Mubadalah.id – Tidak semua pernikahan yang sedang bermasalah tertandai dengan pertengkaran besar. Ada pasangan yang masih makan bersama, mengantar anak ke sekolah, menghadiri acara keluarga, bahkan masih mengunggah foto kebersamaan di media sosial. Dari luar, semuanya tampak berjalan seperti biasa.
Namun, suasana yang terasa di dalam rumah sering kali berbeda. Percakapan semakin singkat, perhatian mulai berkurang, dan kehangatan yang dulu terasa perlahan menghilang. Suami dan istri tetap menjalankan perannya masing-masing, tetapi hubungan itu tidak lagi menjadi ruang untuk saling bercerita, saling menguatkan, atau saling bertumbuh.
Kondisi seperti ini mulai banyak terbahas dengan istilah quiet quitting. Istilah tersebut mula-mula terkenal di dunia kerja untuk menggambarkan seseorang yang tetap bekerja sesuai tanggung jawabnya, tetapi tidak lagi memiliki keterikatan emosional terhadap pekerjaannya. Dalam relasi pernikahan, istilah ini kita gunakan untuk menggambarkan pasangan yang masih mempertahankan rumah tangga, tetapi telah berhenti mengupayakan hubungan mereka.
Istilah ini tentu bukan konsep dalam ajaran Islam. Namun, fenomena yang tergambar dapat menjadi bahan refleksi tentang bagaimana sebuah pernikahan perlahan kehilangan kehangatan ketika kesalingan tidak lagi terawat.
Hubungan Tidak Menjadi Jauh dalam Satu Malam
Hubungan yang renggang hampir tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Jarak emosional biasanya tumbuh melalui peristiwa-peristiwa kecil yang terus berulang. Keluhan yang tidak tertanggapi, janji yang sering terabaikan, atau percakapan yang selalu berakhir tanpa penyelesaian dapat meninggalkan luka yang pelan-pelan menumpuk.
Pada awalnya, seseorang mungkin masih berusaha menjelaskan apa yang ia rasakan. Ia berharap pasangan mau mendengar, memahami, atau sekadar memberikan perhatian. Ketika harapan itu berulang kali tidak mendapat respons, semangat untuk berbicara pun mulai memudar. Bukan karena tidak lagi memiliki perasaan, melainkan karena merasa percakapan tidak akan mengubah apa pun.
Tidak sedikit pasangan yang akhirnya memilih menjalani hari seperti biasa. Mereka tetap berbagi rumah, tetap memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi hubungan emosional yang dahulu mengikat keduanya semakin menipis. Diam terasa lebih mudah daripada memulai percakapan yang teryakini tidak akan menemukan jalan keluar. Inilah yang membuat quiet quitting sering kali tidak kita sadari. Tidak ada ledakan konflik, tetapi hubungan perlahan kehilangan denyutnya.
Ketika Pernikahan Hanya Menjadi Rutinitas
Salah satu tanda yang paling mudah kita kenali ialah ketika pernikahan berubah menjadi daftar kewajiban. Suami bekerja, istri mengurus rumah atau juga bekerja, anak-anak terpenuhi kebutuhannya, tagihan terbayar tepat waktu, dan semua tanggung jawab terlaksana.
Akan tetapi, hubungan suami istri hanya berhenti pada pembagian tugas. Percakapan yang dulu terpenuhi cerita berubah menjadi koordinasi. Telepon hanya berisi pertanyaan, “Sudah makan?” atau “Pulang jam berapa?” bukan lagi ungkapan perhatian yang lahir dari keinginan mengetahui keadaan pasangan.
Lambat laun, rumah memang tetap berdiri, tetapi kehangatannya memudar. Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri. Ada yang tenggelam dalam pekerjaan, ada yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama gawai, ada pula yang memilih diam agar tidak memicu pertengkaran.
Keadaan seperti ini sering dianggap wajar karena tidak ada konflik yang tampak. Padahal, hubungan yang kehilangan komunikasi justru lebih rentan menyimpan kekecewaan yang tidak pernah tersampaikan.
Mubadalah Mengajarkan Relasi yang Terus Dirawat
Islam memandang pernikahan bukan sekadar ikatan hukum antara laki-laki dan perempuan. Pernikahan merupakan ikatan yang terbangun di atas mawaddah dan rahmah, cinta yang diwujudkan dalam kepedulian serta kasih sayang yang terus terpelihara. Al-Qur’an juga menggambarkan suami dan istri sebagai pakaian bagi satu sama lain.
Pakaian tidak hanya menutup tubuh, tetapi juga melindungi, memberi rasa nyaman, dan menjaga kehormatan pemakainya. Gambaran ini menunjukkan bahwa hubungan suami istri semestinya menghadirkan rasa aman bagi kedua belah pihak.
Perspektif mubadalah memperkuat pemahaman tersebut. Relasi dalam keluarga tidak dibangun dengan logika siapa yang paling banyak berkorban atau siapa yang memiliki kuasa lebih besar. Yang ditekankan ialah kesediaan untuk saling memenuhi hak dan menjalankan tanggung jawab secara timbal balik.
Kesalingan juga tampak dalam hal-hal sederhana. Mendengarkan pasangan hingga selesai berbicara, mengapresiasi usaha yang selama ini mungkin kita anggap biasa, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, serta menyampaikan terima kasih atas perhatian yang diberikan. Tindakan-tindakan kecil inilah yang menjaga hubungan tetap hidup.
Merawat Hubungan Sebelum Terlambat
Banyak orang mengira keretakan rumah tangga selalu berawal dari perselingkuhan atau konflik besar. Nyatanya, tidak sedikit hubungan yang perlahan menjauh hanya karena berhenti memberikan perhatian kecil. Sebuah hubungan tidak akan bertahan hanya dengan status suami dan istri.
Hubungan membutuhkan percakapan, penghargaan, empati, dan kesediaan untuk terus mengenal pasangan, meski telah hidup bersama selama bertahun-tahun. Sesekali, tidak ada salahnya berhenti dari kesibukan dan bertanya kepada pasangan, “Apa yang sedang kamu rasakan?” Pertanyaan sederhana seperti itu dapat membuka ruang dialog yang selama ini tertutup oleh rutinitas.
Mubadalah mengajarkan bahwa cinta bukan hanya soal perasaan yang hadir di awal pernikahan. Cinta adalah ikhtiar yang terus kita perbarui melalui perhatian, penghormatan, dan kepedulian yang kedua belah pihak lakukan.
Rumah yang hangat bukanlah rumah yang tidak pernah memiliki masalah. Rumah yang hangat ialah rumah yang terhuni oleh dua orang yang tetap memilih saling mendengarkan, saling memahami, dan saling mengusahakan, bahkan ketika rasa lelah datang silih berganti. []










































