Selasa, 16 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    Rahim

    Yang Tak Kita Pahami dari Rahim Copot, Puting Putus, dan Payudara Meledak

    Hak Untuk Bosan

    Hak untuk Bosan: Mengapa Difabel Tidak Harus Selalu Menginspirasi?

    Qana'ah

    Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

    Kesetaraan Anak laki-laki dan Perempuan

    Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

    Kampung idiot

    Mengubah Stigma Kampung Idiot di Karangpatihan Menjadi Berdaya secara Ekonomi

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    Ber-KB

    Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB

    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    KB

    Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

    Kehamilan dan

    Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    Rahim

    Yang Tak Kita Pahami dari Rahim Copot, Puting Putus, dan Payudara Meledak

    Hak Untuk Bosan

    Hak untuk Bosan: Mengapa Difabel Tidak Harus Selalu Menginspirasi?

    Qana'ah

    Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

    Kesetaraan Anak laki-laki dan Perempuan

    Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

    Kampung idiot

    Mengubah Stigma Kampung Idiot di Karangpatihan Menjadi Berdaya secara Ekonomi

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    Ber-KB

    Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB

    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    KB

    Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

    Kehamilan dan

    Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Pernak-pernik

Dalam Kejahatan Seksual Fokuslah pada Korban, Bukan yang Lain

Siapa pun dia dengan berbekal ilmu apa pun yang memperjuangkan agar sistem kehidupan terbebas dari kedzaliman, termasuk dalam hal ini kedzaliman berupa kejahatan seksual, maka dia adalah pewaris Nabi, karena telah berupaya mewujudkan misi Islam sebagai rahmat seluruh alam

Listia by Listia
21 Desember 2021
in Pernak-pernik
A A
0
Kejahatan

Kejahatan

2
SHARES
99
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mengapa di lembaga keagamaan, (termasuk agama-agama di luar Islam) yang diandaikan aman dari kejahatan ini, terjadi praktik dzalim yang merendahkan martabat manusia? Apa yang sesungguhnya terjadi?

Mubadalah.id – Ini adalah salah satu pertanyaan kunci dalam diskusi dengan tema “ Pelecehan Seksual dan Kesetaraan Gender di Pondok Pesantren”, yang menuntun alur perbincangan yang sangat bernas dan sangat dibutuhkan dalam situasi darurat kekerasan seksual akhir-akhir ini. Narasumbernya adalah para ulama perempuan yang tidak hanya memiliki otoritas dalam keilmuan agama, juga mereka yang bergumul dengan persoalan ketidakadilan di akar rumput.

Ada satu penegasan yang menarik dari Nyai Nur Rofiah, …“di tangan manusia, agama dapat menjadi inspirasi yang  memberdayakan masyarakat, namun dapat juga terjadi ada juga pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan agama justru untuk memperdaya manusia lain, mendzalimi pihak yang lemah”. Setiap tindakan dzalim berakar dari cara pandang terhadap pihak lain sebagai lebih rendah, seolah boleh diperlakukan sebagai obyek yang dapat diperlakukan apa saja.

Cara pandang ini menghasilkan hubungan-hubungan yang biasa disebut dengan relasi kuasa, hubungan di mana ada pihak mengambil keuntungan, di pihak lain terpinggirkan, dirugikan, direndahkan bahkan dihilangkan martabat kemanusiaannya bahkan nyawanya. Bukan hanya perempuan, namun juga anak-anak, kelompok disabilitas masuk kelompok rentan dalam kejahatan ini.

Apa yang salah dalam sistem pendidikan kita?

Nyai Siti Barokah atau Nyai Oka dari Pesantren Misykatu al Anwar Bogor, menganalisa ada beberapa kondisi yang layak dicermati dalam lembaga-lembaga pendidikan berbasis agama yang secara tidak langsung memberi kondisi yang memungkinkan munculnya kejahatan seksual;

Pertama, masih adanya kultur feodal dalam masyarakat yang terserap di lembaga pendidikan berbasis agama. Kultur feodal ini biasanya menempatkan kelompok elit (al mala) sebagai pihak yang dominan dalam berbagai hubungan. Meski ajaran moral agama-agama menolak hubungan-hubungan seperti ini, relasi kuasa sering muncul karena pengaruh budaya masyarakat yang melingkupinya.

