Mubadalah.id – Menjelang Iduladha, banyak orang mulai disibukkan dengan berbagai persiapan. Ada yang membeli kebutuhan dapur, membersihkan rumah, hingga mempersiapkan hewan kurban. Suasana hari raya perlahan terasa melalui gema takbir dan berbagai aktivitas masyarakat yang semakin ramai. Namun, di tengah kesibukan tersebut, ada satu hal yang terkadang terlupakan, yaitu menyiapkan hati sebelum menyambut Iduladha.
Dalam tradisi Islam, sebelum hari raya kurban tiba, umat Muslim dianjurkan melaksanakan puasa Tarwiyah dan Arafah pada tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah. Puasa ini sering terpahami sebatas amalan sunnah yang mendatangkan pahala besar. Padahal, lebih dari itu, puasa Tarwiyah dan Arafah juga dapat kita maknai sebagai proses spiritual untuk menenangkan diri dan mendekatkan hati kepada Tuhan.
Karena itu, puasa menjelang Iduladha bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ia juga menjadi ruang perenungan agar manusia tidak sekadar sibuk dengan persiapan lahiriah, tetapi juga mempersiapkan batin sebelum memasuki hari raya. Dari puasa ini, manusia diajak belajar tentang kesabaran, empati, dan makna pengorbanan yang sesungguhnya.
Makna Puasa Tarwiyah dan Arafah
Puasa Tarwiyah dan Arafah merupakan amalan sunnah yang memiliki keutamaan dalam bulan Dzulhijjah. Hari Arafah sendiri menjadi momentum penting karena bertepatan dengan pelaksanaan wukuf para jamaah haji di Padang Arafah. Dalam hadis Nabi, puasa Arafah kita sebut sebagai amalan yang dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Kata Tarwiyah berasal dari bahasa Arab روّى – يروّي – تروية (rawwā– yurawwī– tarwiyah) yang memiliki makna “merenungkan”, “memikirkan”, atau “mempersiapkan sesuatu dengan matang”. Dalam tradisi haji, hari Tarwiyah jatuh pada 8 Dzulhijjah, yaitu ketika para jamaah mulai bersiap menuju Padang Arafah.
Sebagian ulama juga mengaitkan istilah ini dengan aktivitas menyiapkan persediaan air sebelum melakukan perjalanan panjang di tengah padang pasir. Dari makna tersebut, Tarwiyah dapat kita pahami sebagai momentum untuk mempersiapkan diri, baik secara fisik maupun batin, sebelum memasuki hari-hari penting dalam ibadah haji dan Iduladha.
Sementara itu, kata Arafah berasal dari akar kata عرف – يعرف – عرفة (‘arafa – ya‘rifu – ‘Arafah) yang berarti “mengetahui”, “mengenal”, atau “memahami”. Hari Arafah yang jatuh pada 9 Dzulhijjah menjadi puncak pelaksanaan ibadah haji melalui wukuf di Padang Arafah.
Dalam makna spiritualnya, Arafah tidak hanya berbicara tentang tempat atau waktu tertentu, tetapi juga tentang proses manusia mengenali diri di hadapan Tuhan. Karena itu, puasa Tarwiyah dan Arafah dapat kita maknai sebagai jalan untuk menenangkan hati, memperbaiki diri, dan mempersiapkan batin sebelum menyambut Iduladha.
Meski demikian, puasa Tarwiyah dan Arafah tidak hanya kita pahami dalam konteks pahala semata. Puasa ini juga dapat menjadi ruang untuk memperbaiki hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan dengan Tuhan. Di tengah kehidupan yang serba cepat, manusia sering kali menjalani rutinitas tanpa benar-benar memberi waktu untuk merenung dan menata batin.
Karena itu, hadirnya puasa sebelum Iduladha seolah menjadi pengingat bahwa hari raya bukan hanya tentang kemeriahan. Ada proses spiritual yang perlu kita persiapkan sebelum seseorang merayakan Iduladha. Puasa mengajarkan bahwa mendekat kepada Tuhan tidak selalu kita lakukan melalui hal-hal besar, tetapi juga melalui kesediaan menahan diri dan membersihkan hati.
