Mubadalah.id – Kadang ada perempuan yang sebenarnya ingin menjarangkan kehamilan atau membatasi jumlah anak, tetapi tidak dapat menggunakan program KB seperti perempuan lainnya. Ada berbagai alasan yang menyebabkan hal tersebut, antara lain:
Pertama, ia tidak dapat memperoleh informasi yang memadai tentang berbagai metode KB. Kedua, sebagian metode KB beserta alat-alatnya tidak mudah diperoleh atau harganya terlalu mahal baginya.
Ketiga, tidak tersedia pos pelayanan KB atau Puskesmas di daerah tempat tinggalnya, atau tenaga kesehatan setempat belum menguasai keterampilan pelayanan KB.
Keempat, suami atau pasangannya secara tegas menolak penggunaan KB. Kelima, agama yang dianutnya mengharamkan KB.
Karena itu, perlu dilakukan berbagai upaya untuk memeratakan pengetahuan dan pelayanan KB bagi semua perempuan. Sekaligus mendorong partisipasi mereka dalam program KB.
Usahakan Dapat Pendidikan tentang KB
Sediakan informasi seluas-luasnya mengenai seluk-beluk KB kepada seluruh anggota masyarakat, termasuk anak-anak. Program pendidikan ini dapat menunjukkan manfaat dan kebaikan KB serta membantu pasangan memilih metode yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.
Barangkali Anda dapat memulainya dari lingkungan terdekat, misalnya dengan mengadakan diskusi antarsesama perempuan atau bersama pasangan masing-masing. Selalu sertakan pula informasi mengenai penyebaran dan pencegahan penyakit yang menular melalui hubungan seksual.
Usahakan agar biaya ber-KB serendah mungkin sehingga dapat dijangkau oleh semua orang. Mintalah tenaga kesehatan setempat yang telah terampil dalam pelayanan KB untuk membentuk pusat kesehatan perempuan. Selain itu, dorong agar pos kesehatan terdekat memasukkan layanan KB ke dalam lingkup pelayanannya.
Latihlah tenaga pendidik dan pelatih yang berasal dari kalangan laki-laki. Hal ini penting karena masih banyak suami atau pasangan yang belum memahami KB dan menganggapnya hanya sebagai keinginan perempuan yang suka “macam-macam” atau sekadar ikut-ikutan. Akibatnya, mereka menolak ikut serta atau bahkan melarang istrinya menggunakan KB.
Cara terbaik untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menyebarluaskan informasi tentang KB melalui kaum laki-laki sendiri, dan akan lebih baik lagi jika dilakukan bersama-sama dengan perempuan.
Bantulah mereka menyadari peran dan tanggung jawab mereka sebagai suami, pasangan, ayah, atau calon ayah dalam menjaga kesehatan keluarga yang dapat kita mulai dari perencanaan kehamilan melalui KB.
Mengubah Cara Pandangan Masyarakat
Secara umum, pendidikan semacam ini kita perlukan untuk mengubah pandangan masyarakat mengenai “kejantanan”, sehingga laki-laki dapat berperan aktif dalam pelaksanaan program KB. Sekali lagi, sertakan pula informasi mengenai penyakit-penyakit yang menular melalui hubungan seksual.
Bila memungkinkan, mintalah keterlibatan tokoh adat dan tokoh keagamaan setempat. Jika metode-metode KB dapat kita jelaskan sebagai sesuatu yang sejalan dengan nilai-nilai agama. Maka metode tersebut akan lebih mudah masyarakat terima.
Ketika berbicara tentang KB di tengah masyarakat, selalu ingat dan ingatkan pula orang-orang di sekitar Anda bahwa KB bukan hanya penting bagi kesehatan dan kesejahteraan perempuan. KB juga penting bagi kesehatan dan kesejahteraan seluruh anggota keluarga serta masyarakat secara keseluruhan. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 281.











