Dalam lingkungan lembaga pendidikan berbasis agama, banyak santri, peserta didik atau masyarakat yang memaknai takdzim (penghormatan) pada guru dengan cara membuta. Padahal dalam hadits Nabi sangat jelas, “Tidak ada ketaatan untuk tindakan maksiyat”, namun masih kuatnya budaya feodal, takdzim dan ketaatan secara membuta ini masih bertahan bahkan menjadi kebiasaan di beberapa kelompok.

Relasi kuasa dalam kultur feodal sesungguhnya sangat bertentangan dengan ajaran tauhid, yang mengharuskan hanya mempertuhankan Allah bukan manusia lain, laki-laki, kedudukan, jabatan, harta atau hal-hal duniawi yang lain.

Kedua, dalam analisisa Nyai Siti Barokah, pada kenyataannya, masih banyak guru atau tokoh agama-agama yang menggunakan tafsir atas teks-teks keagamaan yang  sangat maskulin, (menggunakan sudut pandang dari pengalaman dan kepentingan laki-laki saja).

Dalam konteks Islam, Nyai Nur sebagai ulama ahli tafsir memberi catatan, bahwa ayat-ayat tentang hubungan laki-laki perempuan dalam al Quran perlu dipahami secara utuh. Bila hal ini dilakukan, maka akan tertangkap konteksnya dan akan terlihat ada proses sosial yang hendak didorong oleh ayat-ayat ini. Hal yang menjadi indikator proses adalah misi Islam sebagai rahmatan lin ‘alamin, membawa keberkahan bagi semua.

Ayat-ayat yang menempatkan perempuan sebagai obyek, merupakan titik berangkat mencerminkan kondisi awal dimana ayat-ayat menyapa realitas saat itu. Sebagaimana di pahami Islam hadir dalam masyarakat, yang bahkan bayi perempuan saja bisa dikubur hidup-hidup karena dianggap tidak menguntungkan.

Kemudian ada ayat-ayat yang mendorong perubahan dengan menempatkan perempuan lebih manusiawi meski proses ini belum selesai. Misalnya ayat yang mengubah kondisi sosial yang awalnya membolehkan menikahi perempuan sebanyak-banyaknya siapa pun dia, kemudian dibatasi menjadi empat.  Namun pada ayat poligami tersebut juga terdapat dorongan untuk mencukupkan satu, karena hal itu lebih adil.

Tujuan akhirnya dari proses sosial yang didorong oleh ayat-ayat tentang hubungan laki-laki perempuan adanya kesetaraan penuh, yang ditunjukkan oleh ayat-ayat yang menunjukkan hubungan kesalingan antara muslimin dan muslimat, sebagaimana kondisi ideal dari misi atau cita-cita Islam yang membawa anugerah untuk semua, (bukan hanya anugerah bagi yang kuat, melainkan justru memulihkan yang lemah/mustadz’afiin) yang dengan demikian, Islam menjadi rahmatan lil ‘alamain.

Ketiga, Nyai Oka mengemukakan belum terselenggaranya pendidikan kritis dalam lembaga pendidikan berbasis agama. Yang dimaksud pendidikan kritis di sini adalah pendidikan yang menggunakan penalaran logis-etis dan penyadaran mengutamakan prinsip-prinsip nilai kebaikan, kebenaran bukan asal tunduk pada apa kata tokoh. Nyai Nur menambahkan, pendidikan kritis adalah bagian pemenuhan maqasidus syariah dalam hal memelihara akal, semua pihak.

Akal adalah salah satu keutamaan manusia yang membedakannya dari mahluk lain. Dengan nalar kritis pula, manusia dapat mengembangkan spiritualitas beragama yang mendewasa; misalnya dalam penggambaran tentang surga, pada taraf yang belum dewasa mungkin saja surga digambarkan adalah tempat yang dipenuhi dengan bidadari, namun dalam taraf keberagamaan yang dewasa, penggambaran surga adalah kebahagiaan yang mencerahkan wajah karena ‘bertemu dengan Tuhan’.

