Mubadalah.id – Pada Juni 2025, Kompas.com memberitakan kisah Denis (35), seorang pekerja asal Citeureup, Bogor. Setelah mengalami stroke ringan, kemampuan berjalan Denis menurun. Ia masih ingin bekerja, masih berusaha mencari nafkah, dan masih memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya. Namun, tidak lama kemudian, ia kehilangan pekerjaannya.
Stroke memang mengubah tubuh Denis. Akan tetapi, yang lebih cepat berubah adalah cara lingkungan memandang dirinya. Tubuh yang sebelumnya dianggap produktif mendadak diperlakukan seolah tidak lagi memiliki tempat. Kisah Denis mudah mengundang rasa iba. Namun, jika berhenti pada simpati, kita justru kehilangan pelajaran terpenting dari peristiwa itu.
Perspektif Mubadalah mengajarkan bahwa pengalaman manusia tidak pernah berhenti pada dirinya sendiri. Pengalaman seseorang selalu mengandung pelajaran bagi sesamanya. Karena itu, kisah Denis bukan sekadar kisah tentang seorang penyintas stroke.
Kisah itu mengajak kita bertanya, bagaimana jika suatu hari tubuh yang berubah adalah tubuh kita sendiri? Pertanyaan itu penting karena kerentanan normalitas dan disabilitas bukan pengalaman sebagian manusia. Kerentanan adalah bagian dari perjalanan hidup setiap orang.
Normalitas dan Disabilitas Bukan Dua Dunia yang Berbeda
Sejak kecil kita diajarkan menjadi manusia yang sehat, kuat, mandiri, dan produktif. Nilai-nilai itu tentu penting. Namun, tanpa kita sadari, nilai tersebut juga membentuk keyakinan bahwa kondisi fisik akan selalu bekerja sebagaimana mestinya.
Kita pergi bekerja tanpa membayangkan bahwa suatu hari akan membutuhkan tongkat. Tangga yang hari ini kita lewati dengan mudah bisa menjadi tantangan ketika lutut mulai kehilangan kekuatannya. Bahkan membaca tulisan di layar pun tidak selalu menjadi hal yang sederhana ketika penglihatan berubah karena usia atau penyakit.
Dari keyakinan itulah lahir anggapan bahwa difabel adalah “mereka”, sedangkan kita adalah “yang normal”.
Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Badan Pusat Statistik melalui Potret Penyandang Disabilitas di Indonesia: Hasil Long Form SP2020 menunjukkan bahwa hambatan dalam melihat, mendengar, berjalan, mengingat, dan mengurus diri meningkat seiring bertambahnya usia. UNFPA Indonesia juga mencatat bahwa Indonesia sedang menuju ageing society.
Dalam beberapa dekade mendatang, jumlah penduduk lanjut usia akan terus meningkat. Bersamaan dengan itu, semakin banyak orang akan mengalami perubahan fungsi tubuh sebagai bagian dari perjalanan hidupnya. Data tersebut tidak sedang berbicara tentang masa depan kelompok difabel. Data itu sedang berbicara tentang masa depan kita.
Hari ini, waktu menjadi satu-satunya pembeda antara Denis dan kita, bukan martabat ataupun kemanusiaannya. Kesadaran inilah yang menjadi inti ketersalingan dalam Mubadalah. Hari ini kita mungkin berada pada posisi yang memberi bantuan. Esok hari, kita bisa berada pada posisi yang membutuhkan bantuan. Tidak ada manusia yang benar-benar mandiri sepanjang hidupnya.
Ketika Tubuh Berubah, Mengapa Dunia Tidak Ikut Berubah?
Jika perubahan fungsi tubuh merupakan bagian dari kehidupan manusia, mengapa masyarakat masih memperlakukan difabel sebagai kelompok yang berbeda?
Pemikir disabilitas Lennard J. Davis menjelaskan bahwa masyarakat modern membangun ukuran tentang tubuh yang dianggap normal, lalu menjadikannya sebagai standar bagi semua orang. Akibatnya, masyarakat meletakkan persoalan pada individu ketika seseorang tidak lagi memenuhi ukuran tersebut, bukan pada sistem yang gagal mengakomodasi keberagaman manusia.
Pengalaman Denis memperlihatkan persoalan itu. Stroke memang mengubah kondisi fisiknya. Namun, Denis kehilangan pekerjaan bukan semata-mata karena stroke. Lingkungan kerja tidak lagi menyediakan ruang bagi pekerja yang kondisi fisiknya berubah.
