Mubadalah.id – Ninin Karlina merupakan aktivis dan ulama perempuan Muhammadiyah yang saat ini menjabat sebagai Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyaah Kabupaten Sukoharjo. Nasyiatul Aisyiyah organisasi perempuan muda Muhammadiyah yang berfokus pada isu perempuan dan anak. Ia juga aktif di Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Majelis Pembinaan Kader PP Aisyiyah, serta mengemban peran sebagai Ketua Koordinator Peace Generation Chapter Solo. Ia juga mengajar bahasa Arab dan Kemuhammadiyahan di Pondok Pesantren Muhammadiyah Imam Syuhada pada unit MTS dan SMK.
Progresif Memperjuangkan Isu Lingkungan
Fokus aktivitas Ninin mencakup isu perempuan, anak, kebencanaan, keberagaman, gender, dan perdamaian, yang ia jalani sebagai fasilitator, narasumber, maupun peserta. Di Nasyiatul Aisyah, ia mendorong wacana ekofeminisme, kesetaraan gender, dan pemberdayaan kepemimpinan perempuan sebagai agenda organisasi.
Dalam dakwahnya, berjudul “Puasa Ramadan sebagai Revolusi Ekologis: Menata Hati, Menjaga Bumi, Menyelamatkan Semesta”. Ninin banyak merefleksikan ayat-ayat dan pesan keislaman untuk penjagaan lingkungan.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-A‘raf ayat 56: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” Ayat ini menjadi peringatan agar manusia menjaga keseimbangan alam dan tidak merusaknya melalui keserakahan, gaya hidup boros, serta perilaku konsumtif.
Mari kita melihat kondisi bumi saat ini. Polusi udara semakin meningkat, hutan semakin berkurang, lautan dipenuhi sampah plastik, dan perubahan iklim semakin nyata kita rasakan. Semua itu menunjukkan bahwa bumi sedang menghadapi krisis ekologis dan manusia memiliki kontribusi besar terhadap kerusakan tersebut.
Dalam dakwahnya, ia mengajak umat untuk memanfaatkan Ramadan dapat menjadi momentum hijrah dan berbenah melalui berbagai upaya menjaga lingkungan. Salah satunya ialah membangun revolusi ekologis, yaitu perubahan dari pola konsumsi berlebihan menuju kesadaran lingkungan.
Memberdayakan Perempuan Muhammadiyah
Dalam wawancara, Ninin menjelaskan bagaimana kiprahnya terhadap isu perempuan.
Sebagai Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah, saya banyak bergerak pada isu perempuan, anak, lingkungan, dan gender. Salah satu fokus gerakan yang saya dorong adalah ekologi dan ekofeminisme melalui berbagai program seperti eco-pesantren, penggunaan pembalut kain, gerakan menanam pohon, edukasi lingkungan, hingga kampanye digital bertema lingkungan.
Selain itu, saya juga mendorong penguatan kepemimpinan perempuan. Saya berupaya membangun kesadaran bahwa perempuan memiliki ruang kontribusi yang luas, tidak hanya pada kerja-kerja domestik. Di Nasyiatul Aisyiyah, kami berupaya menghadirkan ruang agar perempuan dapat berkembang menjadi pemimpin, fasilitator, narasumber, pendakwah, maupun penggerak komunitas.
Di Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah, saya juga sering terlibat dalam pelatihan kepemimpinan perempuan, kajian ideologi, serta forum penguatan kapasitas kader, baik sebagai fasilitator, trainer, maupun peserta.
Kader Muda Progresif Muhammadiyah
Seluruh pendidikan formal Ninim berlangsung di lingkungan Muhammadiyah, mulai dari TK Aisyiyah, SD Muhammadiyah, MTS dan SMA Muhammadiyah di Ponpes Imam Syuhada dengan masa mondok enam tahun, hingga jenjang S1 Ushuluddin di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pendidikan formalnya diperkaya melalui keterlibatan aktif di berbagai lembaga non-formal seperti Rahima, Imparsial, Setara Institut, PSKP UGM, CISFOM UIN, serta pusat-pusat studi di berbagai perguruan tinggi.