Berkaitan dengan pendidikan kritis ini, Nyai Oka mengkritis cara berfikir dalam lembaga-lembaga pendidikan berbasis agama yang memilih melakukan pemisahan secara ketat antara laki-laki dan perempuan. Menurut Nyai Oka, pemisahkan ini justru membuat anak perempuan dan laki-laki tidak memiliki kesempatan untuk mengasah ketrampilan untuk menjalin relasi secara baik dan berkeadilan.

Pengamalan baik maupun buruk dalam berelasi dan bekerjasama adalah sumber belajar yang berharga, agar kelak ketika dewasa bersikap secara proporsional, termasuk ketika mempunyai ketertarikan dengan lawan jenis, mereka dapat mengelola perasaan secara sehat dan  dengan adab. Pengalaman tersebut dapat juga menjadi bekal mereka agar kelak dapat bekerjasama terutama ketika berkeluarga agar dapat menjalin hubungan kesalingan laki-laki dan perempuan.

Selain pemisahan ketat laki-laki dan perempuan, Nyai Nurul Bahrul Ulum menyoroti juga masih ada kalangan memiliki cara pandang yang tidak mengatasi masalah justru membawa masalah lain; misalnya demi mencegah perzinahan mereka mendorong anak cepat nikah, sehingga pernikahan dini masih sering terjadi di lingkungan pesantren.

Bagaimana memperbaiki situasi?

Komisioner Komnas Perempuan Siti Aminah Tardi mengingatkan, tindak pidana kekerasan seksual pernah terjadi di semua level pendidikan dari PAUD hingga Perguruan tinggi, dan tidak hanya di lingkungan pendidikan agama Islam, terjadi pula di lembaga agama lain. Ini menjadi situasi yang dapat menurunkan kualitas hidup, khususnya perempuan.

Perlu nafas panjang dan kolaborasi dari banyak pihak untuk mengatasi hal ini. Untuk melakukan pencegahan, setidaknya ada tiga ranah yang dapat dimanfaatkan; teknologi informasi, pendidikan dalam keluarga dan lembaga pendidikan keagamaan. Ada juga yang membutuhkan pencegahan secara khusus yaitu di panti asuhan, dan kelompok disabilitas. Sehingga, dengan demikian perkembangan yang ada akhir-akhir ini, sekolah-sekolah atau lembaga berasrama perlu mendapat perhatian juga sebagai wilayah khsusus.

Untuk memperbaiki keadaan, Nyai Nur mengingatkan lembaga pendidikan harus kembali pada tujuan awal untuk malakukan penyadaran tentang peran kemanusiaan sebagai khalifatullah fil ardhi. Maka pendidikan kritis ini sangat peting untuk pengembangan keilmuan dan sikap bertanggung jawab mewujudkan kehidupan yang  keberkahan bagi semua,  membebaskan mustadz’afin (kelompok rentan) dari musibah.

Nyai Oka menjelaskan pentingnya pendidikan kritis dengan menceritakan praktik pedidikan kritis di pesantren Misykat yang dimulai dengan membangun kesepakatan belajar yang memberi kesempatan santri untuk berpendapat, dan mendialogkan pendapat ketika terjadi perbedaan pandangan. Selain itu ada materi tentang logika, etika dan estetika yang diramu dalam berbagai aktiftas pesantren sehingga santri memahami suatu anjuran misalnya tentang kebersihan dengan pertimbangan dari berbagai sisi.

Terkait dengan perlunya sistem pencegahan, selaras dengan apa yang disampaikan Mba Ami, Nyai Nurul mengusulkan agar lembaga pendidikan berbasis keagamaan seperti pesantren memiliki sistem tata kelola lembaga dengan prosedur operasinonal pencegahan yang diketahui umum, adanya pos pengaduan dan penangan bila terjadi kasus serta adanya regulasi di tingkat lembaga yang memayungi.

