Mubadalah.id – Nahdlatul Ulama (NU) menilai bahwa upaya pelestarian lingkungan harus dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan berbagai pihak. Organisasi ini menekankan pentingnya pendekatan keagamaan dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap krisis ekologis.
NU berpandangan bahwa nilai-nilai Islam mengajarkan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Prinsip ini menempatkan manusia bukan sebagai penguasa alam, melainkan sebagai penjaga yang harus merawat dan melindungi lingkungan.
Pembahasan isu lingkungan dalam berbagai forum resmi NU menunjukkan keseriusan organisasi dalam menanggapi persoalan tersebut. Selain menjadi wacana, nilai-nilai ini juga mereka dorong untuk diterapkan dalam praktik sehari-hari warga Nahdliyin.
Para ulama menilai bahwa kerusakan alam yang terjadi saat ini merupakan hasil dari pola konsumsi yang tidak berkelanjutan. Oleh sebab itu, perubahan perilaku masyarakat lebih penting daripada sekadar regulasi.
NU juga menyoroti bahwa dampak kerusakan lingkungan sering kali paling dirasakan oleh kelompok rentan, termasuk masyarakat miskin di pedesaan. Bahkan bencana ekologis memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi.
Pendekatan berbasis nilai keagamaan menjadi paling efektif karena mampu menyentuh aspek moral dan spiritual masyarakat. Pesan-pesan pelestarian alam tidak hanya mereka pahami sebagai kewajiban sosial, tetapi juga sebagai ibadah.
Dengan jaringan pesantren dan komunitas yang luas, NU memiliki potensi besar untuk menyebarkan kesadaran lingkungan hingga ke tingkat akar rumput. Upaya ini mampu menciptakan perubahan jangka panjang.
NU menegaskan bahwa menjaga alam bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan kewajiban kolektif seluruh umat manusia.
Sumber tulisan: Buku Membumikan Fatwa KUPI: Pembelajaran dari Pengelolaan Sampah di Pesantren.


















































