Mubadalah.id – Maraknya perceraian di masyarakat, bukanlah hal baru. Sejak saya kuliah sarjana di tahun 2004 mengambil konsentrasi Hukum Keluarga Islam, perceraian adalah fenomena di masyarakat. Baik masyarakat biasa ataupun di kalangan artis. Hingga di tahun 2026 saat ini, perceraian masih marak.
Perceraian menorehkan luka, dan selalu meninggalkan stigma terutama pada perempuan. Nah bar-baru ini, media sosial ramai akan perseteruan Rachel Venya dan Okin terkait perebutan kepemilikan rumah. Keduanya perang status tentang nafkah anak.
Terlepas dari kisruh pasca perceraian, mari mulai melihat perceraian sebagai sebuah takdir yang tergaris dari Allah SWT. Dalam perspektif Tasawuf atau esoterisme Islam. Perceraian tidak hanya dilihat sebagai fenomena fiqh, tetapi lebih kepada peristiwa spiritual yang melibatkan dimensi hati, akhlak, dan hubungan hamba dengan Sang Pencipta. Meskipun hukum syariat memperbolehkan, perceraian adalah perkara halal yang paling dibenci Allah. Merujuk pada hadist,
أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللهِ الطَّلَاقُ
Perceraian bukan sekadar urusan tanda tangan di pengadilan, tetapi urusan manajemen hati. Jika cerai demi menyelamatkan agama dan jalan menuju kedamaian. Syaratnya tanpa memelihara amarah dan kesombongan pasca perceraian, supaya tidak menjadi penghalang antara hamba dengan Tuhannya.
Pernikahan sebagai Cermin Tajalli
Tajalli atau bermakna penampakan Illahi. Dalam pandangan kaum sufi, pernikahan adalah sarana untuk mengenal Allah berarti ma’rifatullah. Relasi suami dan istri sebagai manifestasi dari sifat-sifat Tuhan yang saling melengkapi seperti sifat kasih dan sayang, sifat Jamal atau keindahan dan Jalal atau keagungan.
Perceraian dianggap sebagai terputusnya sebuah sarana pendidikan jiwa untuk belajar bersabar, syukur, dan mengalah demi harmoni. Jika perceraian terjadi karena ego, maka seseorang akan merasa gagal dalam ujian penyucian jiwa tersebut.
Banyak konflik rumah tangga bersumber dari dominasi nafsu yang ingin menang sendiri. Tasawuf melihat perceraian yang atas rasa kemarahan, dendam, atau ambisi pribadi sebagai kekalahan spiritual.
Seorang sufi akan sangat berhati-hati sebelum memutuskan cerai. Mereka akan bertanya: “Apakah saya ingin cerai karena Allah demi kemaslahatan agama, atau karena ego saya yang terluka?”
Penekanan pada Penaklukan Ego (Mujahadah an-Nafs)
Perceraian memang menjadi jalan terakhir yang tak terelakkan misalnya karena mudarat yang besar atau terganggunya ibadah. Tasawuf menekankan prinsip Tasrihun bi Ihsan yaitu melepaskan kemelekatan dengan cara yang baik. Antara lain dengan tidak membuka aib pasangan atau saling menjatuhkan martabat. Menerima bahwa ketentuan Allah telah sampai pada titik ini, tanpa harus menyalahkan takdir atau membenci pribadi mantan pasangan, atau bahkan menyalahkan diri sendiri.
Tasawuf sangat menjunjung tinggi koneksi ruhani. Perceraian secara hukum sering kali terjadi dengan permusuhan. Bagi kaum sufi, permusuhan ini adalah “racun” bagi hati yang dapat menghalangi cahaya Tuhan masuk ke dalam jiwa. Oleh karena itu, hubungan batin sebagai sesama mukmin harus tetap terjaga meski ikatan pernikahan telah usai.
Perceraian bisa menjadi momen untuk menyendiri yang terpaksa oleh keadaan. Jika seseorang menghadapinya dengan perspektif tasawuf, ia akan menjadikan kesendirian pasca-cerai untuk kembali fokus total kepada Allah atau inabah. Menyadari bahwa pada akhirnya manusia hanya memiliki Allah, dan pasangan hanyalah titipan sementara. Takdir berpasangan sudah habis waktunya.
