Mubadalah.id – Pembahasan tentang sampah lingkungan dan dampaknya berlangsung disebuah lembaga tepatnya PCNU yang bertempat di Kota Jember. Acara ini digelar oleh Pengurus cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) yang bekerjasama dengan Mubadalah.id, acara pelatihan kepenulisan dan kreator ini terlaksana selama dua hari. Tepatnya pada 20 s/d 21 Juni 2026.
Saya sebagai peserta yang mengikuti acara ini sedikit tersentil dengan adanya isu perempuan dan sampah, hingga kemudian saya kaitkan dengan pembahasan dari ibu Dina Putu Ayu Kristianti, ketua Sobung Sarka Jember. Selain itu, saya kaitkan juga dengan hasil wawancara lapangan di Sekolah Tinggi al-Kitab Jember.
Sekolah Tinggi al-Kitab Jember melakukan penayangan film menolak punah, di mana film tersebut memberikan pelajaran tentang bagaimana sebenarnya maysarakat tidak menyadari terkait politik industri, di mana korbannya paling banyak adalah perempuan.
Fakta tersebut memperlihatkan bagaimana sebenarnya perempuan sebagai penghasil dan pengelola sampah sekaligus, menjadi peran ganda. Peran ini perlu kita imbangi dalam kehidupan sehari hari. Riset ini saya tuliskan dalam website media berita di Agitasi .id
Dapur sebagai Sumber Utama Penghasil Sampah
Dalam kehidupan sehari hari dapur tidak luput sebagai penghasil sampah dari kebutuhan pokok manusia, seperti sisa makanan, minuman, atau bahkan dari segi fashion yakni baju bekas, make up tak terpakai, dan lain sebagainya. Tak heran jika kendali pemisahan antara barang atau makanan yang sudah tak layak dengan yang masih layak ada di tangan perempuan, terlebih lagi seorang ibu rumah tangga.
Edukasi kecil terkait pengelolaan sampah berasal dari rumah sendiri, akan tetapi seiring berjalannya waktu perempuan mulai tidak dapat menempatkan diri. Perempuan cenderung tertipu dengan politik industri, dengan alasan tekanan ekonomi yang semakin tinggi, mereka lebih mencari harga ramah kantong tanpa memastikan kualitas bahan.
Riset yang saya lakukan tertuang dalam agitasi.id,. Tulisan ini membahas tentang fast fashion yang menjadi penyakit utama gen z mengikuti budaya Fomo (fear of missing out). Ini merupakan taktik politik industri di mana pakaian mereka buat semakin bagus tapi semakin rendah kualitas, sehingga konsumen mendapat barang cepat rusak yang berakhir pada tempat sampah. Terutama penggunaan pakaian impor.
Sampah baju bekas ini menjadi limbah indutri yang dapat merusak kehidupan lingkungan sekitar, terutama biota air. Menurut Data Dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) yang saya dapat dari postingan berita di akun Instagram @bisnishijau.idsurvey pada 27 Januari 2026, bahwa persentase limbah tekstil di Indonesia menyumbang sekitar 2,63% dari total seluruh sampah.
Fear Of Missing Out (FOMO) Kehidupan terhadap Barang Impor
FOMO adalah singkatan dari fear of missing out, artinya rasa cemas atau takut tertinggal momen penting, tren atau informasi baru. Terutama saat melihat aktivitas orang lain di media sosial.
Budaya FOMO sering terjadi pada anak remaja, entah itu dari segi fashion ataupun dari hal yang lain. Apalagi saat ini dengan adanya media sosial, penjualan barang impor yang menggugah keinginan konsumen untuk membeli lebih tinggi.
Direktur Ecoton Daru Setyorini mengemukakan, sampah impor yang masuk ke Indonesia sejak tahun 1970-an lebih banyak dari jenis kertas. Beliau berpendapat bahwa pengumpulan sampah di negara maju sudah terpilah, tetapi mereka tidak mau mendaur ulang.
Akhirnya mereka membuang sampahnya ke negara berkembang dengan alasan untuk didaur ulang. Sebenarnya kita mengalami penjajahan karena ekspor sampah ini. Pendapat ini tertuang dalam website Ecoton yang terbit pada 1 Oktober 2024.
Sampah yang diimport dengan bahasa didaur ulang bukanlah sampah kotor. Melainkan sampah baju (baju bekas) yang masih layak pakai dengan kualitas rendah tapi bagus. Hal inilah yang menjadi bahan pemantik FOMO.
Maka sebagai seorang perempuan kita harus bijak dalam memilah dan memilih bahan baku maupun kebutuhan pokok. Hal ini agar kita bisa menjadi bagian dari agent of change terutama untuk mengatasi krisis sampah di Indonesia.
Membangun Pengelolaan Sampah dengan Benar
Di balik kerasnya serangan fast fashion, perempuan juga menunjukkan kemampuan yang luar biasa sebagai agent of change. Seperti ibu rumah tangga yang bergerak melalui kegiatan bank sampah, pelatihan daur ulang, dan kampanye pengurangan sampah plastik. Selain itu mereka berhasil membangun kesadaran kolektif di masyarakat.
Kesadaran ini dapat kita mulai dari lingkup kecil terlebih dahulu, seperti memberikan edukasi terhadap anak terkait larangan hidup berlebihan. Sebagaimana dalam hadis yang menggambarkan bahwa ciri orang beriman salah satunya memilih hidup sederhana. Dalam artian membeli apa yang ia butuhkan dan tidak membiasakan FOMO.
Al-Qur’an menegaskan bahwa sederhana adalah sifat orang beriman:
يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ
“Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih lebihan. Sesungguhnya allah tidak menyukai orang – orang yang berlebihan.” (QS al-’Araf : 31)
Keterlibatan seorang perempuan dalam gerakan lingkungan yang mulai dari keluarga, menunjukan bahwa mereka bukan sekedar pelaksana kerja-kerja domestik. Mereka adalah pemimpin komunitas, pendidik lingkungan, sekaligus penggerak perubahan sosial yang mampu menghubungkan kepentingan keluarga dengan kebutuhan pelestarian lingkungan.
Peran tersebut menjadi bukti bahwa upaya menjaga lingkungan hidup tidak dapat kita lepaskan dari kontribusi perempuan. Mereka hadir di garis depan dalam menghadapi persoalan sampah yang semakin kompleks di berbagai daerah. []










































