Mubadalah.id- “Bagaimana kita bisa mendengar orang lain, jika diri kita sendiri belum benar-benar kita pahami?”. Pertanyaan ini menjadi salah satu refleksi saya ketika mengikuti konselor sebaya di Univeritas Wiralodra Indramayu pada Jum’at 19 Juni 2026
Saya mengikuti kegiatan ini atas ajakan Kak Vevi yang sekaligus menjadi pemateri di kegiatan tersebut. Kegiatan ini tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga ada berbagai permainan dan aktivitas reflektif yang membuat peserta lebih mudah memahami isi pembahasan kesehatan mental.
Mengenali Emosi: Langkah Awal Menjaga Kesehatan Mental
Di era serba instan seperti ini, persoalan kesehatan mental sering booming, terutama pada kalangan generasi muda. Seperti Tekanan akademik, relasi sosial, hingga kecemasan terhadap masa depan seringkali menjadi sumber tekanan yang tidak mudah untuk dihadapi.
Sebagian orang beranggapan kesehatan mental hanya berkaitan dengan gangguan psikologis. Padahal, Kesehatan mental mencakup kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya, menghadapi tantangan hidup, menjalin relasi yang baik, serta tetap produktif dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Melalui kegiatan ini, para peserta mengenali emosi masing-masing dengan menggunakan analogi cuaca. Terkadang cuaca tampak cerah dan menyenangkan, namun di waktu lain berubah menjadi mendung bahkan disertai badai. Begitu pula emosi manusia yang terus berubah mengikuti pengalaman dan situasi yang dihadapi.
Ada saatnya Bahagia, bersemangat, namun adapula sedih, kecewa, marah, atau cemas. Karena itu, kita tidak perlu menolak atau menghindari emosi yang muncul. Sebaliknya, kita perlu mengenali, menerima, dan memahami bahwa setiap emosi memiliki tempat serta perannya dalam kehidupan manusia.
Menguatkan Diri Sebelum Menguatkan Sesama
Kegiatan ini mengajarkan bahwa proses menguatkan orang lain harus diawali dengan membenahi diri sendiri. Tahapannya bermula dari memahami diri, mendampingi sesama, hingga menggerakkan kelompok. Dengan demikian, perubahan sosial selalu berawal dari kesadaran diri.
Selain itu kesehatan mental berkaitan erat dengan kondisi fisik. Tubuh dan pikiran tidak dapat terpisahkan. Ketika tubuh Lelah, atau banyak tekanan, kondisi mental pun ikut terpengaruh. Begitupun sebaliknya, Ketika Kesehatan fisik terjaga seseorang cenderung lebih mampu mengelola emosionalnya, oleh karena itu, menjaga Kesehatan mental tidak cukup hanya dengan mengatur pikiran saja, namun, perlu memperhatikan kebutuhan tubuh atau dengan praktik self-care.
Dalam sesi materi, ada penjelasan megenai tiga indikator yang dapat menunjukkan kondisi mental seseorang. Pertama, mampu menjalankan aktivitas secara produktif. Kedua, memiliki hubungan sosial yang baik dengan orang lain. Ketiga, memiliki kapasitas untuk beradaptasi terhadap perubahan dan berbagai tantangan kehidupan.
Hal menarik lainnya, manusia kerap melewatkan momen hidup saat ini karena pikirannya lebih sering berada di masa lalu atau masa depan. Banyak terjebak dalam kejadian yang telah berlalu atau terlalu khawatir terhadap hal-hal yang belum terjadi. Untuk mengatasi hal tersebut, peserta di perkenalkan dengan konsep mindfulness.
Mindfullnes merupakan kemampuan untuk hadir sepenuhnya pada saat ini. Praktik ini bisa melalui dengan menulis jurnal harian, menggambar, meditasi, dan mengatur pernapasan. Inilah yang membuat seseorang dapat lebih fokus pada hal-hal yang berada dalam kendalinya.
Pertanyaan sederhana seperti “Apakah yang bisa saya kontrol hari ini?” juga membantu mengurangi kecemasan, memberikan arahan yang jelas dalam menjalani kehidupan. Sebab, tidak semua hal berada dalam kendali kita. Namun, kita selalu memiliki pilihan untuk menentukan bagaimana merespons setiap persoalan yang datang.
Lebih dari Sekadar Konseling: Belajar Menjadi Manusia yang Peduli
Melalui kegiatan ini, saya memahami bahwa otak manusia cenderung lebih mudah mengingat pengalaman buruk dibandingkan pengalaman baik. Akibatnya, kita sering memandang hidup seolah-olah hanya dipenuhi berbagai masalah, padahal setiap hari kita juga mengalami banyak hal baik yang sering luput dari perhatian. Kesadaran terhadap kecenderungan ini penting agar kita tidak terjebak dalam pikiran negatif berlebihan.
Saya menyadari bahwa di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu kesehatan mental, Seminar ini memegang peran penting dalam membangun lingkungan yang lebih peduli dan suportif. Peran tersebut terwujud dengan menjadi pendengar yang baik, berusaha memahami tanpa menghakimi, serta memberikan dukungan kepada sesama yang sedang menghadapi berbagai persoalan.
Melalui kegiatan ini, saya menyimpulkan bahwa proses menguatkan orang lain selalu berawal dari proses memahami diri sendiri. Ketika seseorang mampu menerima dirinya, menjaga kesehatan mentalnya, dan merawat relasi yang sehat dengan orang lain, ia akan lebih siap hadir sebagai sumber dukungan bagi sesamanya.
Karena itu, belajar menjadi konselor sebaya sejatinya bukan hanya belajar tentang orang lain, tetapi juga belajar menjadi manusia yang lebih peka, lebih empatik, dan lebih bijak dalam menjalani kehidupan. []











































