan menjadi sesuatu yang terasa familiar.
Bagi penyints penyembuhan bukan sekadar urusan individu, melainkan juga persoalan budaya. Selama perempuan diajarkan untuk mengalah, menyesuaikan diri, dan merasa bersalah ketika memilih diri sendiri, maka luka akan terus berulang dalam bentuk baru.
Memutus Rantai Kekerasan
Menulis Broken Strings pada akhirnya adalah tindakan merebut narasi. Aurélie tidak menulis untuk membalas, melainkan untuk memutus rantai. Ia telah berada di ruang dan relasi yang aman, meski tidak mengklaim telah sembuh sepenuhnya, tetapi ia berhenti menyalahkan dirinya yang dulu. Ketika kisah ini terbaca ribuan orang dan membantu penyintas lain bertahan hidup, menjadi jelas bahwa pengalaman perempuan tidak pernah sepenuhnya personal.
Sebagai pembaca, saya menutup buku ini dengan kesadaran bahwa ketidakmampuan saya membayangkan penderitaan korban sering kali menjadi alasan untuk meremehkannya. Dan bahwa tugas kita sebagai individu, komunitas, dan masyarakat tidak lagi meminta korban agar lebih kuat, melainkan menciptakan dunia yang tidak memaksa mereka diam demi nama baik dan martabat.
Broken Strings mengingatkan saya bahwa bertahan hidup bukan tanda kelemahan. Bertahan bukti kekuatan yang lahir dari situasi yang tidak adil.
Terima kasih Aurelie, yang sudah membagikan pengalaman berat, melelahkan dan tidak mudah. Membagikan energi dengan gaya tulisan yang luar biasa tenang dan damai. tanpa teriakan namun terasa valid dan membekas. []



















