Grieving dan Rekonstruksi Identitas Diri
Membuka lembaran baru setelah perceraian adalah sebuah perjalanan transisi dari fase “kita” kembali menjadi “aku”. Ini bukan sekadar tentang melupakan masa lalu, tetapi tentang mengintegrasikan pengalaman tersebut menjadi kekuatan baru.
Perceraian adalah kehilangan yang nyata, kehilangan rutinitas, impian bersama, dan identitas sebagai pasangan. Wajar jika merasa sedih, marah, atau bingung secara bergantian. Proses penyembuhan ada kalanya terasa ringan ada juga terasa berat. Jika sebelumnya berkompromi dengan keinginan pasangan, kini saatnya bertanya pada diri sendiri: “Siapa saya sebenarnya?”
Lembaran baru akan lebih kokoh jika terbangun di atas pembelajaran tanpa penyesalan. Mampu mengidentifikasi pola komunikasi atau perilaku di masa depan, semangat bertumbuh. Memahami bahwa kedamaian hanya bisa datang jika berhenti bertengkar dengan masa lalu pada diri sendiri.
Membangun Sistem Pendukung (Support System)
Cara membangun support system adalah dengan mendekatkan diri dengan teman atau keluarga yang memberikan energi positif. Teman bercerita dengan memberi dukungan tanpa mendapat penghakiman. Jika perasaan hampa atau trauma terasa terlalu berat, berkonsultasi dengan konselor atau psikolog bisa sangat membantu untuk memproses emosi secara lebih terstruktur.
Setiap orang memiliki ritme dan cara masing-masing dalam sembuh. Memperhatikan pada target-target kecil setiap minggunya, seperti menyelesaikan pekerjaan tepat waktu atau mencoba resep makanan baru. Jikalau perlu dengan rehat dari melihat media sosial orang lain atau merasa tertinggal jika belum sebahagia orang lain.
Pengasuhan Bersama Demi Anak
Membangun hubungan yang fungsional dengan mantan pasangan setelah bercerai, terutama demi anak, adalah salah satu bentuk kedewasaan emosional yang paling tinggi. Dalam psikologi, ini sering disebut dengan istilah “Co-parenting”.
Cara termudah untuk meredam emosi pribadi adalah dengan memperlakukan mantan pasangan seperti rekan kerja dalam sebuah proyek besar bernama pengasuhan anak bersama. Berkomunikasi secara sopan, singkat, dan jelas. Jika pembicaraan mulai meluas ke masalah masa lalu, segera kembali ke topik utama tentang kebutuhan anak.
Mungkin usai perceraian, akan memiliki luka mendalam. Namun bagi anak, ayah dan ibunya tetaplah orang tua mereka. Merendahkan mantan pasangan di depan anak hanya akan membuat anak merasa identitas diri mereka menjadi ikut rendah. Karena anak yang merupakan gabungan dari kedua orang tuanya. Jika tidak bisa memuji, lebih baik diam atau memberikan respons netral saat anak menceritakan hal positif tentang mantan pasangan.
Pastikan orang tua sebagai makhluk dewasa untuk memiliki ruang lain untuk menumpahkan kekesalan seperti sahabat atau terapis. Sehingga saat bertemu mantan untuk urusan anak, emosi sudah lebih stabil. Tidak semua perbedaan pendapat harus berakhir dengan debat. Jika itu bukan hal prinsip bagi keselamatan anak, terkadang mengalah demi kedamaian adalah pilihan yang lebih bijak.
Membangun hubungan yang baik tidak berarti harus menjadi teman akrab. Cukup menjadi tim yang solid bagi anak. Anak-anak yang melihat orang tuanya tetap bisa bekerja sama meski sudah berpisah, cenderung memiliki resiliensi (ketangguhan) dan kesehatan mental yang lebih baik di masa depan. Anak tidak minta lahir, kitalah orang tua yang membuat mereka hadir ke dunia. maka sebagai makhluk dewasa, kita haru sbertanggung jawab, meski berpisah sebagai pasangan. []










