Pengalaman Denis juga bukan kasus yang berdiri sendiri. Data ketenagakerjaan di Indonesia menunjukkan bahwa partisipasi kerja penyandang disabilitas masih berada di bawah penduduk non-disabilitas. Hambatan itu tidak selalu muncul karena kondisi fisik seseorang. Banyak tempat kerja masih menggunakan satu ukuran produktivitas yang seragam.
Fenomena yang sama juga muncul di berbagai ruang kehidupan. Ketika pengguna kursi roda tidak dapat memasuki sebuah gedung, kita lebih sering menyalahkan kondisi fisiknya daripada mempertanyakan bangunan yang hanya menyediakan tangga.
Ketika mahasiswa difabel membutuhkan penyesuaian saat ujian, sebagian orang masih menganggapnya sebagai perlakuan istimewa, bukan sebagai upaya menghadirkan kesempatan belajar yang setara. Persoalannya, selama ini kita lebih sering meminta seseorang menyesuaikan diri dengan sistem daripada mendorong sistem menyesuaikan diri dengan keberagaman manusia.
Mubadalah Mengoreksi Cara Pandang Kita
Cara pandang seperti ini mengingatkan kita pada Surah ‘Abasa. Ketika Abdullah bin Ummi Maktum datang meminta bimbingan kepada Nabi Muhammad saw., Al-Qur’an tidak menegur sahabat tunanetra tersebut. Sebaliknya, Al-Qur’an mengoreksi cara Nabi merespons situasi saat itu. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa yang perlu berubah sering kali bukan orang yang datang dengan kebutuhannya, melainkan cara kita memandang dan merespons mereka.
Di sinilah perspektif Mubadalah menemukan maknanya. Prinsip keadilan hakiki mengingatkan bahwa keadilan tidak berarti memperlakukan semua orang dengan cara yang sama. Keadilan berarti memastikan setiap orang memperoleh kesempatan yang adil sesuai kebutuhannya. Dalam pengalaman Denis, keadilan berarti membuka ruang agar perubahan kondisi fisiknya tidak menghilangkan kesempatan untuk tetap bekerja dan hidup bermartabat.
Prinsip ketersalingan mengajak kita berhenti memandang Denis sebagai “orang lain”. Pengalamannya bukan pengecualian. Pengalaman itu merupakan salah satu kemungkinan dalam perjalanan hidup setiap manusia. Hari ini Denis mengalaminya. Esok hari, usia, penyakit, atau kecelakaan dapat membawa pengalaman serupa kepada siapa pun.
Prinsip ma’ruf mengingatkan bahwa kondisi fisik tidak pernah menentukan martabat manusia. Sayangnya, masyarakat modern sering mengukur nilai seseorang berdasarkan produktivitasnya. Ketika produktivitas menurun, penghargaan terhadap manusianya ikut menyusut. Cara pandang inilah yang perlu kita ubah. Martabat manusia tidak bergantung pada seberapa cepat ia berjalan, seberapa lama ia bekerja, ataupun seberapa banyak hasil yang mampu ia berikan.
Barangkali, selama ini kita keliru memahami disabilitas. Kita menganggapnya sebagai identitas kelompok tertentu, padahal disabilitas merupakan bagian dari kenyataan hidup manusia.
Karena itu, memperjuangkan hak-hak difabel bukan sekadar membela kelompok minoritas. Kita sedang membangun masyarakat yang siap menghormati setiap orang ketika kondisi fisiknya berubah. Yang membutuhkan masyarakat yang inklusif bukan hanya penyandang disabilitas hari ini, tetapi juga diri kita di masa depan.
Pada akhirnya, yang perlu kita pertahankan bukanlah anggapan bahwa tubuh akan selalu normal. Yang perlu kita pertahankan ialah komitmen untuk memuliakan setiap manusia dalam setiap fase kehidupannya.
Hari ini kita mungkin menjadi pihak yang memberi bantuan. Esok hari, kita bisa menjadi orang yang membutuhkan uluran tangan yang sama. Di situlah ketersalingan menemukan maknanya, bukan sebagai konsep yang abstrak, melainkan sebagai kenyataan hidup setiap manusia.
Sebab, yang sementara bukanlah martabat manusia. Yang sementara adalah normalitas yang selama ini kita anggap permanen. []
*)Artikel ini merupakan hasil dari kegiatan mubadalah goes to community kerjasama media mubadalah dengan UIN kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo pada 11-12 Juni 2025








