Puasa dan Latihan Mengendalikan Diri
Salah satu pelajaran penting dari puasa ialah kemampuan mengendalikan diri. Saat berpuasa, manusia belajar menahan lapar, haus, dan berbagai keinginan yang sebenarnya diperbolehkan. Dari situ, puasa melatih seseorang untuk tidak selalu mengikuti dorongan hawa nafsu dan keinginan sesaat.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali mudah terpenuhi rasa marah, gengsi, dan keinginan untuk merasa lebih unggul daripada orang lain. Tidak sedikit pula yang tanpa sadar terlalu sibuk mengejar pengakuan sosial hingga melupakan ketenangan dirinya sendiri. Puasa hadir sebagai latihan agar manusia mampu mengelola emosi dan belajar hidup dengan lebih tenang.
Melalui puasa Tarwiyah dan Arafah, manusia diajak memahami bahwa pengorbanan tidak selalu berbentuk sesuatu yang tampak secara fisik. Ada ego yang perlu kita tundukkan, amarah yang perlu kita redam, dan kesombongan yang perlu kita kurangi. Dari proses inilah seseorang belajar bahwa kedekatan kepada Tuhan juga lahir dari kemampuan memperbaiki diri sendiri.
Menumbuhkan Empati Sosial
Selain menjadi latihan spiritual, puasa juga mengajarkan manusia untuk lebih peka terhadap keadaan sesama. Rasa lapar dan haus membantu seseorang memahami bahwa tidak semua orang hidup dalam kecukupan. Ada banyak orang yang setiap hari harus berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kesadaran semacam ini penting agar Iduladha tidak hanya kita maknai sebagai perayaan tahunan atau sekadar ritual penyembelihan hewan kurban. Semangat berbagi dalam Iduladha seharusnya juga melahirkan kepedulian sosial yang nyata. Bukan hanya tentang membagikan daging kurban, tetapi juga menghadirkan perhatian dan kasih sayang kepada orang lain.
Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, puasa Tarwiyah dan Arafah dapat menjadi pengingat bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada sesama yang perlu kita perhatikan, kita dengar, dan kita bantu. Dari rasa lapar itu, manusia belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari apa yang kita miliki, tetapi juga dari kemampuan memahami dan peduli terhadap orang lain.
Menyambut Iduladha dengan Hati yang Lebih Tenang
Iduladha sering kali identik dengan keramaian dan berbagai aktivitas yang padat. Namun, sebelum memasuki hari raya, puasa Tarwiyah dan Arafah mengajarkan pentingnya menghadirkan ketenangan dalam diri. Sebab hari raya bukan hanya tentang suasana meriah, tetapi juga tentang bagaimana manusia memperbaiki hubungannya dengan Tuhan dan sesama.
Puasa membantu manusia berhenti sejenak dari kesibukan dunia yang melelahkan. Dalam rasa lapar dan sunyi itu, seseorang belajar melihat kembali dirinya sendiri. Apakah selama ini ia sudah cukup bersyukur, cukup peduli, dan cukup rendah hati dalam menjalani kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering kali terlupakan ketika manusia terlalu sibuk dengan urusan sehari-hari.
Karena itu, menyambut Iduladha dengan puasa bukan hanya tradisi ibadah yang kita lakukan setiap tahun. Lebih dari itu, puasa menjadi jalan untuk membersihkan hati sebelum memasuki hari raya. Dari puasa Tarwiyah dan Arafah, manusia belajar bahwa pengorbanan terbesar terkadang bukan tentang apa yang kita berikan kepada orang lain, tetapi tentang kemampuan menundukkan ego dan memperbaiki diri di hadapan Tuhan. []












