Titik perubahan terbesar Ninin terjadi ketika Muhammadiyah mulai mendelegasikannya ke forum-forum lintas agama, budaya, dan latar belakang sekitar tahun 2010-an. Sebelumnya, tumbuh di lingkungan yang homogen membuatnya menyimpan prasangka terhadap perbedaan. Pengalaman lintas batas tersebut membukakan kesadarannya bahwa perbedaan justru menyimpan lebih banyak titik temu daripada titik seter, dan semua pihak pada dasarnya bergerak menuju kebaikan.
Ninin menyebut sejumlah figur inspiratif dari kalangan ulama dan cendekiawan Muhammadiyah, antara lain Prof. Ali, Ustadz Haidar Nasir, Prof. Mukti, Bu Nyai Rofiah, Badriah Fayumi, Nyai Walidah Dahlan, KH Ahmad Dahlan, AR Fahruddin, dan Yai Fakih Abdul Kodir. Keilmuan, kesederhanaan, konsistensi, serta karya-karya yang berorientasi pada solusi keumatan menjadi nilai utama yang ia teladani dari para tokoh tersebut
Kiprah Keulamaan
Perjalanan Ninin Karlina di dunia keislaman dimulai sejak masa mondok, meski pada fase awalnya terwujud melalui pendekatan yang tertutup dan konfrontatif. Ia pernah terlibat dalam gerakan dakwah Arimatea yang menyasar kalangan non-Muslim untuk diislamkan, serta pernah memasarkan buku-buku bertema jihad radikal. Ninin mengakui bahwa keterlibatannya saat itu berlangsung tanpa proses berpikir kritis, sekadar mengikuti arus lingkungan sekitarnya. Bahkan motivasi awalnya memasuki jurusan Ushuluddin pun berangkat dari keinginan untuk memahami kelemahan agama lain, bukan dari dorongan keilmuan yang murni.
Titik balik perjalanan keislamannya terjadi ketika Muhammadiyah melibatkannya secara langsung pada kolaborasi dengan Peace Generation Indonesia. Forum tersebut mempertemukannya dengan perspektif yang sama sekali berbeda. Mendorongnya untuk mempertanyakan pemahaman jihad dan dakwah yang selama ini ia yakini. Proses refleksi kritis itu mengantarkan Ninin pada transformasi mendasar, dari orientasi keislaman yang penuh prasangka menuju pemahaman Islam yang inklusif, damai, dan membuka ruang bagi keberagaman.
Perubahan tersebut kemudian mengalir deras ke berbagai bentuk kontribusi. Di bidang keulamaan, Ninin aktif mengisi kajian di beragam forum, mulai dari pengajian ibu-ibu, pengajian akbar, pimpinan cabang Muhammadiyah, lingkungan kampus, hingga forum-forum di luar jaringan Muhammadiyah. Topik yang ia sampaikan beragam, mencakup keislaman, ideologi, kemuhammadiyahan, parenting islami, serta parenting digital. Ia juga berkontribusi sebagai tim penulis buku fikih kebencanaan Muhammadiyah. Sebuah karya kolektif yang menjadi rujukan penting bagi penanganan bencana berbasis nilai-nilai keislaman.
Mengapresiasi Ulama Perempuan dengan Nilai-Nilai KUPI
Ninin Karlina memperjuangkan nilai ketauhidan melalui gerakan dakwah yang memuliakan manusia dan menjauhkan praktik keagamaan yang penuh kebencian. Ninin aktif mendorong kepemimpinan perempuan, penguatan kapasitas kader, serta ruang partisipasi publik bagi perempuan muda Muhammadiyah. Ia menghadirkan pelatihan kepemimpinan, kajian gender, dan perspektif mubadalah agar relasi laki-laki dan perempuan berjalan secara setara. Saling menghormati, serta memberi ruang kontribusi yang adil di ranah sosial maupun keagamaan.
Nilai kesemestaan ia taruh terhadap isu lingkungan dan ekofeminisme. Ia mengembangkan gerakan eco-pesantren, kampanye pengurangan sampah, penggunaan pembalut kain, penanaman pohon, serta edukasi lingkungan berbasis komunitas. Upaya tersebut memperlihatkan bagaimana ia sangat peduli terhadap keberlanjutan bumi. Sekaligus menghubungkan isu perempuan, kesehatan, dan kelestarian alam sebagai bagian dari spiritual manusia. []












