Selain pencegahan di lembaga pendidikan, ia menjelaskan pentingnya melibatkan banyak pihak yang punya otoritas dalam masyarakat. Nyai Nurul memberi contoh keterlibatan orang tuanya dalam kajian fiqh perempuan yang ternyata sangat efektif untuk melakukan sosialisasi pengajaran dengan perspektif yang adil gender dan ramah anak.

Terkait dengan regulasi, Mba Ami menekankan perlunya hal ini dari level pendidikan paling bawah dan bukan hanya di level perguruan tinggi, di semua lembaga pendidikan termasuk pesantren dan lembaga-lembaga keagamaan lain. Peraturan Menteri Agama tentang pencegahan kekerasan seksual di lembaga pendidikan keagamaan saja belum  belum cukup, karena ruang lingkup yang masih terbatas, perlu Undang-undang untuk memayunginya. Ia mengajak semua pihak untuk berpartisipasi melakukan kampanye dukungan agar UU TPKS dapat diresmikan dalam masa sidang bulan Januari 2022.

Menanggapi pertanyaan, mengapa ada pihak yang berpendapat bahwa kasus-kasus seperti ini tidak perlu diangkat karena dapat menjatuhkan nama baik? atau ada anggapan bahwa orang-orang yang mengangkat masalah kekerasan seksual di lembaga pendidikan berbasis agama, mereka dianggap hendak menjelek-jelekkan lembaga pendidikan, atau dianggap mengkriminalisasi ulama sebagai warasatul anbiya atau dianggap menjatuhkan agama?

Nyai Nur menegaskan bahwa kasus-kasus seperti ini harus diusut karena kedzaliman bertentangan dengan misi Islam sebagai rahmatan lil alamin. Dalam suatu hadits Nabi mengatakan, ‘tolonglah mereka yang menjadi korban kedzaliman dan pelaku kedzaliman’. Sahabat pun bertanya, “Ya Rasulallah, bagaimana caranya membantu orang yang dzalim?”

Nabi mengatakan, “bantulah orang dzalim dengan mencegah terjadi perbuatan dzalimya.” Nyai Nur menggarisbawahi, meski seseorang memiliki banyak ilmu agama, tetapi bila dia dzalim, maka dia bukan pewaris Nabi. Namun siapa pun dia dengan berbekal ilmu apa pun yang memperjuangkan agar sistem kehidupan terbebas dari kedzaliman, termasuk dalam hal ini kedzaliman berupa kejahatan seksual, maka dia adalah pewaris Nabi, karena telah berupaya mewujudkan misi Islam sebagai rahmat seluruh alam. []

Tags: kejahatan seksualnabiulama perempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Taat kepada Istri Adalah Syar’i

Next Post

Relasi Kuasa, Persetujuan dan Kekerasan Seksual Part II

Listia

Listia

Pegiat pendidikan di Perkumpulan Pendidikan Interreligus (Pappirus)

Related Posts

Sitti Rohmi Djalilah
Figur

Sitti Rohmi Djalilah: Ulama Perempuan dalam Gerak Muslimat dan Pendidikan

5 Juni 2026
Cut Nyak Dien
Aktual

Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

26 Mei 2026
Nyai Luluk Farida
Aktual

Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

26 Mei 2026
BuKUPI
Aktual

Pera Sopariyati: BuKUPI 2026 Perkuat Independensi Gerakan Ulama Perempuan

25 Mei 2026
Buku Manaqib Ulama Perempuan
Aktual

Diluncurkan di BuKUPI: Buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia Jadi Ikhtiar Awal Dokumentasi Sejarah Ulama Perempuan

25 Mei 2026
Atlas Ulama Perempuan KUPI
Aktual

Atlas Ulama Perempuan KUPI Resmi Diluncurkan, Rekam Jejak Perjuangan Ulama Perempuan

24 Mei 2026
Next Post
Eisegesis

Relasi Kuasa, Persetujuan dan Kekerasan Seksual Part II

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?
  • Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial
  • Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan
  • Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?
  • Mengenal Kondom Perempuan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0